Adik Angkat Ku Kekasihku

Adik Angkat Ku Kekasihku - Sebelumnya kenalkan namaku Radit. Saat itu aku berusia 25 tahun. Cerita ini bermula ketika aku masih awal-awal merantau ke Jakarta. Saat itu aku mengontrak sebuah rumah yg lumayan nyaman, walau tdk terlalu besar. Di tempat tinggalku itu aku mengenal seorang gadis yg sangat cantik dan masih sekolah SMK bernama Nuning (16 tahun). Ia memliki tubuh yg sangat proporsionis, kulit putih dengan tinggi/berat kira-kira 160/48.


Orang Tuanya bercerai sejak dia masih kecil dan kedua orangtuanya masing-masing telah menikah. Keluarga ayah kandungnya adalah tetanggaku. Sebenarnya Nuning sendiri ikut dengan ibu kandungnya, tapi sebualan sekali hampir bisa dipastikan Nuning menemui ayahnya untuk meminta uang bulanan biaya sekolahnya. Hal tersebut dikarenakan ayah tirinya juga sedang menganggur dan memang tdk punya kerjaan tetap.
Karena kecantikannya tersebut aku sering memperhatikannya saat dia mengunjungi ayahnya. Suatu ketika mama tirinya yg notabene juga baik terhadap Nuning memintaku untuk mengantarkannya pulang ke rumah ibunya, karena memang Nuning sangat jarang sekali menginap di rumah ayahnya. Waktu itu aku ingat, hari terakhir puasa Ramadhan dan besoknya Idul Fitri. Aku mengantarnya pulang dan saat itulah aku tahu rumah ibu kandung Nuning bersama ayah tirinya.
Aku dipersilakan masuk dan disambut dengan baik oleh ibunya. Dan tak lama akupun pamit pulang. Sebelum pulang ibunya mengucapkan terimakasih dan berpesan agar besok jangan lupa datang berkunjung dan aku mengiyakan.
Besoknya tepat di hari lebaran aku datang pada sore harinya. Tapi aku agak kecewa karena ternyata Nuning tak ada di rumah. Aku hanya disambut oleh ibunya dengan ramah. Dalam obrolan tersebut ibunya berpesan agar aku sering-sering datang ke rumahnya. Ibunya banyak bercerita tentang Nuning yg ternyata tdk pernah betah di rumah. Sebenarnya akupun tak tahu maksud ibunya tersebut, untuk apa aku diharapkan sering-sering datang.
Di hari-hari selanjutnya aku memang sering meluangkan waktu untuk datang ke rumah Nuning sesuai pesan ibunya. Bahkan di satu kesempatan ibunya memintaku untuk menginap. Meski agak bingung dan canggung aku mengabulkan permintaan ibunya. Dan hari itu ibunya melarangku memanggilnya dengan sebutan tante melainkan memintaku untuk memanggilnya mama.
Seharian di rumah itu aku tetap tak melihat Nuning sama sekali. Dan tanpa aku tanya sang mama menceritakan bahwa Nuning kost di daerah Slipi. Aku tak tahu pasti apa alasan Nuning kost dan aku tdk menanyakan kepada sang mama.
Keesokan harinya setelah pulang kerja aku kembali datang ke rumah keluarga baruku tersebut. Ternyata hari itu Nuning ada di rumah, dan dia nampak ceria. Anehnya Nuning seperti tak merasa heran dengan kehadiranku di keluarga tersebut. Malah kami terkesan sangat akrab seperti halnya memang aku adalah abang kandungnya. Dan hari-hari sekanjutnya kami memang benar-benar akrab hidup dalam keluarga tersebut. Dan kulihat Nuning pun jadi sering di rumah tdk pulang ke kost lagi.
Hari-hari aku selalu tidur di ruang tamu di depan tv. Karena memang di samping rumah tersebut sebuah rumah kontrakan yg tdk terlalu besar juga hanya memiliki 1 kamar tidur saja yg kulihat selalu digunakan sebagai kamar tidur Nuning, mamanya dan 1 lagi adik perempuannya (Putri) hasil perkawinan mamanya dan ayah tirinya.
Suatu ketika ketika pulang kerja aku pulang ke keluarga baruku itu. Kulihat mama dan Putri tidur di depan tv. Entah sengaja atau mereka tertidur. Karena lapar aku langsung ke dapur dan makan. Selesai makan aku berniat untuk pulang ke rumah kontrakanku. Tapi mama malah memarahiku dan menyuruhku tidur di kamar bersama Nuning.
“Mau kemana kamu malam-malam begini, Dit?” tegur mama saat itu.
Memang ketika itu aku pulang kerja larut malam dikarenakan ada lembur.
“Pulang, Ma.” jawabku sambil menerka-nerka apa maunya mama.
Dan di luar dugaanku mama berkata,
“Sudah terlalu malam Dit, sudah sana tidur sama adikmu, kasihan Putri sudah terlalu pulas kalau disuruh pindah.” Demikian perintah mama.
Dengan berpura-pura ogah-ogahan malah sempat menghidupkan tv sejenak, kutekan-tekan remote control tak jelas acara apa yg kucari kemudian kumatikan lagi dan bergegas menuju kamar.
Sesampainya di kamar aku langsung mencium harum semerbak ruang kamar yg bercampur dengan aroma wangi dari tubuh Nuning. Kulihat Nuning tidur dengan sangat pulasnya. Karena aku merasa agak sungkan, meskipun tidur satu ranjang kubatasi antara aku dengan Nuning menggunakan sebuah bantal guling besar. cerita sex
Entah karena tak terbiasa tidur di kamar tersebut atau karena fikiranku yg melayg-layg kemana-mana aku merasa sangat sulit untuk memejamkan mataku. Sementara beberapa kali kulihat Nuning entah sengaja atau tdk dia selalu memindahkan dan memeluk bantal guling yg kugunakan untuk pemisah dengan posisi membelakangiku meskipun sudah beberapa kali aku ambil dan kuletakkan lagi di tengah-tengah antara kami.
Karena kejadiannya berulang-ulang aku duduk dan mempehatikan wajah Nuning yg terlihat sangat pulas. Dengan rasa penasaran wajahnya yg tampak sangat cantik aku cium. Agak gemetar aku mencium bibirnya dengan sedikit sentuhan lembut.
Tak kusangka Nuning sambil masih tetap terpajam langsung membalas kecupanku di bibirnya hingga kamipun langsung berpagutan dan saling memainkan lidah kami. Lama kami berpagutan dan tanganku mulai mencoba meremas lembut teteknya yg lumayan besar, entahlah ukuran berapa karena aku memang tak faham dengan ukuran bra, mungkin 34 atau 36. Yg jelas di mataku Nuning adalah gadis remaja yg sangat montok dan seksi.
Tangan Nuning pun memberi respon positif dengan merangkul leherku tapi tak terlalu erat, sehingga aku tetap dapat leluasa mencium dari bibir berpindah ke pipi kanan kiri kemudian aku jilat kuping kanannya. Dan…
“Ssssttt…. ssssttt…..” Terdengar desisan-desisan lembut dari bibir seksinya yg tanpa dipoles lipstik tapi terlihat sangat ranum di bias keremangan lampu kamar.
Sampai beberapa kali aku menajamkan pendengaran takut bila suara desisannya itu terdengar dari luar kamar dan membangunkan yg lain. Tapi aku dengan cepat memastikan bahwa semuanya aman-aman saja.
Cukup lama aku meremas-remas lembut payudara Nuning, hingga aku penasaran aku mencoba memasukkan tanganku ke balik t-sirt ketatnya dari arah bawah. Saat itu ia mengenakan t-sirt putih dan celana kolor tidur pendek putih juga. Sambil meraba-raba buah dada yg masih terbungkus bra itu dari balik t-sirt, ciumanku mulai turun ke dagunya yg sangat indah lalu ke lehernya sebelah kiri.
“Sssst…. Sssstt….. Sssst…. Sssstt…..”, Nuning makin mendesah-desah di ketika kuciumi dan kuremas-remas payudaranya. Matanya sesekali terbuka tapi lebih sering terpejam seperti orang yg tengah terhanyut perasaan.
Setelah puas menciumi wajah ayunya dan meremas-remas buah dadanya aku memberanikan diri untuk mencoba membuka t-sirtnya. Dan tanpa penolakan sedikitpun Nuning mengangkat tangannya mempermudah aku untuk melolosi kaosnya melalui kepalanya. cersex
Begitu kubuka mataku terbelalak dengan pemandangan yg sangat indah di depanku. Kulitnya sangat putih bak porselin yg masih baru dengan benjolan gunung kembar yg sangat indah dibalut bra warna krem. Sampai terkagum-kagum aku dibuatnya. Merasa kepalang tanggung aku langsung mencari kaitan branya yg ternyata ada di depan antara 2 buah dadanya dan langsung kusingkapkan ke kiri dan ke kanan tubuhnya dan masih tetap tertindih tubuh indahnya.
Tak menunggu terlalu lama langsung kudaratkan kecupanku di puting dada yg sebelah kiri sambil tanganku mengusap-usap lembut dadanya yg kanan. Dan Nuningpun makin mendesah-desah kenikmatan.
“Aduh Kaaaak…..Ssssssst” demikian dia memanggilku dengan mata tetap terpejam.
Kusedot-sedot putingnya sambil tangan kanan meremas-remas buah dada yg kanan lalu bergantian demikian berulang-ulang sampai beberapa menit. Lalu seranganku kulanjutkan lebih ke bawah. Kucium sekujur tubuhnya menyusuri perutnya yg datar ke arah pusar sampai mataku tertuju kepada celana kolornya yg langsung kutarik perlahan-lahan ke bawah melalui kakinya yg jenjang indah dan tampaklah kini ia hanya mengenakan celana dalam putih berbahan sangat halus.
Celana dalam itupun segera kubuka perlahan-lahan sambil hatiku berdebar-debar mencermati mili demi mili apa yg akan segera terlihat di depanku. Dan pemandangan yg menakjubkanpun terpampang di depanku. Gundukan kecil dengan helai-helai bulu hitam agak kaku tapi sangat rapi menghias vaginanya.
Kuusap-usap bukit kecil itu dengan telapak tanganku dengan ibujari sedikit menekan permukaan bibir vaginanya. Nuning terlihat sedikit menggelinjang saat ibujariku menekan-nekan bagian atas bibir vaginanya dengan lembut. Sementara rudalkupun sudah berontak dari tadi di dalam sarangnya. Saking tegangnya sampai terasa sangat keras dan hangat di dalam celana dalamku. Dan akupun segera melepas kaos yg kukenakan.
Selanjutnya kudekatkan mulutku ke arah vagina indah itu, dan kujilat arah membelah dari bawah ke atas. Terdengar erangan Nuning makin merintih-rintih dan mendesis seperti orang yg kepedasan. Kubuka sedikit vagina yg masih sangat rapat itu dan nampaklah belahan daging merah segar di dalamnya, tetapi hanya bagian kecil saja yg dapat kubuka dan kuarahkan lidahku ke lubang kecil itu dan kujilat-jilat dengan tempo pelan dan teratur hingga vaginanya mulai mengeluarkan cairan pelumas yg cukup banyak membasahi belahan vagina itu dan beberapa bagian bulunya.
“Sssssttttt….. sssssttttt kakaaaaakkkkk…..,” Erangnya.
Kunaikkan tempo jilatanku pada vaginanya yg membuat dia semakin menggelinjang-gelinjang dan tak kuduga vagina Nuning mengeluarkan cairan cintanya lumayan banyak. Kuseruput cairan itu sambil tetap sesekali lidahku menjilat-jilat bagian dalam vaginanya. Aku tahu dia mengalami orgasme pertamanya.
“Sssssttttt….. aduuuuhhhh sssssttttt kakaaaaakkkkk…..,” Erangnya lagi lirih.
Setelah puas mulutku bermain segera kupelorotkan celana pendek dan CDku bersamaan. Dan aku mencoba memasukkan penisku ke liang vaginanya yg seperti tak berlubang setelah tanganku kulepaskan dari vaginanya. Kuusap-usapkan kepala penisku yg berdiameter 4 inch dengan panjang 17 centian dan membuat Nuning makin menggelinjang kegelian. Matanya sayu memandang ke arahku. Mungkin ia masih agak lemas setelah orgasme pertamanya tadi. - Adik Angkat Ku Kekasihku

Related Posts:

Aku dan Mereka

Aku dan Mereka - Aku tdk mau buang-buang waktu,ku pikir berenang lebih bagus.Ya ini mumpung ada gunanya juga,jaga kesehatan tdk salah aku juga itung-itung menabung untuk sehat di hari esok. Dari padaWaktu itu aku gunakan untuk happy yg tdk tentu kapan habisnya.berenang di kolam renang milik sebuah Country Club tepatnya sambil menikmati suasana ya begitu,cewek-cewek yg nampang berbikini tak asing karena disini adalah kolam renang jadi sudah sewajarnya. dimana aku tercatat sebagai membernya juga.


Saat itu sudah amat sore, sekitar pukul lima . matahri sudah mulai tenggelam berganti malam yg segera menjelang, aku baru saja naik ke pinggir kolam renang untuk handukkan. aku melihat ada seorang gadis mungil bersama anak perempuan kecil, gadis itu kira-kira berusia antara 14-15 tahun. Karena gadis itu berdiri tdk jauh dari aku, aku liatin aja dia.
Untuk usia segitu, badannya bolah dibilang bagus, wajah manis, kulit putih bersih, rambut panjang, swimsuit yg benar-benar sexy dan sekilas aku lihat bibir dan dadanya yg menantang sekali. Setelah aku perhatikan baik-baik, tiba-tiba penisku aku bangun, bagaimana tdk, ternyata dia tdk mengenakan celana dalam. Hal ini nyata sekali dari belahan memeknya yg tercetak di baju renangnya itu.
Eh, ngak disangka-sangka, si anak kecil (yg ternyata adiknya), menghampiri aku, lalu dia bilang
?Om, mau main bola sama Grisa gak ??
?Eh, mmh, boleh, kamu sama kakakmu ya ?? tanya aku gugup.
?Iya, itu kakak !? katanya sambil menunjuk kakaknya.

Lalu aku hampiri dia dan kami berkenalan. Ternyata, gadis manis itu bernama lena, dan juga, dia baru kelas 2 SMP.
?Mmh, lena cuma berdua sama Grisa ?? tanya aku mencoba untuk menghangatkan suasana.
?Nggak Om, kami sama mami. Mami lagi senam BL di Gym diatas!? kata lena sambil menunjuk atas gedung Country Club. ?Ooo, sama maminya, toh? kata aku,?Papi kamu ndak ikut Rev ??
?Nggak, Papi kan kalo pulang malem banget, yaa, jam-jam 2-an gitu deh. Berangkatnya pagiii bener? katanya lucu.

aku tersenyum sambil memutar otak untuk dapat berkenalan sama maminya,
?Mmh, mami kamu bawa mobil Rev ? kalo ndak bawa, nanti pulang sama Om saja, mau ndak ? Sekalian Om kenalan sama mami kamu, boleh kan ??
?Boleh-boleh aja sih Om. Tapi, rencananya, habis dari sini, mau ke Mall sebentar. Grisa katanya mau makan McD.?
?O,.. ya udah ndak apa-apa. Om boleh ikut kan ? Nanti pulangnya Om anterin? Tapi yg menjawab si kecil Grisa, ?Boleh, Om boleh ikut, .”

Sekitar 30 menit kami mengobrol, mami mereka datang. Dan ternyata, orangnya cantik banget. Tinggi dan postur tubuhnya benar-benar mengingatkan aku pada tya, mirip abis. Buah dada yg besar dan ranum, leher dan kulit yg putih, pokoknya mirip. Singkat cerita, kami pun berkenalan. lena dan Grisa berebut bercerita tentang awal kami semua berkenalan, dan mami mereka mendengarkan sambil tersenyum-senyum, sesekali melirik ke aku. Nama mami mereka Imel, umurnya sudah 29 tahun, tapi bodinya, 20 tahun.
Ngobrol punya ngobrol, ternyata Imel dan suaminya sedang pisah ranjang. aku dalam hati berkata, wah, kesempatan nih. Makanya setelah makan dari Mall, aku memberanikan diri untuk mengantarkan mereka ke rumah, dan ternyata Imel tdk berkeberatan. Setelah sampai di rumahnya di bilangan Cilandak, aku dipersilahkan masuk, langsung ke ruang keluarganya.
Waktu itu sudah hampir jam 8 malam. Grisa yg sepertinya capek sekali, langsung tidur. Tapi aku, Imel dan lena ngobrol-ngobrol di sofa depan TV.
?Mel, suamimu sebenarnya kerja dimana??, tanya aku.
?Anu mas, dia kontaraktor di sebuah perusahaan penambangan gitu,? jawab Imel ogah-ogahan.
?Iya Om, jangan nanya-nanya Papi.Mami suka sebel kalo ditanya tentang dia,? timpal lena, yg memang kelihatan banget kalo dia deket sama maminya.Mendengar lena bicara seperti itu, Imel agak kaget,
?lena, nggak boleh bicara gitu soal Papi, tapi bener mas, aku ngak suka kalo ditanya soal suamiku itu”.
?Iya deh, aku nggak nanya-nanya lagi, ? kata aku sambil tersenyum.
?Eh Iya, Mas Vito mau minum apa ?? tanya Imel sembari bangkit dari sofa,
?Kopi mau ?
?Eh, iya deh boleh, ? jawab aku.

Tak lama kemudian Imel datang sambil membawa 2 cangkir kopi.
?Ini kopinya, ? katanya sambil tersenyum.
lena yg sedang nonton TV, dengan mimik berharap tiba-tiba berkata,
?Om, malem ini nginep di sini mau ya ? bolehkan mam ?? Imel yg ditanya, menjawab dengan gugup,
?Eh, mmh, boleh-boleh aja, tapi emangnya Om Vito mau ?? Merasa dapat durian runtuh, aku menjawab sekenanya,
?Yah, mau sih, ?

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan jam ½ 12 malam ketika Imel berdiri dari sofa dan berkata,
?Mas Vito,aku mau ganti baju tidur dulu ya ??
?Eh, iya, ? jawab aku,
?kamu ndak tidur Rev, kan besok sekolah ??
?Mmh, belom ngantuk, ? jawabnya lucu.

Tak lama kemudian, Imel datang lagi ke ruang TV dengan mengenakan busana tidurnya yg tipis sekali. Di dalamnya dia hanya memakai celana dalam jenis G-string dan Bra tanpa tali. lena yg sedang tidur-tiduran di karpet terbelalak kaget melihat maminya memakai baju se-sexy itu.
?Ya ampun, mami, bajunya itu lho, gak sopan banget.?
?Gak papa Rev?, mami udah lama nggak pake baju ini. Sekalian nyobain lagi,? kata Imel sambil tersenyum ke arah aku, ?Om Vito aja nggak keberatan, masa kamu keberatan sih ??

aku yg masih terkagum-kagum dengan kemulusan body Imel, tdk bisa bicara apa-apa lagi.
? Rev? kamu tidur sana, sudah malam. Besok terlambat sekolah, mami masih mau ngobrol sama Om Vito, sana tidur!? kata Imel.
aku yg memang sudah pingin sekali mencoba tubuh Imel, juga ikut-ikutan ngomong,
?Iya, Rev? besok telat masuk sekolahnya, kamu tidur duluan sana.?lena sepertinya kesal sekali di suruh tidur, ?Aaahh, mami nih. Orang masih mau ngobrol sama Om Vito kok, ? tapi dia masuk juga ke kamarnya.
Setelah ditinggal lena, aku mulai melakukan agresi militer.
?Mel, kok kamu pake baju kaya gitu sih ? kamu tdk malu apa sama aku, kita kan baru kenal.
Belum ada 1 hari, kamu ndak takut apa kalo? aku apa-apain
? ?Mas, aku memang sudah lama nggak pake baju ini. Kalaupun toh pake, suamiku sudah nggak peduli lagi kok sama aku.
Dia lebih memilih sekretarisnya itu,? kata Imel dengan mimik muka sedih.
?Berarti suami mu itu tolol. Dia nggak liat apa, kalo istrinya ini punya badan yg bagus, kulitnya putih, bibirnya tipis, wah, kalo aku jadi suamimu, thak perem kamu ndak boleh keluar kamar? kata aku bercanda.
?Dan lagi kamu punya ?itu? mengkel banget? Si Imel menatap aku dengan wajah lugu,
?Itu apa mas ??
? Mmh, boleh aku jujur tdk ??
? Boleh, ngomong aja ?

?Anu, payudaramu itu lho, mengkel banget, dan lagi aku yakin kalo anumu pasti seukuran satu sendok makan? kata aku sambil melakukan penetrasi dengan mengelus pahanya.
?Ooo, ini,? kata Imel sambil memegang buah dadanya sendiri,
?Mas Vito mau ? terus apaku yg seukuran ?Belum selesai Imel berbicara, langsung saja aku potong dengan memegang dan mengelus kontolnya,
?Ini,.. mu, buka dong bajumu !? kata aku asal.

Imel yg sepertinya sudah setengah jalan, langsung melepas kain tipis yg menutupi tubuhnya. Sambil mengulum bibirnya yg tipis dan hangat, aku langsung membuka bra-nya. Imel dengan gerakan spontan yg halus sekali, membiarkan celana dalamnya aku lucuti.
?Mas, aku sudah telanjang. Sekarang gantian ya, ? kata Imel tanpa memberi aku kesempatan bicara, Imel langsung melepas baju dan celana serta celana dalam aku, akibatnya dia shock setengah mati melihat batangan aku yg sudah terkenal itu. cerita sex
Hebatnya lagi, dia tanpa minta ijin, langsung jongkok di bawah aku dan mengulum si ?adik? dengan beringas. Sekitar 5 menit kemudian, dia berdiri dan menyuruh aku untuk menjilati bibir vertikalnya. Imel kelojotan setengah mati, ketika lidah aku menyapu dengan kasar klitorisnya.
Imel aku suruh terlentang di karpet dan membuka kakinya, memeknya yg sudah basah itu, aku hajar dengan gerakan tajam dan teratur. Sambil terus menyerang, aku meremas buah dadanya yg besar, dan menghisap lidahnya dalam-dalam ke mulut aku. Sekitar 10 menit kami melakukan gaya itu, kemudian dia berdiri dan membelakangi aku dengan posisi menungging dan berpegangan di meja komputer didepannya, dia membuat jalan masuk dengan menggunakan kedua jarinya.
Langsung aku pegang pantatnya dan aku tusuk dia perlahan-lahan sebelum gerakan makin cepat karena licinnya liang surga itu. Tak lama kemudian, Imel bergetar hebat sekali, dia orgasme, tapi cairan sperma aku belum juga mau keluar. aku percepat gerakan aku, dan tdk memperdulikan erangan dan desahan Imel, dalam hati aku berkata, dia enak sudah klimaks, aku kan belum.
Tak lama kemudian aku sudah ndak tahan. aku tanya :
?Mel, aku mau keluar, dimana nih ??Di tengah cucuran keringat yg amat banyak, Imel mendesah sambil berpaling ke arah aku,
?Di dalam aja mas ! biar lengkap ? Benar saja, akhirnya cairan aku, aku semprotkan semua di dalam liang memeknya. Banyak sekali, kental dan lengket.

Setelah itu, kami duduk di sofa sambil dia aku suruh menjilati penis aku. Hisapan Imel tetap tdk berubah, tetap penuh gairah, walaupun bibirnya terkadang lengket di kepala penis aku.Sekitar 5 menit, Imel menikmati si ?vladimir?, sebelum dia akhirnya melepaskan hisapannya dan bangun.
?Mas, aku ke kamar mandi dulu ya,? katanya,
?Aku mau nyuci ?ini? dulu,? sambil dia mengelus memeknya sendiri.
?Ya, jangan lama-lama, ? kata aku.

Karena sendirian, aku kocok saja sendiri batangan aku. Tiba-tiba si lena keluar kamar, dia berdiri di depan pintu kamarnya sambil memperhatikan aku. aku kaget sekali.
?Loh, Rev kamu belum tidur ?? tanya aku setengah panik.
?Belum.? Jawabnya singkat.

Lalu dia berjalan ke arah aku, sementara aku berusaha menutupi penis aku dengan bantal sofa.
?Om, tadi ngapain sama mami ?? tanyanya lagi.
?Eh, anu, Om sama mami lagi ? belum selesai aku menjelaskan, Imel masuk ke ruang TV.

Dia kaget sekali melihat lena ada di situ. Sambil tangan kanannya menutupi memeknya dan tangan kirinya menyilang menutupi buah dadanya yg ranum (tdk semua tertutupi sih ),Imel berkata,
?Rev kamu ngapain, kok belum tidur ??lena berpaling menghadap Maminya,
?Aku nggak bisa tidur, Mami tadi berisik banget. Ngapain sih sama Om Vito ??Akhirnya aku menjelaskan, setelah sebelumnya menyuruh Imel duduk di samping aku, dan lena aku suruh duduk di karpet, menghadap kami.
?lena, kamu kan tahu, Papi sama Mamimu sudah pisah ranjang selama hampir 4 bulan. Sebenarnya Om sama Mami sedang melakukan kegiatan yg sering dilakukan sama Mami dan Papimu setiap malam. Om dan istri Om juga sering melakukan ini,? kata aku sambil melirik Imel yg terlihat sudah agak santai.

?Tapi karena sekarang ndak ada Papi, Mami minta tolong Om Vito untuk melakukan hal itu.?lena terlihat sedikit bingung,
?Hal itu hal apa Om ??Di sini, Imel mencoba menjelaskan,
?Rev, Mami jangan disalahin ya, lena akung Mami kan ??lena tersenyum,
?Iya lah, mi. lena saayyaaaang banget sama Mami. Tapi lena mau tahu, Mami sama Om Vito ngapain ?? aku tersenyum sendiri mendengar rasa ingin tahu lena yg cukup besar,
?Om Vito sama Mami lagi making love.Kamu tahu artinya kan ??
?Mmh, iya dikit-dikit. Jelasin semua dong Om, lena mau lihat,? jawab lena.

Wah, kaget sekali mendengar lena bicara begitu. Lalu aku melirik Imel, dan Imel mengangguk mengerti.
?lena beneran mau lihat Mami sama Om Vito making love ?? tanya Imel.
lena menjawab dengan polos,
?Iya mau. Dan kalau Om Vito mau ngajarin, lena juga mau diajarin, biar bisa?. aku beneran seperti ketiban durian runtuh,
?Mmhh, tanya Mami ya ?! soalnya Om tdk bisa ngajarin, kalo Mamimu tdk ngijinin, Om sih mau aja ngajarin.?lena merajuk, merayu Maminya,
?Mi, boleh ya ??Imel ragu-ragu menjawab,
?Kamu lihat aja dulu deh ya ?!?Sambil tersenyum lena menjawab,
?Iya deh, ,? senang sekali ia.

Setelah itu, lena aku suruh mundur beberapa langkah, dia masih duduk dan memperhatikan dengan serius, ketika aku ?memamerkan? penis besar aku. Dan lena hanya bisa melongo ketika aku mengulum bibir Maminya sambil mengelus-elus memek yg tanpa bulu itu. Tak lama kemudian, Imel aku suruh untuk melakukan pekerjaan menghisap lagi. Sambil Imel disibukkan dengan pekerjaannya itu, aku menyuruh lena untuk duduk mendekat disamping aku.
?Lihat Rev, Mami seneng banget kan ?? kata aku.
Sementara Imel melirik kami sambil terus menjilati penis aku.
?lena sudah pernah ciuman belom ?? tanya aku.
?Belum Om.?
?Mau Om ajarin ndak ?? tanya aku lagi sambil melingkarkan tangan aku di lehernya.
?Mau !? jawabnya singkat.
?Ya sudah, lena ikutin Om aja ya, apa yg Om Vito lakukan, diikutin ya ?!?Belum sempat lena menjawab, aku langsung saja mengulum bibirnya, tegang sekali si lena.

Ketika aku menarik lidah aku dengan lembut di dalam mulutnya, lena terasa berusaha mengikuti, walaupun dengan gerakan yg tdk beraturan.
Imel terus menghisap batangan aku, ketika aku melucuti tubuh anaknya yg putih bersih dan mulus itu. Buah dada lena memang belum begitu besar, tapi untuk ukuran anak kelas 2 SMP, sudah cukup ranum. Puting susunya masih berwarna merah muda dan ketika aku memilin-milinnya, si lena bergelinjang kegelian.
Tak lama kemudian, Imel berlutut di depan aku dan membantu lena melepas celana dalamnya yg berwarna hijau muda. lena menurut aja ya sama Om Vito ?kata Imel. Sementara aku meremas-remas toketnya, Imel menyuruh lena untuk menggenggam batang penis aku.
?Rev, sekarang kamu jongkok disini ya ? kata Imel,
?Kamu hisap penisnya Om Vito, seperti Mami tadi. Jangan dihisap terus, nanti kamu kehabisan nafas, ? Imel tersenyum akung kepada lena, ?Kadang di lepas, terus di jilat-jilat. Pokoknya kayak Mami tadi. Bisa kan ??lena menjawab singkat,
?Bisa, mam ? aku mengarahkan penisku ke mulut lena, sambil mengelus rambutnya yg hitam legam.

?Pelan-pelan Rev, jangan ditelan semuanya ya !? lena tersenyum.
Imel memperhatikan cara lena menghisap, kadang dia memberikan instruksi.
Tak lama setelah itu, aku menyuruh lena berdiri. aku tersenyum memandang memeknya yg masih rapat, tampak bulu-bulu halus menghiasi lubang sempit yg berwarna putih kemerahan itu. Terus terang aku tdk tega untuk menembusnya. Ya sudah, aku ciumi dan jilati saja memek muda itu. lena benar-benar kegelian.
Akhirnya, Imel menyuruh lena istirahat. Pekerjaannya dilanjutkan oleh Imel. Tanpa berbasa-basi, Imel langsung menduduki penis aku, dan mulai melakukan gerak maju mundur, nikmat sekali. Sambil Imel terus mengerjai penis aku, aku meremas-remas toketnya.
Setelah itu, kami pindah tempat. aku berbaring di karpet, dengan Imel masih menduduki penisku, kali ini dia membelakangi aku. lena yg hanya diam melihat aksi kami, aku suruh mendekat ke arah aku. aku menyuruh dia untuk jongkok, dengan posisi memeknya di mulut aku.
Sambil aku remas pantatnya, aku tembus liang sempit itu dengan lidah, terkadang, aku sapu dengan jari, sampai akhirnya, setengah jari tengah aku, masuk ke memeknya dan direspon dengan gerakan yg sangat liar. lena mulai mendesah tdk karuan, sementara pada saat bersamaan, Maminya mendesah keenakkan. aku mulai serius menanggapi Imel. lena aku suruh menyingkir.
Setelah itu, aku membalik tubuh Imel, sekarang dia yg dibawah. aku lebarkan kakinya dan aku tusuk dengan tajam dan tanpa ampun. Kali ini, Imel bertahan cukup lama, dia sudah mulai terbiasa dengan tusukan-tusukan aku. Akhirnya Imel tdk tahan juga, begitu juga aku. Dia orgasme, berbarengan dengan aku yg kembali memuntahkan sperma ke dalam liang kontolnya. Setelah melepas penisku, lena aku suruh menjilatinya.
?Mmmhhh, .. Om kok asin sih rasanya ?? protes lena.
Imel sambil terengah-engah menjawab,
?Memang gitu rasa sperma. Tapi enak kan ? Mami bagi dong ?!? aku senyum-senyum saja melihat anak beranak itu berebut menjilati penis aku.
Pada saat itu, aku teringat Vina (anak tya) yg selalu senang dan tertawa ketika melihat ibu dan tantenya berebutan penis dan menjilati sisa sperma di ujungnya. Begitu juga Imel dan anaknya, lena, yg seperti mengagungkan batangan aku. aku memegang kepala ibu dan anak itu, dan dengan maksud bercanda, kadang aku buat gerakan yg memaksa mereka harus berciuman dan menempelkan lidah masing-masing. Mereka tertawa dan tersenyum ceria, tanpa beban.
Sekali dua kali, kami masih sering bersenggama bertiga. Tapi sekali tempo, aku hanya berdua saja dengan lena, yg benar-benar telah merelakan keperawanannya aku ambil. Tapi kalau dengan Imel, wow, jangan ditanya berapa kali, kami sering janjian di sebuah restoran di PIM, dan Grisa, anak bungsu Imel, selalu diajak. Pernah suatu saat, ketika aku dan Imel sedang ?perang alat kelamin? di kamar mandi rumahnya (tanpa menutup pintu), Grisa tiba-tiba masuk dan menonton dengan bingung adegan aku dan Maminya yg sedang nungging di bathtub.
Dia bertanya kepada Maminya (walaupun tdk dijawab, karena sedang ?sibuk?
?Mami diapain Om Vito, kok teriak-teriak ?? katanya.
Dan dia pun ikut menyaksikan kakaknya, yg aku senggamai di ruang TV, di samping Maminya yg telanjang bulat, dengan sperma di buah dadanya yg besar itu (bila aku buang di luar, dia tdk mau membersihkan sendiri, selalu menyuruh lena untuk menjilatinya.
Kami masih sering melakukan itu sampai sekarang. Untuk yg satu ini, aku tdk mau berbagi rezeki dengan teman kantor aku, tdk seperti sewaktu dengan tya dan devi. - Aku dan Mereka

Related Posts:

Perselingkuhan Seorang PNS

Perselingkuhan Seorang PNS - Perkenalkan namaku AGUNG RUBIANTORO saat ini, sudah beristeri dan bekerja sebagai PNS DI SUDIN KEPENDUDUKAN DAN CATATAN SIPIL JAKARTA BARAT. Rumahku terletak di pinggiran kota Jakarta yg bisa disebut sebagai cipondoh sebagai PNS aku memang banyak waktu untuk pergi keluar kantor dengan alasan kerjaan.


Sehingga aku biasa leluasa untuk pergi kemanapun saat jam tugas dengam alasan ada pekerjaan diluar kantor ,seperti yg saya lakukan sejak saya bertugas di kelurahan DURI KEPA dan KEDOYA SELATAN,orang taunya saya pergi ke kecamatan atau sudin padahal saya pergi ke hotel sama selingkuhan saya.
Hotel favorit saya adalah hotel xxx di sawangan dan hotel di gintung ,karena tempatnya cukup didalam dan tdk mencolok dari luar.sebut saja namanya Ratih (samaran )….dia cewk selingkuhanku yg waktu itu statusnya masih istri orang,awal ketemu karena dia juga bekerja sebagai karyawan honorer di kelurahan durikepa. inilah yg menjadi ‘pemeran utama’ dalam ceritaku ini.
Kau sudah lama kerja di kelurahan duri kepa ,begitumasuk Ratih hatiku langsung pingin menggodanya.. Ratih berumur 28 tahun, dia sudah belum bersuami anaknya satu. Wajahnya tdk cantik, kulitnya putih. Tapi yg menarik dari Ratih ini adalah bodynya, sexy sekali. Tinggi kira-kira 164 cm, dengan pinggul yg bulat dan dada berukuran 36. Kulitnya putih mulus. Sering sekali aku memperhatikan kemolekan tubuh Ratih ini, sambil membandingkannya dengan tubuh isteriku yg sudah agak mekar.
Hari itu,aku dating ke kantor lebih pagi,sampai dikantor masih sepi,hanya tukang sapu yg sedang membersihkan halaman kelurahan,aku langsung masuk ke ruanganku,aku lihat Ratih sudah ada di ruang perpustakaan….aku batalkan niatku masuk keruanganku ,langsung aku hampiri Ratih di perpustakaan.dan seperti biasa, mataku langsung melihat tonjolan pinggul dan pantatnya juga dadanya yg aduhai itu.
“Ini Pak, pak mau baca buku apa sih ?”
Rupanya dia ngerasa juga kalau aku sedang memperhatikan pantat dan dadanya.
“Pak Agung ngeliatin apa sih” Tanya Ratih.
Karena selama ini aku sering juga bercanda sama dia, akupun menjawab,
“Ngeliatin pantat kamu Ratih. Kok bisa seksi begitu sih Ratih?”
“Iiih Bapak, kan Ibu Dinda juga pantatnya gede”
“Iya sih, tapi kan lain sama pantat kamu Ratih”
“Lain gimana sih Pak?” tanya Ratih, sambil matanya melirik kearahku.

Aku yakin, saat itu memang Ratih sedang memancingku untuk kearah yg lebih hot lagi.
Merasa mendapat angin, akupun menjawab lagi,
“Iya, kalo Bu Dinda kan cuma menang gede, tapi tepos”
“Terus, kalo saya gimana Pak?” Tanyanya sambil melirik genit.

Kurang ajar, pikirku. Lirikannya langsung membuat k0ntolku berdiri.
Langsung aku berjalan kearahnya, berdiri di belakang Ratih yg masih sibuk sambil membereskan buku di rak.
“Kalo kamu kan, pinggulnya gede, bulat dan kayaknya masih kencang”, jawabku sambil tanganku meraba pinggulnya.
“Idih Bapak, emangnya saya motor bisa kencang” sahut Ratih, tapi tdk menolak saat tanganku meraba pinggulnya.

Mendengar itu, akupun yakin bahwa Ratih memang minta aku ‘apa-apain’.
Akupun maju sehingga k0ntolku yg sudah berdiri dari tadi itu menempel di pantatnya. Adduuhh, rasanya enak sekali karena Ratih memakai rok berwarna abu-abu (seperti rok anak SMU) yg terbuat dari bahan cukup tipis. Terasa sekali k0ntolku yg keras itu menempel di belahan pantat Ratih yg, seperti kuduga, memang padat dan kencang.
“Apaan nih Pak, kok keras? tanya Ratih genit.
“Ini namanya sonny Ratih, sodokan nikmat” sahutku.

Saat itu, rupanya buku-buku sudah rapi disusun, dan dia bersandar ke dadaku, sehingga pantatnya terasa menekan k0ntolku. Aku tdk tahan lagi mendapat sambutan seperti ini, langsung tanganku ke depan, ku remas kedua buah dadanya. Alamaak, tanganku bertemu dengan dua bukit yg kenyal dan terasa hangat dibalik kaos dan branya.
Saat kuremas, Ratih sedikit menggelinjang dan mendesah,
“Aaahh, Pak” sambil kepalanya ditolehkan kebelakang sehingga bibir kami dekat sekali.
Kulihat matanya terpejam menikmati remasanku. Kukecup bibirnya , dia membalas kecupanku. Tak lama kemudian, kami saling berpagutan, lidah kami saling belit dalam gelora nafsu kami. K0ntolku yg tegang kutekantekankan ke pantatnya, menimbulkan sensasi luar biasa untukku (kuyakin juga untuk Ratih).
Sekitar 5 menit, keturunkan tangan kiriku ke arah pahanya. Tanpa banyak kesukaran akupun menyentuh CDnya yg ternyata telah sedikit lembab di bagian memeknya.
Kusentuh memeknya dengan lembut dari balik CDnya, dia mengeluh kenikmatan,
“Ssshh, aahh, Pak Agung, paak.. jangan di diperpustakaan dong Pak” dan akupun mengajak Ratih ke hotel transit di deketkantor saya sampai di kamar, Ratih langsung memelukku dengan penuh nafsu,
“Pak, Ratih sudah lama lho pengen ngerasain punya Bapak”
“Kok nggak bilang dari dulu Ratih?” tanyaku sambil membuka baju dan roknya.

Dan.. akupun terpana melihat pemandangan menggairahkan di tubuh Ratih ini.
Kulitnya memang tdk putih, tapi mulus sekali. Buah dadanya besar tapi proporsional dengan tubuhnya. Sementara pinggang kecil dan pinggul besar ditambah bongkahan pantatnya bulat dan padat sekali. Rupanya Ratih tdk mau membuang waktu, diapun segera membuka kancing bajuku satu persatu, melepaskan bajuku dan segera melepaskan celana panjangku.
Sekarang kami berdua hanya mengenakan pakaian dalam saja, dia bra dan CD, sedangkan aku hanya CD saja. Kami berpelukan, dan kembali lidah kami berpagut dalam gairah yg lebih besar lagi. Kurasakan kehangatan kulit tubuh Ratih meresap ke kulit tubuhku. Kemudian lidahku turun ke lehernya, kugigit kecil lehernya, dia menggelinjang sambil mengeluarkan desahan yg semakin menambah gairahku,
“Aahh, Bapak”.
Tanganku melepas kait branya, dan bebaslah kedua buah dada yg indah itu. Langsung kuciumi, kedua bukit kenyal itu bergantian. Kemudian kujilati pentil Ratih yg berwarna coklat, terasa padat dan kenyal (Beda sekali dengan buah dada isteriku), lalu kugigit-gigit kecil pentilnya dan lidahku membuat gerakan memutar disekitar pentilnya yg langsung mengeras. cerita sex
Kurebahkan Ratih ditempat tidur, dan kulepaskan CDnya. Kembali aku tertegun melihat keindahan kemaluan Ratih yg dimataku saat itu, sangat indah dan menggairahkan. Bulunya tdk terlalu banyak, tersusun rapi dan yg paling mencolok adalah kemontokan memek Ratih. Kedua belah bibir memeknya sangat tebal, sehingga klitorisnya agak tertutup oleh daging bibir tersebut. Warnanya kemerahan.
“Pak, jangan diliatin aja dong, Ratih kan malu” Kata kata.
Aku sudah tdk mempunyai daya untuk bicara lagi, melainkan kutundukkan kepalaku dan bibirkupun menyentuh memek Enny yg walaupun kakinya dibuka lebar, tapi tetap terlihat rapat, karena ketebalan bibir memeknya itu. Ratih menggelinjang, menikmati sentuhan bibirku di klitnya. Kutarik kepalaku sedikit kebelakang agar bisa melihat memek yg sangat indah ini.
“Ratih, memek kamu indah sekali, sayang”
“Pak Agung suka sama memek Ratih? tanya Ratih.
“Iya sayang, memek kamu indah dan seksi, baunya juga enak” jawabku sambil kembali mencium dan menghirup aroma dari memek Ratih.
“Mulai sekarang, memek Ratih cuma untuk Pak Agung” Kata Ratih.
“Pak Wiji mau kan?”
“Siapa sih yg nggak mau memek kayak gini Ratih?” tanyaku sambil menjilatkan lidahku ke memeknya kembali.

Ratih terlihat sangat menikmati jilatanku di klitorisnya. Apalagi saat kugigit klitorisnya dengan lembut, lalu lidahku ku masukkan ke liang kenikmatannya, dan sesekali kusapukan lidahku ke lubang anusnya.
“OooHHHh, sshsHHHhh, aahh.. Pak Agung, enak sekali Pak. Terusin ya Pak Agung sayang”
10 menit, kulakukan kegiatan ini, sampai dia menekan kepalaku dengan kuat ke memeknya, sehingga aku sulit bernafas
”Pak Agung.. aahh, Ratih nggak kuat Pak.. sshh”Kurasakan kedua paha Ratih menjepit kepalaku bersamaan dengan itu, kurasakan memek Ratih menjadi semakin basah. Ratih sudah mencapai orgasme yg pertama. Ratih masih menghentak-hentakkan memeknya kemulutku, sementara air maninya meleleh keluar dari memeknya.
Kuhirup cairan kenikmatan Ratih sampai kering. Dia terlihat puas sekali, matanya menatapku dengan penuh rasa terima kasih. Aku senang sekali melihat dia mencapai kepuasan.
Tak lama kemudian dia bangkit sambil meraih kemaluanku yg masih berdiri tegak seperti menantang dunia. Dia memasukkan kemaluanku kedalam mulutnya, dan mulai menjilati kepala kemaluanku. Ooouugh, nikmatnya, ternyata Ratih sangat memainkan lidahnya, kurasakan sensasi yg sangat dahsyat saat lidahnya itu mengenai batang kemaluanku. Agak sakit tapi justru sangat nikmat. Ratih terus mengulum kemaluanku, yg semakin lama semakin membengkak itu. Tangannya tdk tinggal diam, dikocoknya batang kemaluanku, sambil lidah dan mulutnya masih terus mengirimkan getaran-getaran yg menggairahkan di sekujur batang kemaluanku.
“Pak Agung, Ratih masukin sekarang ya Pak?” pinta Ratih.
Aku mengangguk, dan dia langsung berdiri mengangkangiku tepat di atas kemaluanku. Digenggamnya batang kemaluanku, lalu diturunkannya pantatnya. Di bibir memeknya, dia menggosok-gosokkan kepala kemaluanku, yg otomatis menyentuh klitorisnya juga. Kemudian dia arahkan kemaluanku ke tengah lobang memeknya. Dia turunkan pantatnya, dan.. slleepp.. sepertiga kemaluanku sudah tertanam di memeknya. Ratih memejamkan matanya, dan menikmati penetrasi kemaluanku.
Aku merasakan jepitan yg sangat erat dalam kemaluan Ratih. Aku harus berjuang keras untuk memasukkan seluruh kemaluanku ke dalam kehangatan dan kelembaban memek Ratih. Ketika kutekan agak keras, Ratih sedikit meringis. Sambil membuka matanya, dia berkata,
“Pelan dong Pak Agung, sakit nih, tapi enak banget”. Dia menggoygkan pinggulnya sedikit-sedikit, sampai akhirnya seluruh kemaluanku lenyap ditelan keindahan memeknya.
Kami terdiam dulu, Ratih menarik nafas lega setelah seluruh kemaluanku ‘ditelan’ memeknya. Dia terlihat konsentrasi, dan tiba-tiba.. aku merasa kemaluanku seperti disedot oleh suatu tenaga yg tdk terlihat, tapi sangat terasa dan enaak sekali. Ruaar Biasaa! Kemaluan Ratih menyedot kemaluanku!
Belum sempat aku berkomentar tentang betapa enaknya memeknya, Ratihpun mulai membuat gerakan memutar pinggulnya. Mula-mula perlahan, semakin lama semakin cepat dan lincah gerakan Ratih. Waw.. kurasakan kepalaku hilang, saat dia ‘mengulek’ kemaluanku di dalam memeknya. Ratih merebahkan badannya sambil tetap memutar pinggulnya. Buah dadanya ygbesar menekan dadaku, dan.. astaga.. sedotan memeknya semakin kuat, membuat aku hampir tdk bertahan.
Aku tdk mau orgasme dulu, aku ingin menikmati dulu memek Ratih yg ternyata ada ‘empot ayamnya’ ini lebih lama lagi. Maka, kudorong tubuh Ratih ke atas, sambil kusuruh lepas dulu, dengan alasan aku mau ganti posisi. Padahal aku takut ‘kalah’ sama dia.
Lalu kusuruh Ratih tidur terlentang, dan langsung kuarahkan kemaluanku ke memeknya yg sudah siap menanti ‘kekasihnya’. Walaupun masih agak sempit, tapi karena sudah banyak pelumasnya, lebih mudah kali ini kemaluanku menerobos lembah kenikmatan Ratih.
Kumainkan pantatku turun naik, sehingga k0ntolku keluar masuk di lorong sempit Ratih yg sangat indah itu.
Dan, sekali lagi akupun merasakan sedotan yg fantastis dari memek Ratih. Setelah 15 menit kami melakukan gerakan sinkron yg sangat nikmat ini, aku mulai merasakan kedutan-kedutan di kepala k0ntolku.

“Ratih, aku udah nggak kuat nih, mau keluar, sayang”, kataku pada Ratih.
“Iya Pak, Ratih juga udah mau keluar lagi nih. Oohh, sshh, aahh.. bareng ya Pak Wiji.., cepetin dong genjotannya Pak” pinta Ratih.

Akupun mempercepat genjotanku pada lobang memek Ratih yg luar biasa itu, Ratih mengimbanginya dengan ‘mengulek’ pantatnya dengan gerakan memutar yg sangat erotis, ditambah dengan sedotan alami didalam memeknya. Akhirnya aku tdk dapat bertahan lebih lama lagi, sambil mengerang panjang, tubuhku mengejang.
“Ratih, hh.. hh, aku keluar sayaang”
Muncratlah air maniku ke dalam memeknya. Di saat bersamaan, Ratih pun mengejang sambil memeluk erat tubuhku.
“Pak Agung, Ratih juga keluar paakk, sshh, aahh”.
Aku terkulai di atas tubuh Ratih. Ratih masih memeluk tubuhku dengan erat, sesekali pantatnya mengejang, masih merasakan kenikmatan yg tdk ada taranya itu. Nafas kami memburu, keringat tak terhitung lagi banyaknya. Kami berciuman.
“Ratih, terima kasih yaa, memek kamu enak sekali” Kataku.
“Pak Agung suka memek Ratih?”
“Suka banget Ratih, abis ada empot ayamnya sih” jawabku sambil mencium bibirnya.

Kembali kami berpagutan.
“Dibandingin sama Bu Dinda, enakan mana Pak?” pancing Ratih.
“Jauh lebih enak kamu sayang”

Ratih tersenyum.
“Jadi, Pak Agung mau lagi dong sama Ratih lain kali. Ratih sayang sama Pak Agung”
Aku tdk menjawab, hanya tersenyum dan memeluk Ratih. Sampai sekarang jadi Ratih masih menjadi kekasih gelapku.Untuk melancarkan hubungan ini,dan supaya tdkterlau mencolok ,maka saya minta pindah ke kelurahn kedoya selatan,dan Ratih saya bawa menjadi karyawan honorer di tempat saya.langsung saya belikan motor,rumah beserta isinya yg setiap saat saya bias nginep disana.
Beberapa kali istri saya,dan temen temen kantor sempet curiga,tetapi karena kepandaian saya,sehingga semuanya bias teratasi sampai sekarang
Tiap kali saya mau ngewe sama dia tinggal saya bilangada keperluan ke sudin,dan Ratih ijin pulang lebih awal.padahal Ratih sudah aku suruh tunggu di rumah temanya di kelapa dua.
Sampai sekarang hubungn ini masih berlanjut,kurang lebih sudah 6 tahun lamanya bahkan Ratih rela menceraikan suaminya demi saya. - Perselingkuhan Seorang PNS

Related Posts:

Bude Nurul Teman Ibuku

Bude Nurul Teman Ibuku - Tanpa gairah Ipul mengeluarkan sepeda motor dari ruang tamu. Setelah yakin kondisi oli mesin pada motornya masih cukup bagus, distater dan dijalankannya mesin kendaraan yg dari segi mode sudah agak ketinggalan jaman. Bunyinya berderum cukup keras, maklum motor anak muda.


“Sudah siap Pul? Bude Imah udah nungguin nih. Takut pulangnya kemalaman dan kehujanan di jalan,” suara ibunya terdengar dari ruang dalam rumahnya.
“Uh bawel amat sih. Orang baru mau manasin mesin kok,” gerutu Ipul membathin.

Gara-gara Pak Nardi (tetangganya) diam-diam kawin lagi, Ipul memang jadi ikutan repot. Sebabnya, Bu Nurul istri Pak Nardi berteman akrab dengan ibunya. Dan Bude Imah (demikian Ipul biasa memanggil Bu Nurul) atas masalahnya yg dihadapinya selalu curhat kepada ibunya yg juga ditinggal suami yg kawin lagi. Hingga saat Bude Nurul memutuskan untuk meminta bantuan dukun guna mengembalikan suaminya, atas permintaan ibunya Ipul yg diminta untuk selalu mengantarnya.
Sang dukun yg tinggal di desa terpencil, kendati masih satu wilayah kabupaten, jaraknya dari rumah Ipul lebih dari 50 kilometer. Tetapi bukan karena faktor jarak dan kondisi buruk jalan ke arah sana yg membuat Ipul enggan mengantar Bu Nurul. Apalagi wanita itu selalu mengajaknya makan dan memberikan sejumlah uang setiap Ipul sehabis mengantar.
Namun masalahnya, sudah tiga kali datang ke dukun tersebut belum ada tanda-tanda Pak Nardi akan kembali. Bahkan seperti yg diceritakan Bu Nurul pada ibunya, ulah Pak Nardi kian nekad. Seluruh pakaiannya telah dibawa ke rumah janda yg menjadi istri mudanya. Karenanya Ipul merasa, dukun itu hanya mengakali Bu Nurul yg gampang memberi uang sampai ratusan ribu rupiah sekali datang dengan dalih untuk membeli berbagai persyaratan dan sesaji.
“Nak Ipul pasti bosan ya harus ngantar-ngantar bude seperti ini,” kata Bu Nurul ketika mereka berhenti makan di warung sate langganan dalam perjalanan ke rumah sang dukun.
“Ee.. enggak Bude. Nggak apa-apa kok,” ujar Ipul yg terpaksa berhenti menikmati dua tusuk sate terakhir yg tersisa di piringnya.
Sepuluh tusuk sate di piring Bu Nurul tampak telah tandas tanpa sisa. Tetapi Ipul yakin wanita itu tdk menikmati makanannya. Karena ekspresi wajahnya terlihat masygul dan tatap matanya terlihat kosong. Pasti ia sangat tertekan gara-gara ulah suaminya. Melihat itu Ipul menggeser duduknya, merapat ke dekat Bu Nurul. Diraihnya tangan wanita itu dan digeganggamnya dengan lembut.
“Ipul siap mengantar ke manapun Bude mau pergi. Bude tdk usah ragu,” kata Ipul mencoba meyakinkan.
Cukup lama Ipul menggenggam dan meremas tangan Bu Nurul. Bahkan seperti seorang kekasih yg tengah menenangkan pasangannya yg tengah merajuk, Ipul melakukan itu sambil menatapi wajah Bu Nurul. Menatapi hidungnya yg bangir, matanya yg teduh dan bibirnya yg merah merekah.
Ipul baru menyadari pakaian yg dikenakan wanita itu berbeda dari biasanya. Dibalik jaket tipis warna hitam yg dilepasnya, Bude Nurul hanya mengenakan T shirt warna krem dipadu dengan celana panjang warna hitam. Biasanya ia selalu mengenakan rok terusan panjang yg longgar.
Ketatnya bentuk kaos dari bahan agak tipis yg dikenakan, membuat bentuk tubuhnya seperti tercetak sempurna. Di balik kaos tipis itu, sepasang buah dadanya yg berukuran besar nampak membusung dan kutang warna hitam yg dipakainya terlihat membayg. Serasi dengan perawakannya yg tinggi besar. Ke bagian menggunung itulah Ipul berkali-kali mencuri pandang. Juga ke leher jenjangnya yg putih seksi meski sudah ada kerutan karena usianya.
Kendati usianya memasuki kepala 5, Bu Nurul belum kehilangan pesonanya. Karena itulah Ipul sering mencuri-curi pandang menatapi keindahan pinggul dan pantat besarnya serta tonjolan buah dadanya ketika wanita itu cuma mengenakan kaos oblong dan celana training ketat saat hendak berangkat dan sepulang senam dengan ibunya.
Saat telanjang, bentuk tubuhnya pasti jauh lebih merangsang, demikian Ipul selalu membathin setiap melihat wanita itu habis bersenam. Karenanya Bu Nurul selalu menjadi wanita favorit yg dihadirkan dalam angan-angannya saat beronani.
Sambil mengocok sendiri kontolnya untuk menyalurkan hasrat biologisnya, Ipul memang selalu membaygkan nikmatnya dada besar dan vagina Bu Nurul bila disetubuhi. Makanya ia tdk habis pikir dengan tindakan Pak Nardi yg jatuh ke pelukan wanita lain. Diperlakukan sedemikian rupa oleh Ipul, Bu Nurul sebenarnya sangat senang dan tersanjung karena ada laki-laki muda yg memberinya perhatian. Hanya seorang wanita pengunjung warung yg lain, menatapinya dengan tatapan aneh hingga Bu Nurul segera menarik tangannya dari genggaman dan belaian Ipul.
“Satenya tdk dihabiskan Nak Ipul? Kalau tdk yuk kita berangkat. Nanti kemalaman di jalan,” ujarnya.
Kunjungan keempat ke rumah sang dukun ternyata sia-sia. Sang dukun ternyata tdk berada di tempat. Kata istrinya, ia tengah ke Jakarta untuk mengobati pasien selama sepekan. Maka diputuskan untuk pulang secepatnya karena mendung di langit mulai menggantung dan cukup tebal. Bu Nurul nampak kecewa. Dalam perjalanan pulang, baru beberapa kilometer dari tempat tinggal sang dukun, hujan mengguyur deras. Air seperti tercurah dari langit.
Saat itu, Ipul dan Bu Nurul yg berboncengan sepeda motor tengah berada di posisi jalan sebuah kawasan hutan. Hingga tdk memungkinkan bagi keduanya mencari tempat berteduh. Dalam terpaan derasnya air hujan dan hawa dingin yg menusuk, Ipul yg mengenakan jaket kulit tebal tak kelewat terpengaruh oleh cuaca tersebut. Ipul hanya merasakan dingin di bagian pinggang ke bawah. Karena celana jins yg dikenakan basah kuyup oleh hujan.
Tetapi tdk bagi Bu Nurul. Ia memang memakai jaket. Namun jaket yg dipakainya dari bahan kain yg kelewat tipis hingga air hujan langsung meresap menembus ke semua lapis pakaian yg dikenakannya. Termasuk ke kutang dan celana dalamnya. Karena dingin yg dirasakan ia yg tadinya membonceng agak merenggang, mulai merapat ke depan menempel ke tubuh Ipul. Bahkan kedua tangannya akhirnya melingkar, memeluk tubuh pria muda anak teman baiknya tersebut kendati agak canggung.
Perubahan posisi yg dilakukan Bu Nurul dalam membonceng sepeda motornya, diyakini Ipul dilakukan wanita itu untuk mengurangi dingin akibat hujan. Namun yg membuatnya risih dan kurang berkonsentrasi dalam mengemudi, ia merasakan buah dada Bu Nurul jadi menempel ketat ke punggungnya. Sepasang payudara yg ia yakin ukurannya cukup besar itu, terasa empuk dan sesekali menekan punggungnya. Membaygkan itu, gairah mudanya jadi terbakar.
Timbul pikiran nakal di kepala Ipul. Saat tubuh Bu Nurul agak merenggang, diinjaknya rem dengan mendadak. Seolah hendak menghindari jalanan berlubang. Dengan begitu tubuh wanita yg diboncengnya terdorong ke depan hingga kembali dirasakan tetek Bu Nurul menekan punggung. Ia melakukannya berkali-kali dan berkali-kali pula tetek besar Bu Nurul menumbuk punggungnya. Hasrat Ipul jadi kian terpacu dan fantasinya makin melambung.
Awalnya Bu Nurul mengira injakan rem dilakukan karena Ipul benar-benar tengah menghindari lubang. Namun setelah beberapa kali terjadi dan dilihatnya jalanan yg dilalui sangat mulus, ia menjadi curiga. Terlebih ketika ia disadarkan pada sikap Ipul saat di warung yg seperti tak lepas memadangi busungan buah dadanya. Menyadari itu, Bu Nurul yakin Ipul sengaja melakukannya agar buah dadanya merapat dan menekan punggungnya.
Sejak 5 bulan terakhir, terlebih sejak suaminya mengawini janda muda, Pak Nardi memang sudah tdk menyentuhnya lagi. Ulah nakal Ipul membuat gairah Bu Nurul jadi terpicu. Puting teteknya mengeras mengharap belaian dan remasan mesra. Tanpa sadar ia menggeser posisi duduknya di boncengan sepeda motor. Maju ke depan, merapat serapat-rapatnya ke tubuh yg memboncengkannya. Hingga buah dadanya menempel ketat ke punggung Ipul. Ia yakin pemuda anak temannya bisa merasakan besarnya buah dada yg dimilikinya.
Seperti halnya Bu Nurul yg mulai terangsang gairahnya akibat buah dadanya yg menggesek-gesek punggung pemuda itu, reaksi Ipul malah lebih jauh. Selama ini ia selalu membaygkan tetek Bu Nurul saat beronani. Kini daging empuk dan kenyal itu menempel di punggungnya hingga tak terasa kontolnya mulai mengeras di balik jins ketatnya yg basah oleh hujan.
Hujan mengguyur kian deras dan bahkan mulai kerap ditingkahi oleh suara guruh yg menggelegar serta kilat yg menyambar. Ketika dilihatnya sebuah bangunan pos polisi hutan di pinggir hutan jati, Bu Nurul yg menjadi ketakutan meminta Ipul berhenti untuk berteduh.
“Kita berhenti dan numpang berteduh dulu Nak Ipul. Takut ah kalau terus di jalan,” ujarnya.
Bangunan pos polisi hutan itu kosong tanpa seorang petugas pun di dalamnya. Ada bale besar dari kayu dengan alas tikar. Bahkan di lantai bagian tengah bangunan ada semacam tungku dengan setumpuk kayu bakar kering. Mungkin biasa dipakai para petugas untuk merebus air atau menanak nasi. Sebuah tempat ideal buat berteduh di hari hujan dan cuaca dingin karena di dalamnya bisa memanaskan diri dengan membakar kayu dalam tungku.
Setelah mencopot jaketnya dan menggantungkannya pada paku yg menempel pada tiang bangunan pos polisi hutan, Ipul segera berusaha menyalakan api dalam tungku. Untung ada sisa minyak tanah dalam keleng yg ada di sudut ruang. Dengan bantuan korek Zipo-nya, api langsung menyala membakar ranting-ranting kayu kering.
Tetapi berbeda dengan Ipul yg mulai merasa nyaman dengan kehangatan yg didapat dari posisinya yg berjongkok di depan perapian, Bu Nurul terlihat gelisah. Ia berdiri mematung sambil bersedekap menahan dingin.
“Bude, kenapa di situ. Sini di depan tungku biar hangat,” panggil Ipul melihat wanita teman ibunya seperti menggigil kedinginan.
“Iya nih dingin banget. Eee .. Nak Ipul, jaket kulitnya Bude pinjam dulu ya. Kayaknya bagian dalamnya kering biar tubuh Bude agak hangat,” ujar Bude Nurul.
“Oh silahkan-silahkan Bude, pakai saja,” kata Ipul. Bahkan dengan sigap ia langsung berdiri mengambil jaket tersebut dan bermaksud membantu memakaikannya.
“Nanti dulu Nak, Bude mau copot dulu semua baju ini. Soalnya celana dalam dan kutang Bude ikut basah semua. Ta…… tapi kira-kira ada orang ke sini nggak ya?,” kata Bude Nurul lagi sambil memutarkan pandangannya ke arah luar bangunan tersebut.

“Ah kayaknya nggak ada Bude. Nggak mungkin ada yg datang ke hutan di tengah hujan deras begini,”
Meski agak ragu, Bu Nurul akhirnya membukai pakaiannya. Bukan hanya jaket hitamnya yg basah. Kaos ketat warna krem yg dipakainya pun tak kalah kuyup. Setelah Bu Nurul melepaskan jaket dan menaruhnya di balai-balai yg ada, terpampanglah lekuk-liku tubuh wanita itu. Kaos yg dipakainya memang kelewat basah hingga lengket ke tubuhnya.
Ipul yg berdiri di belakang wanita itu berkali-kali menelan ludah karena lekuk-liku tubuh di hadapannya menjadi seperti telanjang. Namun yg membuat Ipul kian gelagapan adalah saat setelah Bu Nurul melepas kaos dan kutang hitamnya. Seperti yg diminta wanita itu, seharusnya dari arah belakang Ipul segera membantu mengenakan jaket kulit yg dipegangnya. Tetapi tubuh telanjang di hadapannya kelewat menarik untuk dilewatkan hingga Ipul lupa dengan yg harus dilakukan. Ia baru tersadar ketika Bu Nurul mengingatkannya.
“Bude kedinginan Pul, tolong jaketnya dipakaikan,” ujar wanita itu.
Ia tampak menggigil kedinginan. Tergesa Ipul segera memakaikan jaket kulit miliknya. Menutupkannya ke tubuh telanjang Bu Nurul. Namun karena kelewat tergesa, tanpa segaja tangan Ipul menyentuh tetek wanita itu. Payudara Bu Nurul yg ukurannya cukup besar terasa empuk dan lembut. Bahkan jemari Ipul sempat pula menyentuh putingnya yg mencuat dan terasa agak keras.
“Ma.. maaf Bude, sa .. saya tdk sengaja,” Ipul berusaha menarik tangannya setelah sesaat sempat menikmati kelembutan buah dada Bu Nurul.
Tetapi anehnya, Bu Nurul seolah mencegahnya. Dipegangnya tangan Ipul dan tetap ditekankannya pada buah dadanya. Seolah memberi kesempatan pemuda itu untuk menggeraygi teteknya.
“Dingin banget ya Pul. Kamu nggak kedinginan?”
“I.. iya Bude, sebenarnya Ipul juga kedinginan,” kata Ipul menimpali.

Dari usaha Bu Nurul agar ia tdk melepaskan sentuhannya pada buah dadanya dan pernyataannya soal kedinginan, Ipul menebak wanita itu membutuhkan sentuhan kehangatan. Namun ia tdk berani terlalu gegabah mengingat perbedaan usia yg sangat jauh dan wanita itu adalah teman dekat ibunya.
Karenanya meskipun ia sangat ingin meremasi tetek Bu Nurul yg sudah ada dalam genggamannya, Ipul tdk berani melangkah lebih jauh. Takut dianggap kurang ajar dan berpengaruh pada hubungan baik ibunya dan Bu Nurul.
“Tadi waktu di warung Ipul ngelihatin tetek Bude terus kan? Juga sengaja main injak rem agar tetek Bude nempel di punggung Ipul kan? Kok setelah ada di pegangan malah didiamkan? Bude sudah tua sih, jadi teteknya udah nggak menarik bagi Ipul,” kata Bu Nurul lagi.
Pernyataan itu membuat Ipul semakin yakin bahwa Bu Nurul mengharapkan sentuhan kehangatan. Sekaligus mengingatkan agar Ipul mengambil insiatif melakukan sentuhan-sentuhan yg mengundang gairah. Maka peluang itu langsung disambutnya. Tangan Ipul yg semula hanya menangkup memegangi busungan buah dada wanita itu, kini mulai berani meremasinya. Remasan yg tdk hanya memberi kehangatan pada diri Bu Nurul yg sudah lama tdk disentuh suaminya, juga memuaskan dahaga Ipul yg selama ini hanya bisa membaygkan kemontokan busung dada wanita itu saat beronani.
“Sa.. saya suka banget tetek Bude. Sebenarnya saya sering membaygkannya khususnya kalau habis lihat Bude. Saya suka membaygkan bentuk tubuh Bude kalau telanjang, pasti sangat merangsang,” ujar Ipul semakin berani.
“Masa? Kalau begitu remaslah Pul, lakukan apa saja yg kamu suka pada tubuh Bude. Sudah lama Pak Nardi nggak menyentuh Bude sejak tergoda janda itu,” kata Bu Nurul sambil membalikkan tubuh.

Kini, yg sebelumnya cuma hanya ada di angan-angannya benar-benar terpampang di hadapannya. Tubuh Bu Nurul yg nyaris bugil karena hanya tersisa celana dalam warna hitam yg masih dipakainya setelah jaket yg dipakainya dibiarkan terjatuh ada di depannya. Ah tubuh Bu Nurul ternyata benar-benar masih sangat menawan. Lebih dari yg kubaygkan, begitu Ipul membathin. cerita sex
Postur tubuh Bu Nurul yg tinggi, montok dan berisi benar-benar menawan di mata Ipul. Payudaranya besar, mengkal, meski agak turun menyerupai buah kelapa. Pinggangnya ramping dan makin ke bawah pinggulnya yg masih terbungkus celana dalam warna hitam makin membesar seperti gentong besar.
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan yg ada, Ipul langsung menubruk dan memeluk tubuh telanjang teman baik ibunya itu. Dengan rakus dihisap-hisapnya puting susu kiri Bu Nurul dengan mulutnya. Puting berwarna coklat kehitaman itu terasa mengeras di mulut Ipul setelah dihisap dan dipermainkan dengan lidah. Kedua tangan Ipul juga meliar di tubuh montok wanita itu.
Sambil terus menghisapi tetek wanita itu, tangan kanan Ipul meremasi dan memain-mainkan buah dada Bu Nurul yg lain. Sedangkan telapak tangannya yg sebelah kiri merayap meremasi bongkahan pantat besarnya. Bu Nurul menggelinjang, menahan gairah yg menjadi terbangkitkan. Ia tak menygka, pemuda anak teman baiknya ternyata menyimpan nafsu terpendam pada dirinya.
Bila diperhatikan seksama, sebenarnya tanda-tanda ketuaan pada Bu Nurul sudah sangat kentara. Wanita berambut sebahu yg bertubuh tinggi besar itu, pada bagian perutnya sudah tdk rata. Agak membusung dan sudah ada lipatan-lipatan kecil. Namun di mata Ipul, itu tanda-tanda kematangan pada wanita dan membuatnya makin terangsang.
Puas menghisapi tetek Bu Nurul dan meremasi bongkahan pantat besarnya, perhatian Ipul mulai tertuju ke selangkangan wanita itu. Bagian di bawah perut yg tertutup celana dalam warna hitam itu, tampak gembung dan membusung. Bahkan terbentuk sebuah celah membujur karena celana dalam yg menutupnya melekat rapat karena basah kuyup akibat air hujan.
Di bagian paling peka milik wanita itulah tangan Ipul kini meliar. Diusapnya perlahan vagina Bu Nurul dari bagian luar celana dalam yg masih membungkusnya. Ipul yg memang belum pernah menyentuh kemaluan wanita, seolah ingin menikmati dan merasakan setiap inchi dari busungan vagina wanita itu. Selama ini ia hanya melihat vagina wanita dewasa dari video porno yg sering dilihatnya.
Dijalari jari-jari tangan Ipul di bagian yg paling peka, Bu Nurul kian mendesah. Terlebih bukan cuma sentuhan-sentuhan di vaginanya yg membuat gairahnya terbangkitkan. Tetapi karena pentil-pentil teteknya juga mulai menjadi sasaran kuluman dan hisapan pemuda itu.
“Ssshhh… sshh… aaahhh…ahhhh… terus hisap tetek Bude Pul. Aaahhh… ee.. enak banget Pul, ya… ya terus .. terus hisap,” Bu Nurul tak mau kalah.
Sambil menikmati sentuhan jemari Ipul di vaginanya dan hisapan pemuda itu di pentil susunya, tangan wanita itu merayap berusaha membuka kancing celana pemuda anak teman akrabnya. Akhirnya, setelah Ipul membantunya dengan membuka kancing celana jinsnya dan sekaligus memelorotkannya bersama CD nya, Bu Nurul menemukan apa yg dicari-carinya. Tanpa melihatnya Bu Nurul tahu ukuran ****** Ipul tergolong besar dan
panjang. Terlebih jika dibandingkan dengan milik suaminya. Dibelai-belainya batang penis Ipul dan kepala penisnya yg membonggol dan sesekali dengan gemas ia meremasnya. Demikian pula Ipul. Tak puas hanya meraba dan mengusapi vagina Bu Nurul dari luar celana dalamnya, kini jari-jarinya berusaha menyelinap mencari celah agar bisa menyentuh kemaluan wanita yg seusia dengan ibunyaitu. Hanya karena celana dalam warna hitam yg dipakai Bu Nurul kelewat ketat, Ipul agak kesulitan untuk menyingkapkannya.
Akhirnya, setelah melepas kulumannya pada puting-puting susu Bu Nurul, Ipul langsung berjongkok. Celana dalam warna hitam milik wanita ia pelorotkan melewati pinggul dan pantat besarnya hingga sebuah pemandangan yg sangat menggairahkan terpampang di hadapannya. Di selangkangannya, di antara kedua paha membulat Bu Nurul terlihat vaginanya yg membusung. Ipul terpana sesaat. Seperti yg selama ini ia baygkan, vagina Bu Nurul benar-benar besar dan tembem. Ia tak menygka bisa mendapat kesempatan untuk melihat dan menyentuh vagina yg oleh pemiliknya telah dipangkas habis bulu-bulunya itu. Peris di bagian pusar dan bawah perut wanita yg sudah tdk rata lagi itu, sudah banyak lipatan dan kerut-kerut di permukaan kulitnya.
Sedangkan di bagian bawahnya lagi, yg merupakan bagian atas dari vagina Bu Nurul terlihat membentuk semacam gundukan daging dengan permukaan yg lebar dan tebal. Sebenarnya Ipul ingin meminta Bu Nurul membuka dan merenggangkan kakinya yg yg berdiri merapat agar pahanya terbuka hingga ia bisa melihat seluruh bagian vaginanya.
Karena dalam posisi berdiri merapatkan kaki, vagina teman ibunya tdk terlihat sampai keseluruhan lubangnya. Seperti balita baru mendapatkan mainan baru yg menarik hatinya, Ipul mulai mengusap-usap gundukan daging yg terasa hangat di telapak tangannya. Ipul agak grogi saat mengusapi vagina Bu Nurul. Usapannya perlahan karena ia baru pertama kali menyentuh bagian paling merangsang pada tubuh wanita tersebut hingga Bu Nurul mengira Ipul kurang menyukainya.
“Bude kan udah tua Pul, jadi vaginanya udah agak peyot. Pasti jauh merangsang di banding punya pacar Ipul ya?”
“Eng… enggak Bude. Sungguh punya Bude merangsang banget. Saya sangat suka. Saya belum punya pacar dan baru kali ini menyentuh yg seperti ini Bude,” ujar Ipul.
“Masa? Kalau melihat?” Kata Bu Nurul
“Kalau di film BF sering. Ju.. juga saya pernah mengintip dan melihat vagina Bude. Waktu itu Bude mandi numpang mandi di rumah. Saya seneng banget sekarang bisa melihat dan memegang langsung,”

Bu Nurul senang sekaligus bangga mendengar jawaban jujur Ipul. Ia tak menygka anak teman baiknya selama ini menjadi pengagum dirinya secara diam-diam. Ia yg tadinya ragu dan malu untuk memperlihatkan seluruh bagian vaginanya dengan merapatkan kakinya karena takut mendapat penolakan dari Ipul menjadi percaya diri.
Direnggangkan dan lalu diangkatnya kaki kanannya serta ditumpukannya pada pinggiran bale kayu yg ada di dekatnya hingga terpampanglah seluruh bagian vaginanya di hadapan pemuda itu. Ipul kian terperangah. Lekat-lekat ditatapinya vagina Bu Nurul. Di bagian tengah yg menggunduk ada celah memanjang dengan bagian daging yg menebal di bagian bibir luar vagina Bu Nurul. Warnanya coklat hitaman, berkerut-kerut dan mengeras seperti bagian daging yg sudah kapalan. Kontras dengan warna daging merah muda di bagian dalam yg terlihat agak basah. Di bagian atas mendekati ujung celah lubang vagina itu, sebentuk tonjolan daging sebesar biji jagung tampak mencuat.
Mungkin ini yg dinamakan itil, pikir Ipul membatin dan itu kian membuatnya terangsang. Rupanya bagian itu kelewat menarik untuk dilewatkan hingga Ipul tergerak untuk menyentuhnya. Diawali dengan mengusap-usap bibir luar vagina Bu Nurul yg berkerut dan terasa kasar, ujung jari Ipul mulai menelusup masuk ke celahnya lalu menyentuh dan menggesek-gesek tonjolan daging mungil itu.
Mendapat rangsangan di bagian paling peka pada kelaminnya, Bu Nurul yg sudah cukup lama tdk dientot Pak Nardi suaminya, tubuhnya menjadi tergetar hebat. Terlebih ketika itilnya mulai dipermainkan Ipul dengan intensitas sentuhan yg makin kerap.
“Ooouuww.. sshh… sshhh ..ahhh..ahh.. ahh…ssshh. Itil Bude kamu apakan Pul? Ahhh… ssshhhh….ssshhhh….akkhhhhh… enak.. banget Pul,” lenguh Bu Nurul mendesah.
Namun yg membuat Bu Nurul makin menggelinjang seperti cacing kepanasan serta berkali-kali vaginaik tertahan menahan nikmat yg tertahankan adalah tatkala dirasakan bibir vaginanya serasa dilumat. Karena sangat terangsang, Ipul memang akhirnya melumat bibir luar kemaluan Bu Nurul dengan mulutnya. Ia sebenarnya hanya meniru adegan yg sering ditontonnya dalam adegan film mesum.
Tetapi ternyata, ulahnya itu membuat Bu Nurul kelojotan menahan nikmat. Bahkan ketika Ipul mengecupi dan menghisapi itilnya, erangan dan rintihan Bu Nurul semakin kencang. Ipul jadi semakin bersemangat. Lidahnya tak hanya disapu-sapukan tetapi dijulur-julurkan masuk ke kedalaman lubang nikmat Bu Nurul yg mulai terasa asin karena banyaknya cairan pelicin yg keluar.
Merasa pertahanannya hampir jebol dan didorong keinginannya untuk segera merasakan batang penis Ipul yg berukuran ekstra besar dan panjang, Bu Nurul meminta Ipul menghentikan aksi obok-obok vagina dan itil dengan mulut dan lidahnya.
“Sshh.. sshh.. aahhh.. ahhh… ahhh. Udah Pul, Bude nggak tahan.” kata Bu Nurul sambil menarik kepala Ipul menjauh dari selangkangannya.
Lalu diajaknya Ipul ke bale kayu tempat para penjaga hutan melepas lelah. Di bale kayu itu, Bu Nurul langsung merebahkan tubuh telentang dan membuka lebar pahanya. Ipul tahu tugas yg menunggunya kini adalah menyogok lubang vagina teman ibunya yg memang sudah lama ingin dinikmatinya. Seperti tak sabar Bu Nurul langsung menggenggam penis Ipul ketika pemuda itu telah berada di atas tubuhnya. Ujung penis Ipul yg membonggol besar di arahkannya tepat di tengah lubang vaginanya.
“Masukkan Pul.. ahhh ..ahhh Bude udah kepengen merasakan kontolmu,”
“Sa… saya juga Bude. Ipul sudah lama pengen ngentot dengan Bude. Ipul suka vagina Bude,”
“I.ii. iya Pul, cepat tekan dan masukan kontolmu,” ujar Bu Nurul.

Akhirnya, Ipul menurunkan pinggulnya. Ujung penisnya menyentuh bibir luar vagina Bu Nurul yg sudah menunggu untuk disogok. Tetapi karena kepala penis Ipul kelewat membonggol dan berukuran cukup besar, tak mudah untuk masuk meskipun vagina Bu Nurul tergolong sudah oblong.
“Kayaknya penis kamu gede banget Pul. Jauh lebih gede dibanding punya Pak Nardi jadi agak sulit masuknya,”
“Te… terus gimana Bude?,” Kata Ipul bingung.
Namun Bu Nurul tdk kehilangan akal. Dikeluarkannya ludah dari mulutnya dan ditampungnya di telapak tangannya. Lalu, ludah itu dibalur-balurkannya di ujung penis Ipul agar bisa menjadi semacam pelumas.
“Udah Pul, masukkan lagi kontolmu tapi pelan-pelan ya,”
“Ii… iya Bude,”

Karena terburu-buru dan sama sekali belum pernah melakukannya, ujung rudal Ipul sempat meleset. Kepala penis pemuda itu terantuk di bagian atas lubang vagina Bu Nurul dan hanya mengenai itilnya hingga wanita itu vaginaik. Baru setelah dipandu tangan Bu Nurul, sedikit demi sedikit ujung penis Ipul mulai masuk dan akhirnya bleesss! penis Ipul berhasil masuk sepenuhnya ke lubang nikmat itu setelah ia sedikit menyentaknya dan membuat Bu Nurul kembali vaginaik.
“Sa… sakit Bude?”
“Eee .. enggak Pul. Bude cuma kaget. penis kamu gede banget,”

Sudah sangat sering Ipul membaygkan nikmatnya bersetubuh dengan Bu Nurul sambil mengocok-ngocok sendiri kontolnya. Tetapi ternyata, jauh lebih nikmat ngentot langsung dengan wanita itu. Batang kontolnya yg telah membenam di lubang kenikmatan teman ibunya itu, terasa hangat dan nikmat dijepit dinding-dinding vagina Bu Nurul. Disogok penis pemuda berukuran besar, wanita yg sudah lama tdk menikmati permainan ranjang sejak suaminya menikah lagi itu mengulum senyum. Senyum yg membuat wajah tuanya kembali kelihatan cantik dan membuat Ipul tergerak untuk melumat bibirnya. Ciuman itu langsung disambut Bu Nurul dengan lebih panas. Lidah Ipul yg terjulur langsung dihisapnya hingga bukan hanya kemaluan keduanya yg beradu di bagian bawah tetapi mereka juga saling hisap dengan kedua mulutnya.
Hari semakin gelap dan hujan yg mengguyur kawasan hutan jati kian menderas diseling bunyi guruh yg sesekali menggelegar. Namun cuaca buruk yg tengah berlangsung tak mempengaruhi panasnya gairah yg tengah disalurkan pasangan itu. Desahan dan erangan nikmat yg keluar dari mulut pasangan itu seolah ingin mengalahkan bunyi halilintar yg menggelegar.
Bu Nurul benar-benar dibuat melayg dan dihantarkan pada kenikmatan yg belum pernah dirasakan sebelumnya setelah Ipul menaik-turunkan pinggulnya dan memaju-mundurkan batang kontolnya di lubang vaginanya. Apalagi Ipul juga sesekali menyelingnya dengan meremasi susunya yg besar. Bahkan tdk jarang Ipul juga memilintir dan memijit puting teteknya yg membuatnya merintih menahan nikmat.
“Terus Pul… sshhh….. ssshhh…. aahh…. aahhh… enak banget entotanmu Pul. Ssshhhh… sshhhhh…. Bude nggak pernah merasakan seenak ini bila dengan Pak Nardi. Aaahhh….. aaauuwww…. sshhhh… sshhhhh,”
Dulu, semasa Pak Nardi belum kena pelet dan akhirnya mengawini seorang janda, sikap Bu Nurul dalam melayani suaminya sebenarnya tergolong biasa-biasa saja. Apalagi Pak Nardi tergolong kurang potensinya dalam urusan ranjang. Hingga ia merasa tdk perlu menservisnya dan dalam melayani sekadar asal suami bisa muncrat saja air maninya.
Namun menghadapi Ipul dengan tenaga muda serta kekerasan batang kontolnya yg mampu membuatnya merintih nikmat, Bu Nurul merasa harus memberikan respon yg sepadan. Maka sambil menggoyg pinggul dan memutar-mutarkan pantat besarnya, otot-otot bagian dalam vaginanya juga ikut dikejut-kejutkan hingga mampu mencengkeram kuat batang penis pemuda itu. Apa yg dilakukan Bu Nurul membuat batang penis Ipul serasa dihisap hingga memberi kenikmatan tiada tara.
Permainan panas keduanya mendekati puncaknya setelah irama goygan dan hunjaman yg berlangsung dalam gelap mulai tdk teratur. Ipul mulai menancapkan batang kontolnya di lubang vagina Bu Nurul dengan sentakan-sentakan. Sementara Bu Nurul sesekali mulai mengangkat tinggi-tinggi pantatnya.
“Sshhh… ookkkhhh…. oookkkk.. enak banget… enak banget. Ahhhh….ahhh… ssshhh terus Pul… enak banget. Akhhh…. bude hampir keluar.. Pul… ohhhkkhhhh,”
“Ipul juga Bude… aahhhh….. aahhhkk…. terus hisap Bude. Akhhhh….ya…. terusshhhh…. akkhhh vagina Bude anak banget,”

Akhirnya, diawali dengan tubuh mengejang Bu Nurul akhirnya menggelepar menikmati orgasme yg didapatnya. Ditandai dengan semburan hangat dari setiap sudut di lubang vaginanya membasahi batang penis Ipul.
Seperti halnya Bu Nurul, di saat yg hampir bersamaan Ipul juga merasa tak mampu lagi membendung apa yg ingin dimuntahkannya.
Setelah mengerang menahan nikmat tiada tara yg didapatnya, Ipul akhirnya ambruk di tubuh montok wanita itu. Tak kalah banyak, air mani Ipul juga menyembur bak lahar panas. Membanjir berbaur dengan cairan yg keluar dari lubang vagina wanita teman dekat ibunya. Keduanya baru menyadari bahwa hari telah beranjak malam setelah beberapa saat melepas lelah dari permainan nikmat yg baru dilakukan.
Dalam gelap dan hanya diterangi sinar dari nyala api di tungku perapian yg ada di tempat berteduh penjaga hutan itu, Ipul segera mengumpulkan pakaiannya untuk dikenakan. Begitu juga Bu Nurul. Setelah semua pakaian dikenakan, Ipul langsung menstater motornya dan melesat menembus kegelapan hutan jati. Hanya, sepanjang perjalanan pulang keduanya terdiam membisu.
Suasana kaku itu baru cair setelah Ipul menghentikan motornya karena berniat membeli rokok di sebuah kios di sebuah kampung.
“Nih pakai uang Bude saja Pul,” kata Bu Nurul menyodorkan lembaran seratus ribu rupiah.
Ipul membeli sebungkus rokok dan dua botol air mineral yg langsung ditenggaknya. Botol air mineral yg lain disodorkannya kepada bu Nurul sambil menyerahkan uang kembalian. Namun Bu Nurul hanya mau menerima air mineralnya saja yg juga langsung dibuka dan diminumnya.
“Kembaliannya kamu kantongi saja untuk beli bensin,” ujarnya.
Setelah kembali berada di atas sepeda motor, Bu Nurul kembali membuka percakapan.
“Kok Ipul diam saja sih. Nyesel ya melakukan itu dengan orang setua Bude?”
“Ih enggak Bude. Sungguh. Ipul diam karena takut Bude marah. Sungguh Ipul sangat senang berkesempatan berdua dengan Bude seperti tadi,” kata Ipul.

Bu Nurul yg sempat canggung, kini kembali merapatkan posisi duduknya dalam membonceng dan tangannya memeluk tubuh Ipul dari belakang. Sikap mesra keduanya mirip sepasang kekasih yg tengah menikmati masa-masa indah berpacaran karena angan mereka melambung pada bayg-bayg kenikmatan yg baru direguknya. - Bude Nurul Teman Ibuku

Related Posts: