Kisah Ana

Kisah Ana - Kenalkan namaku Ana Melinda, usia 24 th, single, tinggi 160 cm ,berat 48 kg, dada 34 B, kulit putuh, wajahku semi oriental dengan rambut ikal panjang sebahu. Kalau kata orang aku termasuk orang yg cantik dan istimewa, dan tdk sedikit yg bilang aku ini seksi, bagiku seksi merupakan penilaian positif untuk fisik seorang wanita, kira-kira begitulah komentar orang-orang yg mengenalku, kalau komentar pacarku sih…lebih hebat lagi jadi narsis kalau tak jelasin disini, soalnya pacarku Bondan namanya menurutku paling pintar memuji dan menyanjung diriku, entah itu memang sesuai kenyataan atau hanya buat nyenengin, aku nggak peduli yg penting aku jadi merasa percaya diri.


Cukup sudah perkenalanku rasanya nggak bagus kalau terlalu panjang. Kita mulai dengan cerita sex ini.
Hari sabtu aku libur kerja makanya aku sengaja bangun siang, Jam menunjukkan pukul 9 pagi, kubuka mataku sambil menggeliat Selimutku tersingkap hingga tubuh bugilku terlihat jelas, aku memang suka tidur tanpa busana selembar pun.
Hari ini malas sekali rasanya, kubuka tirai dan jendela kamarku agar udara segar dapat masuk.
Diluar kamar terdengar beberapa teman kosku sudah pada ngobrol rame di depan kamar Roy (29), tepat di kamar sebelahku, selain itu ada 4 laki-laki penghuni kos kamar bawah.
Mereka memang sering ngobrol di depan kamar Roy sambil menikmati kopi dan rokok, kadang aku merasa risih karena berada diantara para lelaki, apalagi mereka sering melihatku bahkan tatapan matanya seperti menelanjangiku, apalagi sudah kebiasaanku aku sering memakai baju apa adanya tanpa menggunakan BH dan celana dalam. aku yakin mereka tahu hal itu, tapi aku nggak tahu apakah mereka juga tahu kebiasaanku tidur telanjang.
Kebiasaan hidupku yg demikian terbentuk sejak aku pacaran sama Bondan, teman kantorku yg sekarang dipindah ke kota Solo masih di perusahaan yg sama. Selama berpacaran dengan Bondan, sering kali aku diminta berpakaian seksi dan tdk mengenakan BH karena dibilang akan terlihat lebih seksi dan payudaraku terlihat lebih indah. Dengan disanjung seperti itulah maka aku rela tdk mengenakan BH karena sebenarnya aku memang termasuk perempuan yg suka disanjung.
Awalnya aku hanya berani berpakaian seksi dan tdk mengenakan BH hanya kalau jalan bareng dengan Bondan, namun karena terbiasa maka akirnya aku malah meninggalkan BH sebagai pelengkap busanaku. Dan setelah terbiasa dengan tanpa BH selanjutnya aku diminta tdk memakai celana dalam, awalnya sama dengan acara lepas BH, aku merasa risih, namun karena terbiasa maka aku juga meninggalkan CD sebagai pelengkap busanaku, akhirnya tiap hari aku tak pernah memakai BH dan CD dan sering memakai pakaian ala kadarnya meskipun tdk ada Bondan, karena akhirnya aku sendiri merasa nyaman dan merasa bangga dengan kemolekan tubuhku karena sering disanjung sama Bondan, dan Bondan pun tdk keberatan aku tampil seksi dan menggoda meski ia berada jauh di Solo dan aku di Surabaya.
Masa pacaran yg kulalui dengan Bondan memang sudah sampai pada hubungan intim, making love (ML) atau ngent*t sudah jadi menu utama setiap kami ketemu, bahkan aku akrab dengan kata-kata jorok di hal porno akibat dari pergaulanku dengan Bondan, dan aku dan Bondan menikmatinya karena bisa menambah gairah hubunganku dengan Bondan. Namun hanya dengan Bondan saja aku pernah melakukan, tdk pernah dengan laki-laki lain atau pacar-pacarku sebelumnya.
Masih dengan berbugil ria, kubereskan tempat tidurku, aku nggak pernah takut bakal ada yg ngintip tubuhku karena kamarku dipojok, dan nggak bakal ada yg lewat depan kamarku kecuali mau berkunjung ke kamarku. Setelah selesai kuraih daster digantungan dan langsung kupakai. Daster yg sangat minim dan seksi, model terusan longgar hanya sampai ke pangkal paha, potongan dadanya sangat rendah hingga belahan susuku dapat terlihat jelas dan kadang seolah olah susuku terlihat menyembul seperti hendak lepas keluar. Kainnya yg tipis membuat puttingku tercetak jelas.
Dengan model daster yg demikian aku cuek saja membuka pintu dan keluar kamar sambil membawa sapu untuk membersihkan depan kamarku. Memang seperti ada sisi eksibisionis atau suka memamerkan tubuh dalam diriku, nggak tahu kenapa sepertinya pengaruh perlakuan Bondan padaku sehingga aku sangat senang jika ada orang melihat dan mengagumi tubuhku.
“pagi…wah udah pada asyik ngopi ya…” sapaku ke anak2 kos yg pada nongkrong
“iya nih…baru bangun ya…nyenyak dong tidurnya” timpal Roy sambil matanya terlihat jelalatan memandang tubuhku.

Bagiku sudah tdk asing lagi, karena sudah hampir setahun ini aku tinggal di tempat kos ini dan tiap hari menemui suasanya seperti ini.
“iya Roy nyenyak banget habis cape banget tadi malem lembur” jawabku sambil terus menyapu.
Aku terus menyapu sambil menanggapi obrolan teman-teman kosku. Aku memang selalu berusaha ramah kepada penghuni kos yg lain.
Di tempat kosku total ada 8 kamar kos, 6 kamar di bawah dan 2 kamar di atas, yaitu kamar Roy yg bekerja sebagai Detailer produk obat-obatan dan satu lagi tentu saja kamarku, penghuni kos disini campur, di bawah dihuni 2 cewek, Endang (24) yg bekerja sebagai teller bank swasta, anaknya alim dan berjilbab, satu lagi namanya Niken (20) yg masih mahasiswi baru, mereka berdua tinggal dalam satu kamar Sedangkan penghuni cowok kamar bawah ada 6, Floren (24) dan Pulano (25) tinggal dalam satu kamar, Dua-duanya mahasiswa tingkat akhir dan berasal dari seberang timur sana, si Floren berprawakan besar, brewokan dan badanya gede berkulit hitam, sedangkan Pulano lebih kurus dan tampangnya bersih meski kulitnya sama hitamnya.
Kemudian penghuni lain yaitu si Kamto (31) dan Bendul (29) yg jadi montir di sebuah bengkel sepeda motor, Totok (31) bekerja sebagai supir Bank swasta, dan yg terakhir Sudar (28) yg bekerja sebagai scurity di tempat yg sama dengan tempatku bekerja, dari Sudar inilah aku dapat info tempat kos ini.
Dengan santainya aku terus menyapu sampai depan kamar Roy dimana para cowok lagi pada asyik nongkrong. Memang aku sering membersihkan bagian teras lt2 ini karena Cuma aku dan Roy yg tinggal di atas, jadi nggak mungkin mengandalkan si Roy untuk ikut andil membersihkan karena ia termasuk orang yg malas dan jorok, makanya mending kubersihkan juga depan kamarnya daripada terlihat kotor. Aku juga suka cuek jika harus membungkukkan badanku untuk menghalau debu2 yg ada di bawah kursi tempat mereka duduk. Kontan saja kondisi ini sering memperlihatkan susuku yg tergelantung bebas dibalik dasterku.
Tentu saja semua cowok yg lagi pada nongkrong langsung pada mupeng, biasanya mereka akan mengajakku ngobrol berlama-lam dengan harapan acara menyapu Ana tdk cepat selesai.
”wah jadi ga enak nih disapuin segala” kata Roy
”Sante aja…kan sapu menyapu urusan wanita, lagian kan udah kegiatan rutin” jawabku sambil melempar senyum
”Hari ini libur ya Na?” tanya Roy
”Iya Roy”
”Acara mo kemana neh?” Bendul ikut membuka percakapan
”Gak tahu nih, lom punya acara, paling sante di rumah aja, habis cape sih kemarin lembur, pengenya sih mau pijit tapi kemarin Mbok Mirah nggak ada katanya lagi ke madiun sampe Minggu depan”

”Tak pijitin mau nggak Na” timpal Bendul
”Nggak ah, nggak berani aku, ntar malah terjadi hal yg nggak nggak” jawabku sambil ketawa
”Soalnya aku juga belum pernah dipijit ama laki-laki sih…takut” lanjutku, nggak kebayang deh dipijit ama Bendul, amit-amit pikirku, bukan kenapa-napa, habis penampilan Bendul tuh serem, membayangkan dipijit sama dia membuat bergidik.

”Knapa musti takut…dijamin enak kok” sela Bendul
”Nggak ah…lihat tampangmu aku ga percaya kamu bisa mijit”
”Ya udah apa pijit sama pak Tikno aja, tukang pijit gang sebelah…enak kok orangnya udah tua, umurnya 51 th, jadi ga bakal macem-macem, gimana?” Tawar si Roy

”Nggak ah..takut”
”ga papa Na…aku udah langganan kok pijit sama dia…enak pijitannya”terang Roy
”mm…ntar gampanglah tak pikir-pikir dulu, soalnya suer aku takut belum pernah dipijit ama laki-laki” kataku.
”percaya sama aku dah…ga papa…ntar kalo perlu kita ikut jagain biar dia ga berani macam-macam” kata Roy lagi
”Enak aja…ntar malah kalian lagi yg macam-macam” kataku sambil tertawa sambil meletakkan sapuku lantaran semua lantai sudah terlihat bersih.

Kemudian aku melangkah masuk, namun sebelum masuk aku bertanya ke Roy ”emang rumah pak Tikno dimana Roy?”
”di gang sebelah…kalau lo mau entar gw panggilin” jawab Roy
”bener-bener orang baik kan?”
”Iya lah…sumpah” jawab Roy
”ya udah ntar panggilin ya” pintaku, sepertinya tak ada salahnya dicoba, habis badanku pegel banget kemarin habis kerja lembur.
”siippp…”timpal Roy

Kemudian aku masuk kamar sementara para cowok terdengar pada saling berbisik nggak tahu apa yg dibisikin dan aku memang suka nggak peduli, berpikir positif saja.
Tak lama kemudian Aku keluar lagi dengan kondisi tak berubah, hanya saja kali ini kulingkarkan handuk kecil dileherku karena aku mau mandi. Dengan santai kulewati laki-laki yg pada nongkrong tadi karena letak kamar mandi memang diujung sebelah kamar Roy.
”Lho Na, katanya mau pijit kok malah mandi, enakan mandinya habis pijit” kata Roy
”Nggak ah ntar kalo badan bau nggak enak dong ama yg mijit” jawabku
”Waduh enak dong pak Tikno ntar, mijit cewek cantik baunya wangi lagi” sahut Floren yg hanya kubalas dengan senyum, senang campur malu aja mendengar komentar Floren.

Mereka masih asyik nongkrong karena seperti biasa, mereka akan bubar setelah aku selesai mandi sepertinya mereka sengaja menungguku, pasti mereka berharap dapat suguhan yg menarik lagi, tentu saja kemolekan tubuhku. Entah normal atau tdk kadang aku tertantang untuk menggoda mereka dengan melancarkan aksi pamer tubuhku, namun selalu kubikin seolah-olah tak sengaja…ya bagaimanapun aku tetep jaga image, karena diantara mereka pekerjaanku termasuk paling mapan dan bisa dibilang aku ini termasuk wanita terhormat dilingkungan kantorku. Namun kalau diluar kamar aku nggak pernah berani vulgar telanjang, meskipun kadang ingin melakukan itu tapi aku nggak berani.
Begitu selesai mandi aku mencuci daster tipisku kemudian aku keluar hanya berbalut handuk kecil yg sudah pasti tanpa dalaman BH dan CD karena dasternya udah langsung kucuci. Kutenteng dasterku yg siap dijemur. Kontan saja mata para lelaki yg pada nongkrong melotot memperhatikanku, aku yakin tubuhku terlihat menggoda, cuek saja aku melintas di hadapan mereka, aku berusaha menciptakan kondisi yg wajar.
Mereka seperti terbengong-bengong dan nggak konsen dengan obrolannya. Lalu kujemur dasterku di jemuran depan kamarku, karena jemurannya agak tinggi maka akupun agak berjinjit….dengan posisiki seperti ini pasti menjadi pemandangan yg menggoda, pahaku yg putih mulus terlihat jelas dari pangkal karena handuk yg kupakai memang kecil, hanya membalut bagian dadanya sampe pangkal pahaku.
”awas handuknya mlorot Na…”cletuk Floren
”nggak lah” sahutku
”Plorotin yuk…”sloroh Bendul yg langsung disahut
”Yuukkk” oleh Roy, Floren, Kamto dan Totok serempak…
”eits awas ya kalo berani” kataku sambil berlari kecil masuk kamar dan kututup pintu kamar tanpa kukunci,

aku sudah cukup lama tinggal disini dan kenal sama mereka dan percaya bahwa mereka nggak akan berbuat kurang ajar, mereka sangat baik padaku dan selalu menghargaiku karena aku memang dikenal sebagai wanita baik-baik meski cara berpakaianku bisa dibilang cenderung nakal dan menggoda, mungkin penampilan dan keadaanku sehari-hari bisa menimbulkan gairah laki-laki, tapi kenyataannya sampai saat ini tdk terjadi hal buruk menimpaku karena ulah mereka.
Sekitar Jam 11:00 suasana depan kamarku sudah sepi, Roy dan yg lain sudah pada bubar karena harus beraktivitas.
Tiba-tiba terdengar suara Niken dari lantai bawah”Mbak Ana, ada yg nyari, katanya mau mijit” teriaknya ke lantai atas

”suruh naik aja Ken…” sahutku.
Kemudian setelah dipersilakan Niken , pak Tikno naik ke lantai 2 menuju kamarku.
Aku menunggu di depan pintu dengan mengenakan daster seperti model yg kupakai tadi pagi karena itu memang model faviritku, aku punya banyak dengan model yg hampir sama hanya berbeda warna dan tentu saja di dalamnya aku tak memakai BH dan CD.
”Pak Tikno ya?”tanya Ana.
”Iya saya pak Tikno, Ooo..Non Ana Melinda to….” kata pak Tikno karena ternyata yg namanya pak Tikno sudah tdk asing lagi bagiku karena dulu security di kantor tempatku bekerja dan sudah pensiun kurang lebih setahun yg lalu.

Akupun sempat kaget, namun aku berusaha bersikap wajar
”Iya pak, apa kabar Pak?”tanyaku basa basi.
”Silahkan masuk pak, jadi pak Tikno sekarang kesibukannya jadi tukang pijit to pak” aku mempersilahkan pak Tikno masuk.
”ya beginilah non…”maklum bingung mau cari kerja apa, kebetulan saya dulu biasa mijit dan dapat saya manfaatkan dan hasilnya lumayan ya…saya jalani” kata pak Tikno sambil masuk mengikutiku.

Aku pun menutup pintu namun tdk kukunci dengan pertimbangan kalau ada hal-hal yg tdk diinginkan dan butuh pertolongan maka akan mudah bagi yg mau menolongku untuk masuk ke kamar. Aku sempat bingung karena sebenarnya risih juga, ternyata yg mau mijit aku orang yg sudah pernah kukenal namun disisi lain aku merasa aman karena sejauh pengetahuanku pak Tikno orangnya sopan dan baik, namun tetep saja ada perasaan aneh dalam diriku karena maklum saja aku belum pernah disentuh bahkan dipijit sama laki-laki lain selain Bondan pacarku.
”maaf pak kamarnya kecil dan berantakan”
”nggak papa non…”
”saya sebenarnya takut lho pak dipijit ama laki-laki…rasanya risih getu… soalnya saya belum pernah sama sekali dipijit sama laki-laki…cuman tadi ditawarin Roy ee…nggak tahunya pak Tikno yg dulu sering ketemu”jelasku,

”Nggak papa non, sante aja percaya sama saya, rileks saja pasti nanti pijitnya enak” kata pak Tikno
”disini cukup pak pijitnya” tanyaku sambil menunjuk tempat tidurku yg kecil ukuran single dan kutaruh begitu saja di lantai kamar tanpa menggunakan dipan

”cukup, silahkan non rebahan…bajunya dibuka ya non” pinta pak Tikno
”harus dibuka ya?
”ya biar lebih enak saja non…”
”tapi pak, saya nggak pake daleman pak, saya malu…kebetulan daleman saya lagi saya cuci karena saya memang Cuma punya sedikit” sanggahku.

Aku memang nggak punya banyak BH dan CD karena memang jarang sekali pakai 2 benda itu untuk melindungi tubuhku.
”Nggak papa non, biasanya memang yg saya pijit harus telanjang biar enak mijitnya dan terasa pijitannya, cuman memang biasanya celana dalamnya tetap dipakai” jelas pak Tikno
”sebentar pak” aku mencoba mencari CD di lemari barangkali ada ”oh ini ada CD saya pak saya pake dulu ya” kataku lega setelah menemukan CD yg terselip diantara baju-bajuku, CD minim warna putih dengan kain tipis.

Dengan berlindung tutup lemari aku memakai CD itu kemudian melepas daster yg kupakai. Aku merasa deg degan, gimana tdk, aku hanya mengenakan CD tipis dan kecil bahkan sebagian bulu jembutku tdk dapat tersembunyi dengan sempurna. Jembutku memang kubiarkan tumbuh apa adanya tdk pernah kucukur, untungnya bulu jembutku tdk begitu lebat. Dan tubuh polosku yg putih mulus akan dapat dilihat pak Tikno. Akupun menutupi payudaraku denga kedua tanganku karena aku masih merasa risih. Kemudian kurebahkan tubuhku di kasur. cerita sex
Pak Tikno sempat terlihat canggung dan salah tingkah, mungkin ia tak menygka, perempuan yg dulu sangat dihargainya karena merupakan staff terhormat di tempatnya bekerja, yg cenderung angkuh karena selalu jaga image untuk menampakkan sosok perempuan yg bermartabat, kini ada dihadapanya hampir telanjang hanya meninggalkan celana dalam tipis kecil untuk melindungi kemaluannya.
”Mau pakai minyak saya atau pakai punya non Ana?”tanya pak Tikno
”Pake lotion saya saja pak, tuh diatas meja”pintaku

Pak Tikno pun mengambil lotion yg kumaksud membukanya dan mulai mengoleskan ke ujung kakiku.
”Maaf ya non..”kata pak Tikno seolah minta ijin untuk menyentuh kakiku

Kemudian pak Tikno mulai memijit dari ujung kaki kemudian ke betis.
”terlalu keras nggak non mijitnya?tanya pak Tikno
”nggak kok pak, pas”kataku. Pijitan pak Tikno memang enak kurasakan tdk terlalu keras namun terasa sekali.

Kunikmati pijitan pak Tikno walau sebenarnya ada perasaan aneh dalam diriku karena disentuh pria lain selain pacarku.
Kurasakan pijitan pak Tikno semakin ke atas, ke bagian paha. Saat pak Tikno memijit pahaku semakin ada perasaan aneh yg muncul…pijitan enak yg bercampur rasa geli, namun kutahan rasa geli itu dengan sedikit menggigit bibirku. Pak Tikno mengurut pahaku hingga sampai pangkal. Tanpa kusadari tubuhku sedikit menggelinjang tak tahan dengan rasa geli yg muncul, ada sensasi yg kurasakan dan sepertinya menaikan birahi kewanitaanku.

”sakit ya non?”tanya pak Tikno
”nggak pak, geli aja…saya suka nggak tahan kalau dipegang daerah situ”kataku beralasan ketika pijatannya mulai terpusat pada pangkal pahaku
”lha gimana non, bagian sini mau dipijit atau dilewati saja?”tanya pak Tikno
”nggak papa dipijit aja pak, pak Tikno pijit aja sesuai keinginan bapak, saya Cuma belum terbiasa saja jadi agak aneh” kataku, sepertinya aku nggak rela kalau sensasi ini dilewatkan
”saya juga sering mijit wanita kok non, dan wajar respon mereka kadang seperti non Ana ini, tapi setelah mereka terbiasa bisa lebih santai kok non, non santai saja menikmati pijitan saya” kata pak Tikno.

Setelah selesai dengan pangkal paha pak Tikno melanjutkan pijitannya ke arah pantat. ”maaf yan non say turunkan sedikit celananya” pak Tikno minta ijin. ”Silahkan pak.”jawabku. Pak Tikno mulai menurunkan sedikit CD ku dan mengoleskan lotion kemudian memijitnya. Waduh tambah kacau saja rasanya, ada sensasi yg tak bisa kuhindari kurasakan disela-sela pijitan pak Tikno, tanpa kusadari birahiku muncul karena rangsangan sensasi itu, namun aku tetep harus bisa menahan untuk menjaga martabatku.
Pak Tikno terus memijit pantatku, kugigit bibirku untuk menahan rasa nikmat yg muncul namun tak bisa kuhindari kadang akupun melenguh merespon rasa nikmat yg tak tertahankan. CD ku sepertinya mulai basah karena rangsangan yg ditimbulkan dari pijitan pak Tikno membuat memiawku mengeluarrkan cairan kewanitan.
Aku sungguh malu kalau hal ini diketahui pak Tikno, gimana tdk aku dulu selalu jaga image di kalangan orang-orang seperti pak Tikno, namun kini pak Tikno dapat menyaksikan aku dalam keadaan telanjang tak berdaya menahan nafsu birahi dan seolah-olah aku merasa dipermainkan oleh pak Tikno dengan sentuhan-sentuhan yg seperti sengaja menggoda dan membangkitkan birahiku, aku berharap semoga pak Tikno tdk memperhatikan hal itu dan tetap dengan tujuannya memijit untuk menghilangkan rasa lelahku.
Kurasakan pak Tikno seperti semakin bersemangat mengeksplore bongkahan pantatku. Aku takut sekali jika ia tahu aku sudah mulai terbelenggu birahi. Kemudian pak Tikno menurunkan CD ku sedikit lebih ke bawah lagi sampai turun ke paha. Anehnya aku tdk mencegah aksinya itu padahal kini bongkahan pantatku sudah pasti telah terbuka seluruhnya dan tentu saja memiawku yg mulai basah juga akan dapat terlihat dari belakang disela-sela bongkahan pantatku.
Pak Tikno pun meneruskan pijitannya. Perasaanku semakin tak karuan namun aku berusaha rileks menikmati setiap pijatan dan sentuhan pak Tikno meski tanpa sadar aku sering melenguh kecil, kugigit bibirku untuk menahannya, karena kadang-kadang pak Tikno seperti sengaja memijit di daerah tertentu yg merupakan daerah sensitis wanita, bahkan menurutku pak Tikno tdk benar-benar memijit tapi lebih seperti membelai untuk sekedar menimbulkan rangsangan.
Mungkin itu hanya pikiran negatifku karena sepertinya Pak Tikno memang pandai menyamarkan rangsangan disela-sela pijitannya dan yg jelas akupun merasa tdk ingin berhenti merasakannya.
Mungkin hal ini diketahui pak Tikno karena terbukti ia jadi semakin lebih leluasa meraba-raba daerah sensitifku, namun dia sama sekali belum menyentuh memiawku sedikitpun, padahal karena rangsangan dari pak Tikno yg membuat nafsu birahiku naik sebenarnya seperti berharap ia mulai mempermainkan memiawku namun aku tdk boleh memintanya aku harus bisa bertahan karena aku perempuan yg bermartabat, begitulah kata-kata yg muncul di dalam hatiku.
Rasanya sudah nggak tahan saja namun kenapa pak Tikno belum beraksi lebih jauh untuk menanggapi birahiku, pikiranku mulai kacau. Seperti ada setan mengatakan agar pak Tikno melanjutkan aksinya namun ada juga yg meminta agar pak Tikno menghentikan aksinya. Kacau sekali pikiranku saat itu, karena birahiku yg muncul sungguh kuat apalagi sudah 2 Minggu ini pacarku Bondan tdk datang menengokku di Surabaya karena masih sibuk dengan pekerjaanya.
Disela-sela kebingunganku aku tersadar ternya CD ku saat ini sudah benar-benar lolos terlepas dari kakiku
”Lho pak, celana dalam saya mana?” tanyaku sambil kaget karena mengetahui kini aku telah telanjang bulat di depan pak Tikno tanpa sehelai benangpun.
”maaf non, saya lepas, biar nggak ngganggu mijitnya” jawab pak Tikno.
”biasanya yg saya pijit nggak laki nggak perempuan, pijitnya juga sambil telanjang kok non”lanjut pak Tikno.
”tapi saya kan malu Pak” sanggahku.
”Kenapa musti malu non, kan Cuma ada saya, lagian badan non Ana kan bagus, putih bersih, mulus lagi, kenapa musti malu” kata pak Tikno.

Akupun tersipu mendengar perkataan pak Tikno yg terdengar seperti sanjungan, akhirnya aku berusaha cuek saja dengan keadaanku dan kurebahkan kembali kepalaku dan siap lagi untuk menikmati pijatan pak Tikno. Mengetahui aku tdk melanjutkan protesku karena ditelanjangi maka pak Tikno pun dengan leluasa melanjutkan pijatannya.
Sedang asyik-asyiknya menikmati pijitan pak Tikno tiba-tiba terdengar teriakan si Roy
”Na…Ana…pak Tikno dah datang?” kemudian ia melongokkan kepalanya ke jendela kamarku.
Kontan saja aku kaget, dengan tetap tengkurap dan menutupi pantat dengan tangan kiriku kutengokkan kepalaku ke belakang karena posisiku membelakangi jendela
”eits jangan ngintip dong…aku lagi telanjang nih..”
”Sori…sori Na…kirain pak Tikno lom dateng…”kata Roy dan matanya seperti melotot melihat keadaan tubuhku yg telanjang terbaring tengkurap, dengan pak Tikno duduk disampingku.

Aku nggak tahu apa yg ada di pikirannya
”Udah…jangan trus ngliatin gitu dong…malu neh…”
Roy pun ngloyor pergi,
”ya udah…selamat menikmati pijitan pak Tikno” kata Roy.
Aku kembali rileks merebahkan kepalaku sementara pak Tikno melanjutkan pijitannya karena tadi sempat berhenti sebentar karena kedatangan Roy.
Tak lama kemudian terdengar obrolan ramai di luar kamar, Pulano, Bendul dan Totok pada ngobrol di depan kamar Roy, tentu saja Roy pun gabung dengan mereka dan aku yakin Roy menceritakan apa yg dilihatnya barusan. Aku sendiri sempat merinding membayangkan Tubuh telanjangku tergolek tengkurap di atas kasur sedang dipijit pak Tikno orang tua jelek kurus dan item. Merekapun terdengar asyik mengobrol sambil tertawa-tawa.
Aku nggak peduli, akupun menikmati kembali pijitan pak Tikno yg masih melakukan pijitan di seputar pantatku, bahkan tak jarang entah sengaja atau tdk pak Tikno menyentuh bibir memiawku, aku nggak peduli, aku nggak protes dengan aksi pak Tikno aku tetap berpikir bahwa itu memang bagian dari gaya pijatnya.
Setelah cukup lama sepertinya pak Tikno semakin berani, kurasakan ia mulai melakukan sedikit belaian ke bibir memiawku yg sudah basah sementara tangan yg lain terus memijit atau lebih tepatnya meremas remas pantayku. Kurasakan ranggsangan yg hebat sekali, tanpa sadar tubuhku pun bereaksi, lenguhan kecil keluar dari mulutku meski aku berusaha menggigit bibirku dan posisi tubuhku ternyata jadi sedikit menungging dan kakiku sedikit mengangkang sehingga memberikan keleluasaan bagi pak Tikno untuk menjamah memiawku. Aku sudah nggak peduli.
Pak Tikno terus bermain di seputar selangkanganku, dengan jari-jari tangannya ia seperti mempermainkan aku, aku tak bisa lagi menyembunyikan reaksi tubuhku lantaran sebenarnya aku sangat menikmati sentuhan pak Tikno. Lenguhan kecil terus keluar dari mulutku bahkan mungkin kini lebih keras karena aku sungguh tak kuasa menahan, kadang tubuhku kelejotan tak menentu. Aku benar-benar sudah nggak peduli lagi dengan aksi pak Tikno yg sudah bisa dikatakan tdk sedang memijit karena kini kedua tangannya bermain di selangkanganku dan membelai lembut bibir memiawku yg semakin basah
”Enak non pijitnya?”tanya pak Tikno
”hhmmm….” akupun mengangguk dan hanya itu yg keluar dari mulutku.

Mendengar jawabanku pak Tikno seperti tambah leluasa dan jadi lebih berani karena dengan terang-terangan jari-jemarinya kurasakan membelai bibir memiawku. Aku tdk protes karena aku seperti tdk ingin apa yg kualami ini berhenti aku seperti telah masuk ke perangkap pak Tikno.
Ya..ampun…pening rasanya kepalaku..harus gimana. Seperti ada bisikan yg mengatakan
”ayo pak Tikno…teruskan aksimu…lakukan itu dengan tongkolmu…” namun ada juga bisikan untuk menghentikan apa yg kualami ini.
Perasaanku tak karuan. Nikmat yg tambah semakin kurasakan menaikkan gairahku yg sudah 2 minggu ini tak disentuh oleh Bondan pacarku…nggak kuar rasanya. Aku berusaha terus menikmati…namun karena keadaan sepertinya semakin tak terkendali maka aku pun memutuskan….
”cukup pak, pijit disitunya.” kataku pelan smabil mulai membetulkan posisiku tengkurap seperti biasa layaknya sedang pijit.
”bener non dah cukup?
”Iya pak, pindah ke punggung saja” pintaku

Akhirnya pak Tikno menuruti kata-kataku dan ia pun memindahkan tangannya dan mulai memijit punggungku. Aku mulai bisa rileks lagi, terbaring tengkurap menikmati pijitan pak Tikno di punggungku, namun tubuhku tetap kubiarkan telanjang.
Akhirnya setelah semua selesai, pijat di punggung dilanjutin kepala dan terakhir tangan pak Tikno menawarkan untuk pijit bagian depan, namun aku menolak dan bilang untuk sementara cukup dulu mungkin besok-besok kalau pijit lagi dan setelah aku terbiasa mungkin aku akan mencoba juga pijit bagian depan karena sebenarnya aku begitu malu setelah apa yg terjadi dan aku menghindari tatap muka langsung dengan pak Tikno.
Setelah selesai membayar jasa pijatnya dan tambahan tip karena aku sungguh merasakan pijitan yg luar biasa aku persilahkan pak Tikno pulang dan aku minta tolong untuk menutup pintu kembali karena aku membiarkan tubuhku tetap terbaring tengkurap.
”Pamit dulu ya non…”
”Iya pak, makasih ya pak, kapan-kapan saya mau pijit lagi” kataku
”baik non…tinggal panggil saja” kata pak Tikno sambil keluar kamar dan menutupnya kembali.

Akupun tetap membiarkan keadaanku yg terbaring tengkurap telanjang tanpa penutup tubuh apapun, dan karena tubuhku sudah terasa enak akupun tertidur.
Aku menggeliatkan tubuhku sambil menguap, kutengok jam menunjukkan pk. 4 sore. Cukup lama juga aku tidur siang ini. Mungkin karena badanku terasa enak habis dipijit pak Tikno. Malam minggu nih, meski ngapain? Pikirku dalam hati
Masih malas rasanya dan inginnya rebahan saja. Diluar cahaya matahari masih terang bersinar, terlihat dari jendelaku yg terbuka lebar. Surabaya memang panas, untung saja kamarku kupasang AC, meski harus nambah biaya kos bulanan, namun dasar AC sudah tua dinginnya tak seberapa, tapi masih untung daripada tdk ada sama sekali seperti kamar kos anak-anak lain.

Sambil rebahan aku sempat membayangkan sensasi pijat tadi siang, sungguh pengalaman baru yg sensasional bagiku. Disentuh dan dipermainkan oleh pak Tikno, orang yg sama sekali tak pernah terbayangkan untuk memegang, bahkan sekedar menyentuh tanganku, namun tadi siang dia telah leluasa meraba seluruh bagian tubuhku.
Aku juga merasa berdosa sama Bondan karena membiarkan tubuhku dijamah laki-laki selain dia. Anehnya membayangkan kejadian tadi siang membuat aku jadi horny. Aku membayangkan Bondan jika saat ini dia ada di sini pasti gairahku ini bisa tersalurkan, acara ngentot dijamin seru.. hehe.. maaf pakai istilah vulgar, seperti kisah sebelumnya ini gara-gara pengalaman liarku dengan Bondan.
Sambil asyik membayangkan tangankupun tanpa sadar meraba-raba tubuhku, kumainkan susuku hingga putingkupun jadi mengeras. Kemudian kuusap-usap itilku, enak sekali rasanya. Akupun jadi kangen sama Bondan, kuambil HP buat nelpon dia.
”halo say” terdengar suara Bondan
”yank aku kangen nih”
”lagi apa?…bla bla bla….

Akupun asyik ngobrol dengan Bondan dan tentunya obrolanku nyrempet-nyrempet ke hal porno, ya maklumlah kalo pasangan lagi saling kangen. Aku bilang ke Bondan kalau aku kesepian karena ia tdk mengunjungiku. Bondan menyarankanku untuk keluar jalan ama temen-temen, aku bilang lagi ga enak badan, capek.
”Pijit aja ama mbak mirah seperti biasa” saran Bondan
”Mbak Mirah lagi ke Madiun” jawabku,”ada juga tukang pijit laki-laki tetangga sebelah” lanjutku.
”ya coba aja kalo emang pijitannya enak..”
”ga enak ah… aku nggak mau ada laki-laki selain kamu menjamah tubuhku” sanggahku, aku nggak berani bilang kalo sebenarnya tadi siang aku sudah mengalami itu dan menikmatinya.
”ya ga papalah kan cuma pijat” kata Bondan yg sungguh diluar dugaanku
”Cuma pijat…tapi tetep aja ntar tubuhku dijamah, apalagi biasanya kalo pijit buka baju, ntar kalo tiba-tiba aku diperkosa gimana?

”Ya..jangan nglawan daripada ntar disakiti..”
”eh..sayank nih gimana to..pacarnya mau diperkosa kok suruh diem aja” kataku menanggapi komentar Bondan ”udah gak sayang apa?” Sergahku
”Bukan begitu say…justru karna sayang jadi aku pengen kebutuhan biologismu bisa tetep terpenuhi meski kita ga bisa bertemu…asal..tdk dilandasi perasaan cinta sih aku ga masalah kok kalo kamu mau ngent*t ama orang lain..”. Jelas Bondan

”Hush..sayank gimana sih…ngaco deh ngomongnya” sergahku
”lho..aku tuh maklum…aku juga sering muncul birahi saat jauh dari kamu say..tapi kalo laki-laki kan gampang..colai pake sabun atau mainin guling aja sambil bayangin sayank bugil udah bisa klimaks..kalo cewek kan susah..”
”Kalo aku cewek kan lebih bisa nahan daripada cowok” kataku

Terus terang aku bingung denger penjelasannya, dia emang gak tahu kalo aku juga sering masturbasi dengan caraku sendiri, tapi emang aku gak pernah cerita, namun tawaran Bondan itu yg bikin seperti gak masuk akal, masak pacarnya suruh main sama orang lain, emang ada pacar seperti itu, sepertinya gak masuk akal bagiku. namun di sisi lain omongan Bondan itu bisa menghilangkan rasa bersalahku karena tadi siang begitu menikmati pijatan Pak Tikno.
”Udah ah jangan ngomongin itu..”potongku
”aku laper nih yank, mau cari makan dulu ya..”
”Ok deh..ntar sambung lagi ya…I miss you..” kata Bondan seperti biasa ketika mengakiri obrolan.
”Ok..miss you too” jawabku sambil menutup telpon.

Aku sempat sewot dengan perkataan Bondan tadi yg mengijinkan aku ngent*t ama orang lain. Gila aja pikirku.
Masih dengan tubuh bugil aku beranjak dari tempat tidur. Kutengok jam sudah menunjukkan Pk.5 lebih. Diluar terdengar sepi nggak ada suara obrolan anak-anak yg biasa nongkrong.

Malam Minggu bingung mesti kemana, ngga ada acara, aku mencoba menelpon Mas Dodik, temenku anak geng pecinta alam yg dulu aku sering bergabung dengan mereka ikut acara naik gunung, namun sejak aku punya pacar sudah jarang ikut lagi, paling Cuma ikut nongkrong di markas aja.
”Halo..mas dodik ya? Apa kabar mas? Ana nih..” ku buka percakapan di telpon
Mas Dodik sempat kaget tumben aku nelpon dia. Dari pembicaraan ternyata lagi nggak ada acara naik gunung, malam minggu ini mereka hanya ngumpul di markas aja, maka kuputuskan untuk maen ke markas mereka.
Kubuka pintu dan kulongokkan kepalaku untuk melihat situasi diluar, yakin nggak ada orang aku keluar dengan masih kondisi bugil, aku berlari kecil menuju jemuran handuk yg terletak tak jauh dari kamarku, kulilitkan handuk yg tdk cukup besar itu ke tubuhku yg hanya bisa menutupi bagian tubuh dari dada sampai ke pangkal pahaku. Kemudian dengan santai aku menuju kamar mandi.
Ketika sedang asyik asyiknya mandi, terdengar suara segerombolan lelaki naik kelantai 2, sudah bisa ditebak itu suara anak-anak kos yg biasa nongkrong di depan kamar si Roy. Entah kenapa mendengar suara mereka aku jadi horny, mereka terdengar mulai asyik ngobrol dan kadang berbisik, apa yg mereka bisikkan tdk jelas terdengar olehku.
Aku sendiri di kamar mandi jadi klimpungan karena horny, maklum lagi rindu belaian lelaki karena sudah berminggu-minggu Bondan nggak datang ke surabaya menengokku lantaran sibuk dengan pekerjaannya, akupun mulai menyentuh dan membelai-belai memiawku, acara masturbasipun tak bisa dihindarkan, namun kali ini yg menjadi imajinasiku adalah ngent*t dengan salah satu dari anak-anak kos yg lagi pada ngobrol.
Mungkin ini pengaruh dari perkataan Bondan yg mengijinkan aku ngent*t dengan laki-laki lain. Anehnya imajinasi itu membawa kenikmatan yg luar biasa di acara masturbasiku, aku jadi sangat bergairah, nafsuku memuncak, aku sangat menikmati, apalagi diluar kamar mandi terdengar suara anak-anak pada ngobrol seru sambil tertawa-tawa.
Acara masturbasiku pun makin seru hingga akirnya aku klimaks dan terasa lemas. Kemudian kusiram tubuhku dan melanjutkan acara mandiku, setelah selesai kukeringkan tubuhku dengan handuk, kemudian kulilitkan handuk yg habis kupakai untuk menutupi tubuhku, meski hanya sebagian saja yg terlindung karena ukuran handuk yg kupakai memang tdk cukup besar, hanya bisa menutupi sepertiga susuku hinga pangkal pahaku, wow.. nyaris telanjang pikirku.
Dengan berusaha bersikap santai kulangkahkan kakiku melalui anak-anak yg lagi pada ngobrol. Aku sedikit surprise waktu melewati mereka karena ternyata ada 2 orang lagi yg masih asing bagiku, nggak tahu temen siapa karena sepertinya sama sekali belum pernah kulihat.
Akupun sedikit salah tingkah karena keberadaan 2 orang tersebut mengingat kondisi tubuhku saat ini yg hanya tertutup sebagian oleh handuk sementara dibaliknya aku tak pakai apa-apa lagi. Meski sedikit ada rasa aneh namun aku berusaha cuek dan santai melangkah menuju kamarku sambil tangan kiriku memegang simpul handuk tepat di belahan susuku dan tangan kananku menutup bagian belakang pantatku karena saking minimnya handuk takut memiaw ku terekspos dari belakang karena mungkin saja handuk sedikit terangkat karena bongkahan pantaku yg cukup montok
”Wah habis mandi Na? Seger ya?” tanya Roy basa basi..
”iya lah” jawabku sekenanya
”Na kenalin dong niy temenku” Roy mengenlkan 2 temannya, mereka menyodorkan tangan untuk berjabat, akupun terpaksa berhenti dan menyambut jabat tangan mereka dengan tangan kananku sehingga aku tak lagi menutupi bagian belakang pantatku, pikirku masih terlindung handuk ini, asal aku tdk banyak bergerak atau nungging pasti masih tak terlihat, soalnya kalau aku nungging sedikit saja pastilah handuk akan terangkat dan memiaw ku dapat jelas terlihat.. hiii.. malu ah.. meski sensasinya bakal seru, tapi ga berani ah.. hehe..

Mereka menyebutkan nama mereka masing-masing. Yg satu namanya Ales, orangnya tinggi, kurus, item, rambutnya kriting giginya tonggos, satu lagi namanya Oki, sama kurus juga tapi badannya lebih pendek wajahnya berjerawat. Habis salaman tangan kananku tdk lagi kembali ke posisi semula, sengaja kubuat agar nampak biasa dan rileks, sementara tangan kiri masih di simpul handuk.
”kerja di jl. kayoon ya mbak?” tanya Ales
”iya…jangan panggil mbak ah.. panggil namanya aja paling kita kan sebaya…” kataku yg kayaknya serasa tua kalo dipanggil mbak.
”Ok..Ana udah lama ya di situ?”
”ya kurang lebih 3 tahunan” jawabku
”kenal sama Siska nggak? Oki nimbrung ikut nyanya
”Siska anak marketing ya? Kenal lah..” jawabku.

Merekapun terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yg seolah-olah hanya untuk membuat biar aku berlama-lama disitu dengan kondisi tubuh polosku hanya terbalut handuk kecil. Dengan cuek aku meladeni obrolan mereka. Selama ngobrol kuperhatikan mata mereka memandangi sekujur tubuhku seolah-olah menelanjangiku. Anehnya aku merasakan sensasi yg lain daripada yg lain, sensasi yg meningkatkan gairah dan jujur aku menikmatinya, makanya aku tak keberatan meladeni obrolan, namun aku berusaha menyembunyikan perasaan aneh itu dengan bersikap sebiasa mungkin. Tangan kiriku pun kini tdk lagi selalu memegangi simpul handuk, sperti sudah terbiasa, handuk itu jadi bajuku saja sehingga yakin tak bakal melorot.
Kebetulan juga kita menemukan obrolan yg nyambung jadi akhirnya banyak jg yg dibicarakan. Lama-lama aku menikmati obrolan dan juga menikmati suasana dimana aku yg dalam keadaan nyaris telanjang menjadi pusat perhatian semua lelaki di situ. Cukup lama aku melayani obrolan dengan situasi seperti itu, kira-kira sampai 15 menitan, hingga akhirnya aku menyudahi obrolan itu karena takut aku sendiri terjebak dalam situasi ini dan bisa menimbulkam hal yg tak diinginkan terjadi, atau sebenarnya kuinginkan ya?? Tak taulah.. hehe..15 menit yg mendebarkan namun sekaligus memunculkan gairah bagiku.
”Sudah dulu ya.. aku mau pake baju dulu..mo jalan ke rumah temen nih..” pamitku ke mereka sambil berjalan menuju kamarku.
”yach jadi ga seru nih ngobrolnya, artisnya dah pergi” canda Roy
”artis dari Hongkong” sahutku
”artis Hongkong lewatlah.. kau lebih seksi Na..” celoteh Roy masih nyambung aja diiringi gelak tawa cowok-cowok lainnya
”makasih dibilang seksi” sahutku sambil menengok ke arah mereka sambil pasang tampang genit dan terus ngloyor masuk kamar dengan tangan memegang simpul handuk, takut tiba-tiba melorot, bisa-bisa tubuh telanjangku terpampang dinikmati mereka, meskipun ingin rasanya itu terjadi, tapi gak berani ah.. atau belom berani?? Hehe..

Setelah masuk kamar pintupun kututup, tanpa menguncinya karena emang jarang ku kunci kecuali aku sedang pergi.
Di kamar aku lepaskan handukku dan kupandangi tubuhku yg polos di cermin.. penasaran aja apa benar aku ini seksi, mengalahkan artis Hongkong seperti kata Roy.. kok jadi ge er gini yach.. hehehe…

Aku pun mulai pilih baju dan siap-siap untuk maen ke tempat Mas Dodik yg tadi udah kutelpon, mau ketemu ama anak-anak pecinta alam, kangen juga sama canda mereka, sudah lama nggak ketemu.
Ok ya.. aku jalan dulu.. sampe ketemu di kisah selanjutnya.. daaghh… - Kisah Ana

Related Posts:

0 Response to "Kisah Ana"

Posting Komentar