Tetanggaku Yang Chinese

Tetanggaku Yang Chinese – Sore hari aku tiba di rumah kontrakanku, setelah rapi memarkirkan mobilku kulihat jam menunjukkan pukul 17.30, sambil melangkah kearah rumahku aku mengunci mobilku dengan menggunakan remote, suasana rumah kontrakan saat itu sangat sepi, aku sedikit heran tak seperti biasanya, biasanya jam-jam segini suasana rumah kontrakan cukup ramai, ibu-ibunya sedang pada ngobrol di salah satu teras rumah, begitu juga dengan bapak-bapaknya, tapi sekarang ini tidak ada satupun yang terlihat sedang mengobrol, dan semua pintu rumahnya tertutup, dan tidak ada satupun lampu yang menyala dari dalam rumah, yang menyala hanyalah lampu teras masing-masing.


Setelah kuperhatikan hanya satu rumah yang menyala yaitu rumah yang berada di sebelah rumahnya mbak Siti, kalau gak salah rumah ini di isi oleh 2 orang kakak beradik, kedua-duanya perempuan dan keturunan Chinese, aku sering ketemu mereka saat aku berangkat kerja, sang kakak bekerja di sebuah perusahaan asing, orangnya lumayan cantik dan sexy, tapi yang jelas sich warna kulitnya kuning langsat, namanya kalau gak salah Winda sedangkan Cika adalah nama sang adik, katanya sich dia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi swasta, seperti yang pernah di ceritakan oleh mbak Yanti, kalau kuperhatikan si Cika ini juga tak kalah cantik dengan kakaknya kalau kulitnya sich sama kuning langsat, sementara tubuhnya juga kalau kulihat sich lumayan sexy, keduanya belum pernah kulihat memakai pakaian ketat jadi sampai saat sekarang belum kuketahui sesexy apa mereka.
Yang kuheran tidak kulihat ada mobil lain tadi saat kumasuki pekarangan rumah kontrakan, karena kutahu mereka mempunyai sebuah mobil, berarti yang ada di rumahnya ini kalau gak sang kakak berarti sang adik, karena mobil mereka tidak ada di tempatnya, berarti hanya salah satu dari mereka yang sudah pulang.
Kuperhatikan rumah mbak Siti dan mbak Yanti, keduanya sama-sama gelap, begitu juga rumah yang diujung, sementara ke 5 rumah yang berhadapan dengan rumah kamipun sama-sama gelap, aku menjadi heran sendiri, sambil meneruskan langkah kakiku menuju rumahku, setelah mengunci pintu dan menyalakan lampu-lampu aku mulai melepaskan seluruh pakaianku dan mengenakan celana boxerku saja, akupun lalu menuju kebelakang untuk membersihkan badanku.
Selesai mandi aku lalu menyalakan TV sambil menikmati nasgor yang sempat kubeli tadi sebelum pulang kerumah kontrakanku, saat itu tayangan di TV sedang menayangkan berita, aku baru sadar bahwa besok adalah hari Kamis dan bertepatan dengan hari libur nasional, dan biasanya banyak pegawai-pegawai perusahaan yang mengambil cuti bersama pada hari jumatnya karena hari Sabtu kantor-kantor semuanya tutup. Pantas rumah kontrakan pada sepi rupa-rupanya orang-orang pada berlibur panjang, sialan kataku dalam hati, empat hari tanpa kemaluan perempuan yang dapat memuaskan nafsu birahiku, 4 hari tanpa adanya meki mbak Siti ataupun meki mbak Yanti, dan aku juga malas untuk pergi ke Bandung, karena pasti jalanan pada macet.
Kalau yang dientotin cewek-ceweknya seperti kakak beradik Winda dan Cika sich enak, pikirku. Udah kuning langsat kulitnya, tubuh mereka juga ramping dan aku berani bertaruh payudara mereka juga pasti masih bagus bentuknya, membayangkan mereka saja membuat batang kemaluanku perlahan-lahan bangkit, setelah menyelesaikan makan malamku, aku termenung sendiri di ruangan santaiku sambil menonton acara TV, tapi pikiranku masih berkutat dengan siapa aku akan melampiaskan hasrat birahiku, sambil mengusap-usap batang kemaluanku yang sudah berdiri dari sebelah luar celana boxerku.
Seperti biasanya aku tidak pernah mengenakan CD di balik celana boxerku, saat aku sedang santai seperti sekarang ini, terlihat celana boxerku menonjol karena kemaluanku yang sudah seratus persen tegang, masih merasa penasaran dengan suasana rumah kontrakan yang tadi sepi kulihat, akupun beranjak keluar rumahku, kulihat suasananya masih sepi seperti tadi, tidak nampak tanda-tanda kehidupan di setiap rumahnya, hanya satu rumah saja yaitu rumah kakak beradik Winda dan Cika saja yang menyala lampu di dalam rumahnya.
Aku melangkahkan kakiku ke area parkiran, dan kulihat hanya satu mobil saja yang berada di sana yaitu mobilku, mobil kakak-beradik Winda dan Cikapun tidak terlihat, dengan penasaran kudekati rumah mereka dan kutempelkan telingaku di pintu mereka, berusaha untuk mendengarkan suara-suara dari dalam rumah, sayup-sayup kudengar suara dari dalam rumah, tapi tidak dapat kutangkap dengan jelas, karena suara itu berasal dari ruangan belakang rumah mereka, aku kembali kedalam rumahku dan mengunci pintunya, setelah itu aku melangkahkan kakiku keluar pintu belakangku, kutengok kearah rumahnya mbak Yanti, tidak ada tanda-tanda kehidupan didalam rumahnya, kutengok juga rumah mbak Siti sama tidak ada gerakan apapun di dalam rumahnya.
Dengan nekat aku melangkahkan kakiku melompati tembok pembatas rumahku dengan rumahnya mbak Siti, kuperhatikan sesaat keadaan rumah mbak Siti, tidak ada suara dari dalam rumah mbak Siti dan tidak ada cahaya sedikitpun dari dalam rumahnya, akupun berjalan mendekati tembok pembatas rumah mbak Siti dengan rumahnya Winda, aku melongokkan kepalaku untuk melihat keadaan rumahnya Winda, kulihat cahaya lampu di ruangan santainya menyala, sementara jendela belakangnya kulihat kain gordennya belum di tutup, lampu dapurnya tidak dinyalakan, penerangan yang ada di dapur hanya mengandalkan cahaya lampu dari ruangan santainya lewat jendela belakangnya yang tidak tertutup kain gorden, sementara pintu kamar mandinya kulihat dalam keadaan terbuka dan lampunya juga mati, saat melongkokkan kepalaku suara sayup-sayup yang kudengar tadi dari arah depan rumah ini kembali kudengar.
Akupun melompati tembok pembatas rumah mbak Siti dan Winda dengan perlahan, dengan mengendap-ngendap kuhampiri jendela belakangnya, suara sayup-sayup semakin jelas kudengar, akupun tersenyum saat mengetahui suara sayup-sayup itu, itu adalah suara TV dan si empunya rumah ini sedang menyaksikan film BF, karena yang kudengar adalah suara dalam bahasa Inggris yang sedang menikmati persetubuhan, aku semakin penasaran siapakah gerangan yang sedang menyaksikan film BF tersebut, akupun mengintipnya lewat jendela belakangnya, aku terkejut bercampur senang saat melihat sesosok tubuh wanita terlentang di depan TV sedang menyaksikan film BF, dan tubuh wanita tersebut tanpa sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya, alias telanjang bulat, kedua kakinya terlihat mengangkang, sementara tangan kanan si wanita tersebut sedang memainkan sebatang dildo di belahan vaginanya, sementara tangan kirinya sedang sibuk meremas-remas payudaranya, matanya tertuju pada adegan TV.
Perlahan tapi pasti batang kemaluanku mulai kembali menggeliat melihat pemandangan tersebut, perlahan-lahan kemaluanku mulai membesar dan mengeras melihat tubuh telanjang wanita tersebut, nafasku mulai memburu seiring dengan nafsu birahiku yang mulai meninggi, aku mendengar wanita itu melenguh saat tangan kanannya memasukkan dildo yang dipegangnya kedalam lubang vaginanya, dengan perlahan-lahan tangannya mulai mendorong masuk sang dildo masuk kedalam lubang senggamanya, pantatnya terangkat saat sang dildo masuk lebih dalam di lubang vaginanya, mulutnya mengeluarkan suara erangan, aku semakin bernafsu ingin segera menyetubuhi tubuh wanita tersebut, dengan perlahan kucoba untuk membuka pintu belakang rumahnya, sungguh beruntung pintu belakangnya ini tidak terkunci, dengan perlahan-lahan kubuka pintu tersebut, dan dengan gesit aku menyelinapkan tubuhku kedalam rumahnya, lalu aku tutup kembali pintu tersebut dengan perlahan.
Wanita itu masih asyik mengeluar-masukkan dildonya di dalam lubang vaginanya tanpa menyadari kehadiranku di dalam rumahnya, akupun segera melepaskan celana boxerku dan T-Shirtku, sehingga aku sekarang ini telanjang bulat persis sama seperti wanita yang sedang asyik mengocok-ngocok dildonya, perlahan-lahan kudekati tubuh wanita yang sedang asyik itu, ternyata wanita tersebut adalah Cika sang adik, kupandangi tubuh telanjangnya, kulihat kedua payudaranya yang mungil dihiasi dengan puting yang berwarna merah muda sungguh mengundang untuk diremas-remas dan diemut-emut, sementara di bagian selangkangannya kulihat belum terlalu banyak ditumbuhi bulu-bulu hitam dan tertata rapi juga, aku melihat lubang vaginanya begitu ketat menempel di dildonya, sehingga kulihat dinding vaginanya ikut tertarik keluar saat tangannya menarik keluar dildonya, meki yang sempurna pikirku, masih sempit dan rapat lubang vaginanya, kulihat dildonya mengkilat oleh cairan pre-cumnya.
Dengan perlahan aku bersimpuh di dekat kepalanya, sementara tangan kananku meluncur ke arah tangan kanannya yang masih asyik mengeluar-masukkan dildonya, tangan kananku memegangi tangan kanannya dan membantu mengeluar-masukkan dildonya, Cikapun kaget saat merasakan tangannya ada yang memegangi dan sedang membantunya mengeluar-masukkan dildonya, dia lebih terperanjat lagi saat membuka matanya, dia melihat batang kemaluanku yang besar dan panjang.
eeeehhhh.kak Hendraaa kok ada disini katanya setelah melihatku sambil matanya tak berkedip melihat batang kemaluanku yang sedang ngaceng itu.
hehehehe habis pintunya gak di kunci sich, terus kulihat kamu lagi asyik mainin ini nich, kataku sambil menggerakkan dildonya keluar masuk di mekinya.
Lagian kalau mau main sex, kenapa gak panggil aku ajach, kan lebih enak pakai yang beneran daripada pakai mainan karet seperti ini,hehehehe..lanjutku
aaaacchhhh kak Hendra..nakal aaachhh..kak ini punyamu..besar sekali jauh lebih besar dari dildoku..oooohhhh kata Cika sambil kedua tangannya memegangi batang kemaluanku.
kamu suka gak sama penisku ini, Ci..hehehehehe .pasti enak kalau masuk di mekimu .jauh lebih enak dari dildomu ini kataku lagi.
Iyyaaaachh aaacchhh kak..Hendraaa oooohhh .hhhhmm mmm sssllrrpppp .hhhmmmmm .sssllrrrrpppp.besaaarr ..sekalii gak muat mulutku punya kak Hendra kebesaran nich oooohhhh .hhhmmm ssllrrrppp hhhmmm .sslrrrppp ..,Cika melenguh sambil mulutnya sibuk mengemutin penisku.
Mulutnya asyik mengulum-ngulum punyaku sementara kedua tangannya tidak mau ketinggalan bergerak-gerak naik turun di batang kemaluanku, kepala penisku sampai sebatas lehernya saja yang masuk di dalam mulutnya, kadang-kadang lidahnya bermain menjilati helm penisku dan juga lubang kencingku, akupun meradang menikmati jilatan dan hisapannya.
Ooooohhh Ciiii..pintar juga kamu mengoral sex penisku ooohhh..teruss Ciiii..enak terusss .aaahhh aku mengerang sambil tetap menggerakkan dildonya keluar masuk di mekinya.
Hhhmmmm ssllrrrppp hhhmmm ssllrrrppp gurih..kak cairan pre-cummu ini hhhmmm sssllrrrppp .oooohhh teruss kaak terusss ko cok..dildoku.. Kata Cika.
Aku melihat sang dildo sudah sangat mengkilat oleh cairan pre-cumnya Cika, nampaknya Cika sudah sangat bernafsu sekali, aku jadi ingin cepat-cepat memasukkan penisku kedalam lubang senggamanya, aku ingin sekali merasakan mekinya menjepit penisku yang sudah sangat tegang sekali ini.
Ciiii aku masukkan penisku kedalam mekimu sekarang yach, aku sudah pengen sekali mencobai mekimu menjepit penisku ini .oooohhh..kataku.
iyaachhh kak Hendra aku juga pengen sekali nyobain penismu yang besar ini..ooohhh aku pengen mekiku diterjang penismu yang panjang ini..aaachhh..ayo kak masukin sekaran, kata Cika sambil melepaskan pegangannya pada penisku sementara kedua kakinya dia buka lebar-lebar.
Aku segera memposisikan diriku dihadapan selangkangannya yang sudah sangat basah itu, kutarik dildonya keluar sehingga sang dildo terlepas dari jepitan mekinya, dan aku melihat pemandangan yang luar biasa, bagian dalam mekinya yang sudah sangat merah sekali dan juga mengkilat, kulihat dinding vaginanya berkedut-kedut, aku segera mengarahkan batang kemaluanku ke lubang mekinya, kepala penisku terselip tepat di tengah-tengah lubang mekinya, sssleeeeeeppppp..aku merasakan nikmat sekali saat kepala penisku itu terjepit oleh dinding vaginanya yang sedang berkedut-kedut, Cika melenguh panjang saat kepala penisku mulai menyeruak masuk di lubang vaginanya.
Ooooooouuuuggghhhhh kaaakkk Henddrraaaaa aaaarrr ggghhhhh pelaaann kak..pelaaann aaarrgghhhh…..mekiku robek kaaak..,lenguh Cika merasakan jejalan kepala penisku di mekinya.
Dengan memegangi kedua pahanya dan menekannya kebawah agar lubang mekinya tetap terbuka supaya memudahkan penisku masuk lebih dalam lagi, aku mulai menekan penisku masuk kedalam mekinya dengan perlahan-lahan karena ketatnya dinding vagina Cika yang menjepit erat kepala penisku, bbbllleeeessssss..perlahan-lahan penisku mulai menyeruak masuk kedalam lubang senggamanya.
Ooooouuuggghhhhh .kkaaaaakkk pelaan kaaakk pelaaaaann roobeek punyaku ooouuuggghhhhhh .aaadduuuhhhh periiihhhh..punyakuu ..periiihhh.. Cika melenguh.
Aku tidak memperdulikan rintihan Cika yang kesakitan saat diterobos oleh batang kemaluanku ini, aku malah semakin bernafsu menekan lebih dalam lagi batang kemaluanku, bbleeeesssss..batang kemaluanku kembali menerobos masuk lebih dalam dilubang mekinya, batang kemaluanku sudah lebih dari setengahnya terbenam di dalam lubang mekinya dan aku merasakan betapa eratnya dinding vaginanya menjepit batang kemaluanku, Cika kembali merintih kesakitan, dan kembali aku tidak memperdulikan rintihannya itu, akupun kembali mendorong masuk penisku, bbblllleeeeessssss..akhirnya penisku terbenam hampir seluruhnya di dalam lubang senggamanya yang masih sempit ini.
Aaaaaccchhhh gilaaaaa Ci mekimu masih sempit sekali ..ooooohhhh .penisku kejepit betul nich sama mekimu .ooooccchhhh enaaaakkknya .. akupun mengerang merasakan enak akan jepitan mekinya di batang kemaluanku.
Aaaddduuuhhh .peeriiihhh kak periiihh .cabut kak. cabut..punyamu .ooouuugghh saaakkkiiitt perrriiihhh .punyaku ..aaadduuuhhhh . ampppuunnn .kak rintih Cika.
Tahan..Ci..taahhaan..nanti juga gak akan sakit lagi… Kataku
Akupun mendiamkan sejenak batang kemaluanku dalam relung senggamanya Cika, aku memberikan kesempatan pada lubang senggamanya agar terbiasa dengan jejalan penisku yang besar dan panjang ini, setelah mendiamkan sejenak akupun mulai menarik keluar penisku dari jepitan mekinya ini, tapi tidak sampai keluar semua batang kemaluanku ini, setelah kurasakan bibir mekinya menjepit erat leher penisku akupun melesakkan kembali penisku itu menerobos lubang mekinya, sssssrrrrttttt..bleeessss.
ssssrrrrtttt..bbbleeeessss..sssrrttttt..bbbllleeeessss..ssssrrrttttt..bllleeesssssssrrrttttttt..bb blleeeeeeessss..ssrrrrtttttt..bbblleeeeeessss.. begitulah berulang-ulang gerakan keluar masuk penisku kulakukan di dalam lubang mekinya Cika, sehingga lama-lama mekinya mulai terbiasa dengan besarnya penisku ini, dan rintihan-rintihan kesakitan Cika sudah tidak terdengar lagi, yang kudengar dari mulut Cika adalah desahan-desahan lirih, akupun semakin mudah mengeluar-masukkan penisku di dalam lubang mekinya, cairan pre-cumnya Cika sudah sangat banjir membasahi lubang mekinya sehingga memudahkan pergerakan penisku yang keluar masuk di dalam lubangnya.
Ooooouuuggghhhh..aaaaccchhh..ssshhhh..aaaccchhhh..o oohhh..sssshhh..aaacchhhh..ooohhh..ssshhh..ooohh…hhhm mm..ssshhhh..ooohhh..aacchhh..ssshhhh..ooohhhhh..hhhmmmm …sshhhh… Cika mendesah lirih mulai merasakan enaknya penisku yang sedang keluar masuk di lubang vaginanya.
Ennaaaakkk Ci enak..mekimu ini sempit rapet..uuuggghhhh asyik..enaknya ngentotin mekimuuu ini oooohhh..Cii…peniskuuuuu..enak tidak…mana..enak dibandingkan dengan dildomu..ooohhh..Ci.. akupun melenguh merasakan nikmat.
Cika tidak menjawab pertanyaanku tapi kedua pipinya merona merah, mulutnya terbuka mengeluarkan desahan-desahan, matanya terpejam, pantatnya terangkat saat aku mendorong masuk penisku, seolah-olah dia ingin menyambut kedatangan penisku yang sedang menghujam dalam lubang mekinya, nampaknya Cika betul-betul sudah dapat menikmati entotan penisku ini, kedua tangannya yang sekarang berada dipunggungku sedang merabai punggungku, kadang meremas punggungku saat penisku menyeruak masuk kedalam lubang mekinya, kedua kakinya sudah melingkar di pinggangku.
Kedua tanganku merangsek masuk kepunggungnya, sementara telapak tanganku kuletakkan menahan kepalanya, dan dengan penuh nafsu kucumbu bibir mungilnya yang sedang terbuka mengeluarkan desahan-desahan itu, lidahku mulai menjulur memasuki rongga mulutnya mencari lidahnya, lidah kami saling menari, kami berdua berciuman dengan penuh nafsu, sambil berciuman dengan penuh nafsu aku tidak menghentikan gerakan keluar masuk penisku itu dilubang mekinya.
Ssssrrrttt..bbllleesssss…ssssrrrttttt..bbblleeesss..ssrrrtttt..bblleeessss…sssrrrttt…bblleeeesss…dengan perlahan tapi pasti penisku keluar masuk mekinya Cika, Cika merintih-rintih menikmati sodokan-sodokan penisku ini.
Oooohhh kakk nikmaaattt..kaaakk..enaaak kaakk.oo ohhh..teruss kak ssshhhh aaachhh sssshhh ooohhh ss shhh aacchhh..Cika merintih keenakan.
enakkan Ci.penisku jauh lebih enak dari dildomu, aaaahhh.Ci mekimu juga enak sekali oooohhh sempit rapet penisku kejepit sekali sama dinding mekimu..aaahhhhh ternyata meki orang cina juga enak hehehhehe. baru pertama kali ini aku merasakan sempitnya meki cina..ooooohhh..sedaaaappp. aku mengerang nikmat.
Oooohhh kaaaakkk enaaakk iyaaaccchh. penismu..jauh. lebih enak dari dildoku oohhhh..emangnya kak Hendra belum pernah ngelakuin sama orang keturunan chinese yach..sama dong aku juga belum pernah ngerasain penisnya orang pribumi penismu jauh lebih enak dari penisnya pacarku..kak Hendraaa..oooohhh..puaskan aaakuuuu..aaaachhh..sshhh..ooohh..sshhh..aachh. Cika melenguh.
punya pacarmu besar seperti punyaku tidak Ci..oooohhh hhhmmmm..ooohhh.. hhhmmmm. Tanyaku sambil mencium bibirnya kembali.
hhhmmm..ssslrrppp..tidak kaaaakkk kecil punya pacarku jauh sekali dibandingkan dengan punyamu..ini ooohhh..sssshhh hhhmmm ssshhh ..ssslrrpppp hhhmmm..oooohhh hhhmmmm..sssllrrrrpp. Cika melenguh sambil membalas ciumanku.
Kaaakkk Heeenndraaa..ooohh sshhh ooohh sshhh aaachhh terusss kak terussss..tekaaan yang lebih dalam lagi kaaak aaachhh ssshhh..ooohhh kak lebih cepat kaaaakkk..ooohhh sshh..aachhh kak.. lenguh Cika terdengar kembali meminta aku untuk menekan penisku lebih dalam lagi dan mempercepat gerakanku.
Akupun mengikuti kemauannya itu, penisku dengan gencar keluar-masuk dalam lubang mekinya, dan saat menekan masuk penisku akupun menekan dalam-dalam penisku itu sampai mentok ke dinding rahimnya, gerakan keluar masuk peniskupun semakin bertambah lancar karena semakin banyaknya cairan precum yang dikeluarkan oleh mekinya dan penisku yang membuat lubangnya semakin banjir dan membuat penisku menjadi licin dan mudah keluar-masuk di lubang senggamanya Cika.
Saat kami tengah asyik itu sesosok tubuh wanita yang melangkah masuk kedalam rumah, sosok tubuh tersebutpun mengunci pintu rumahnya, lalu dia melangkahkan kakinya kedalam, setelah terlebih dahulu meletakkan tasnya dan melepaskan sepatunya di ruangan tamunya, saat itu sang empunya tubuh menyadari ada suara erangan dan desahan dari arah belakang rumahnya, dia segera menghampiri ruangan belakang dimana kami sedang asyik masyuk bersetubuh, kedua matanya terbelalak saat menyaksikan kedua tubuh telanjang kami yang sedang asyik bersenggama, sang empunya tubuh itu ternyata adalah sang kakak, Winda.
Winda melihat adiknya sedang mendesah-desah menerima hujaman-hujaman penisku yang bertubi-tubi keluar masuk di lubang meki adiknya, Winda memang sudah bukan perawan lagi dan dia sudah sering melakukan hubungan sex, baik dengan pacarnya ataupun dengan atasannya di kantor, kadang-kadang dia juga melakukan sendiri menggunakan dildo, persis seperti adiknya tadi yang menggunakan dildo, dan dildo yang dipakai adiknya adlah dildo kepunyaannya, yang tidak dia duga adalah adiknya juga sudah bukan perawan lagi, nampaknya adiknya juga sering melakukan hubungan sex seperti dirinya, dia melihat adiknya tidak menampakkan kesakitan tapi raut wajahnya menampakkan dia sedang menikmati rojokan-rojokan penisku.
Sudah cukup lama juga Winda tidak mendapatkan sentuhan lelaki dan sodokan-sodokan di kemaluannya, karena kesibukan kerjanya dan juga dia sedang ribut dengan pacarnya, sekarang dia melihat adiknya sedang menikmati kemaluan lelaki dan mendengar adiknya mendesah-desah keenakan, membuat Winda menjadi terbangkit nafsu birahinya, dia mau marah kepada adiknya karena melakukan hubungan sex tanpa nikah tapi dia juga ingin merasakan kenikmatan yang sedang dirasakan adiknya itu, Winda berpikir keras siapa gerangan lelaki yang sedang menyetubuhi adiknya ini, apakah ini pacar adiknya, tapi dia tahu pacar adiknya itu dan dia hapal dengan bentuk tubuhnya, karena dia pernah melakukan hubungan sex dengan pacar adiknya itu, dan cowok ini tubuhnya lebih kekar dan lebih tegap dari pacar adiknya itu, sambil otaknya berpikir keras menebak-nebak siapa gerangan cowok yang sedang bersetubuh dengan adiknya ini, tangan kanannya tanpa sadar meluncur kebawah kearah selangkangannya dan mulai mengusap-ngusap mekinya sendiri dari sebelah luar roknya, sementara tangan kirinya mulai meremas-remas payudaranya yang masih tertutup oleh pakaiannya.
Semakin lama Winda semakin terangsang, nafsu birahinya semakin meninggi, Windapun mulai melucuti pakaiannya sendiri sehingga tubuhnya tidak tertutupi oleh sehelai kainpun, kedua payudaranya yang lebih besar dari kepunyaan adiknya, dan selangkangannya tertutup oleh semak hitam yang cukup lebat tapi tertata rapi, jauh lebih lebat dari pada jembut adiknya, sambil tetap mengelus-elus belahan vaginanya dan meremas-remas payudaranya, diapun menghampiri kami yang masih asyik bersenggama, dia menghampiri belakang kami, karena Winda juga penasaran ingin tahu kemaluan kami yang sedang beradu, dan dia menjadi terperanjat saat melihat kemaluanku yang sedang keluar masuk di meki adiknya itu, dia melihat betapa besarnya penisku yang sedang menyodok-nyodok meki adiknya itu, dia terkesima melihat bentuk penisku itu dan dia semakin penasaran ingin merasakan mekinya diaduk-aduk oleh penisku yang besar itu.
Kami masih belum menyadari kehadiran Winda yang saat ini sedang berada di belakang kami dan sedang berjongkok menatap penisku yang sedang gencarnya keluar masuk di lubang senggama Cika, kami masih asyik menikmati persetubuhan kami ini, Cika semakin sering merintih dan mendesah keenakan menikmati keluar-masuknya penisku di lubang vaginanya, aku sendiripun sedang menikmati ketatnya jepitan meki Cika di penisku.
kaaaakkk Hendraaa aaachh kak ooohh sshhh kaaakkk tekaaaannnn..yang dalam kaaakk..aku mau keluaaarr aaahhhh ooohhh kaakk Hendraaaa oooohh ssshhhh..aaahhh..yang dalaam kak yang kuaaatt aahhhh kaakkk aku keluuaarr ooohhh sshhhhh..aaahhh kkaaakkk Hendraaaaa oooohhh nikmatnya penismu yang besar dan panjang ini oooohhh kakkkk .aakuu..oooohhh…Cika melenguh panjang menyambut puncak kenikmatannya.
Sssrrrr…ssrrrr..ssrrr..sssrrrrr..sssrrrrr..ssrrrr mekinya menyemburkan lahar kenikmatannya bertepatan dengan penisku yang menghujam dalam-dalam di lubang senggamanya itu, aku mendiamkan penisku terbenam didalam lubang mekinya Cika untuk memberikan kesempatan pada dia menikmati puncak kenikmatannya yang berhasil dia raih, dan aku merasakan batang kemaluanku hangat oleh siraman lahar kenikmatannya.
Cika memeluk erat tubuhku dan kedua kakinya menekan pinggangku saat dia menyambut puncak orgasmenya itu, nafasnya memburu, aku merasakan dinding vaginanya berdenyut kuat seolah-olah sedang meremas-remas batang kemaluanku yang sedang terbenam di lubang vaginanya, Winda mendengar adiknya ini melenguh panjang saat menyambut puncak orgasmenya dan dia melihat betapa adiknya memelukku erat dan dia juga baru mengetahui bahwa yang sedang menyetubuhi adiknya ini adalah Hendra, tetangga rumahnya.
Tak lama berselang setelah Cika tuntas melepaskan seluruh cairan kenikmatannya, dan pada saat aku akan memulai memompanya lagi, kami berdua kaget karena saat itu kami mendengar suara perempuan di belakang kami.
Sudah Ci, giliranku dong, nyobain penisnya Hendra.masa aku dibiarin sendiri saja, kata Winda mengejutkan kami berdua.
Cici kamu sudah pulang. Kata Cika kaget karena cicinya sudah berada di rumah.
Eh,Winda kapan kamu pulangnya, akupun kaget.
sudah dari tadi, sudah lumayan lama aku menyaksikan permainan kalian, sekarang giliranku, aku juga pengen ngerasain penisnya Hendra, kata Winda lagi.
Cici..hihihihi..udah gak sabar yach udah telanjang ajach cici punyanya Hendra enak lho ci..jauh lebih enak daripada punya pacar-pacar kita,kata Cika nakal
masa sich memangnya kamu pernah nyobain pacar cici yach, kata Winda sedikit heran dengan pernyataan adiknya ini.
hihihihihi..sudah dong, anggap saja balas dendam, habis cici kan pernah nyobain pacarku sich, kata Cika lagi.
Eeehhh kamu kurang ajar yach, pacarku di cobain juga, kata Winda kaget.
aaahh cici sudah ach kitakan impas lebih baik sekarang cici cobain aja nich kemaluannya Hendra, pasti cici merem-melek dech dijamin aku aja pengen lagi cici mau gak..nich kalau cici gak mau..aku masih mau nich, kata Cika menggoda kakaknya.
ssssttt sudah ach berantem adik-kakaknya ini .sekarang siapa nich yang mau aku entotin penisku masih ngaceng nich, aku belon keluar nich, kataku melerai adu mulut kakak beradik ini.
giliranku sekarang Hen, gila kamu Hen .penismu ini wuuiiihh gede sekali lihat kedua tanganku gak cukup buat menutupi panjangnya .ini kepalanya masih nongol hhhmmm sssllrrrrppp .hhhmmm .sssllrrrppp…aaaaccchhh..be sar sekali gak muat juga mulutku, hhhmmm..ssslrrrppp..hhmmm…sssllrrrppp..kata Winda sambil mulai mengemut-emut penisku dan menjilati kepala penisku serta lubang kencingnya.
betulkan Ci, besar dan panjang punyanya Hendra hihihihihi gurih gak Ci cairan mekiku. kata Cika meledek kakaknya.
hhhmmm..sssllrrrppp..hhhmm sslrrrppp asin ..hihihihi nanti kamu juga rasain cairan meki cici yach. kata Winda
Hihihihi gak usah nanti sekarang aja yach Ci aku rasain cairan mekimu hihihihi asin gak, sama seperti cairan mekiku gak, kata Cika sambil menyelinap kebawah Winda yang sedang jongkok.
Cika mulai menjilati dan menghisap meki dan itil Winda, tentu saja aksinya ini semakin membuat Winda bernafsu, Cika merasakan cairan meki Cicinya ini sudah mulai membanjiri lubang mekinya, dia merasakan gurih dan asin, dengan penuh nafsu dia semakin gencar menjilati dan menghisap itil serta meki Winda.
Ooooohhhh..Cii…aaapaaa..yang kamu lakukan ooohhh..hhhmmm..ssslllrrrp.. terus Cii..oohh hisap itilku..aaaacchhh..hhhmmm..ssllrrrppp..oooohh..hhhmmm sslrrrppp..ssshhh..sssllrrrppp..hhhmmm. Winda melenguh panjang merasakan meki dan itilnya yand sedang dihisap dan dijilati oleh Cika sambil tetap menjilati dan menghisap penisku.
Akupun tak mau ketinggalan oleh aksi kakak-beradik ini, kedua tanganku mulai meremas-remas payudara Winda yang lumayan besar, aku merasakan teteknya Winda sangat empuk dan masih lumayan mengkal juga, tak lupa kedua tanganku itu memilin-milin kedua putingnya yang berwarna merah muda, kedua payudaranya yang lumayan besar itu tak muat oleh kedua telapak tanganku dan akupun meremas-remas dengan gemas kedua bukit kembar itu, kedua putingnya kadang-kadang kutarik-tarik sambil kupilin-pilin, kudengar Winda mendesah-desah keenakan.
Aaauuuwwww..sshhh..aaaahhh..hhhmmm..sslllrrppp..ooou uggghhh..hhhmmm..ssslrrrppp..ssshhh a aahhh..hhhmmmm sssllrrrppp..aaarrrggghh..hhhmmm sssllrrrpppp oooo uuughhh..aaaaahhh..hhhmmm..sssllrrrpppp. Winda mendesah-desah keenakan dambil tetap mengulum-ngulum penisku.
Uuuuuggghhhh gilaaa kaliaaann suddaaahh aku sudah tidak tahan lagi Ci, sudah .ooooggghhh ..Hendraaaa ooooggghhh sudaaahhh .aku..sudah pengen dientot oleh penismuuu ini aaaarrggghhhh ., erang Winda meminta Cika untuk menghentikan aksinya di belahan vaginanya dan di itilnya.
Hihihihihi Cici udah gak tahan pengen dientot oleh penismu tuch kak Hendra, gatel tuch mekinya pengen digarukin hihihihihi , kata Cika sambil menyudahi aksinya.
Kamu mau diatas atau dibawah Win, kataku.
aku pengen diatas, aku pengen ngentotin penismu, kata Winda.
Akupun merebahkan tubuhku diatas karpet, sementara itu Winda mulai mengangkangi tubuhku, tangannya meraih batang kemaluanku dan membimbingnya kearah vaginanya, kepala peniskupun dia oles-oleskan di bibir vaginanya dan di kelentitnya, membuat aku kegelian merasakan sentuhan bibir vaginanya dan itilnya yang sudah mencuat keluar di kepala penisku itu, Winda sendiri merasakan hal yang sama, diapun melenguh saat kepala penisku menyentuh kelentitnya yang sudah mencuat keluar itu dan bibir vaginanya.
Ooooouuuggghhh .kerasnya penismu ini Hen oooooohhhh..Lenguh Winda.
Setelah beberapa kali mengoles-oleskan kepala penisku, Windapun mulai menyelipkan kepala penisku kedalam belahan vaginanya, sssllleeeepppppppp..kepala penisku terjepit bibir vaginanya, lagi-lagi Winda melenguh merasakan lesakan kepala penisku di lubang senggamanya,
Oooouuugghhhh..besaaaaarrrrnyaaa..penismu Hen, ooouuugghhhh…. lenguh Winda.
Mekimu sempit juga Win, oooohhh kepala penisku kegencet sama bibir mekimu, akupun mengerang.
Dengan pelan-pelan Winda mulai menurunkan pantatnya kebawah, membuat penisku perlahan mulai menerobos lubang senggamanya, bblleeeeessssss..penisku mulai terbenam sebagian di dalam lubang mekinya Winda, Windapun berdiam diri berusaha untuk menyesuaikan lubang mekinya dengan penisku yang besar ini, karena selama ini belum pernah dia mendapatkan batang kemaluan sebesar punyaku, setelah membiasakan diri dengan besarnya penisku, Windapun mulai menurunkan kembali pantatnya, peniskupun meneruskan perjalanannya kembali masuk kedalam lubang senggama Winda, bbbbbbllleeeeeesssssssss..penisku terbenam lebih dari setengah panjangnya di dalam relung kenikmatan Winda, Winda melenguh panjang merasakan vaginanya yang penuh sesak oleh jejalan penisku.
Oooooouuuggghhh..Heennndraaaa…gillaaaa…penismu.besaaar sekaliiiii..ooooouuugghhhhh mekiku penuh sesak dibuatnya..oooouuggghhhh.. Hen.. Baru pertama kali ini mekiku diterobos kemaluan sebesar punyamu ini…oooohhhh..Hen.. agak sakiittt sedikit periihh tapii enaaaaakkk…. lenguh Winda.
Uuuggghhh..mekimu juga gak kalah sempit sama mekinya Cika, meki kalian berdua bener sempit..ooohhh nikmat..di jepit meki rapet seperti punya kalian ini, akupun mengerang keenakan.
Kurasakan Winda mulai kembali menurunkan pantatnya sehingga membuat penisku kembali menyeruak masuk kedalam relung kenikmatannya, bbllleeeessssssss..penisku amblas hampir seluruh panjangnya di dalam vagina Winda, dan kembali kurasakan kepala penisku mentok bersentuhan dengan dinding rahim perempuan, pertama tadi kurasakan mentoknya kepala penisku bersentuhan dengan dinding rahimnya Cika sekarang ini kurasakan dinding rahim Winda bersentuhan dengan ujung kepala penisku.
Ooouuuggghhh.Hendraaaa mentok punyamu oooohh..panjang sekali punyamu hingga mentok di dinding rahimku .oooohhhh.. Winda kembali melenguh saat dinding rahimnya tersentuh oleh kepala penisku.
Iyaaachhh..aku juga merasakan punyaku mentok di rahimmu..ooooohhh..mekimu ketat sekali menjepit penisku..oooohhh.. akupun mengerang.
Winda merubah posisinya, dari berjongkok sekarang dia bersimpuh, kedua pahanya bersentuhan dengan kedua pahaku, pantatnya menduduki s*****kanganku dengan penisku yang terbenam di lubang senggamanya, kulihat dia terdiam dengan mata terpejam, kutahu dia pasti sedang meresapi besarnya kemaluanku yang sedang berdenyut-denyut di dalam mekinya ini, dan aku juga merasakan dinding mekinya berdenyut-denyut pelahan seolah sedang meremas-remas penisku dengan lembutnya.
mekimu berdenyut Win, oooohhhh enaaak..penisku seperti dipijat-pijat lembut aaacchhhhh ..nikmaaatt..Win..mekimu enaaaakk.. Aku mengerang keenakan merasakan pijatan lembut pada batang kemaluanku.
Punyamu juga besaaarr sekaliii Hennn..oooohhhh..penuh sesak mekiku dibuatnya dan berkedut-kedut lagi batangnya ooooohhhh..enaaakkk..enaaak..sekali dientot kemaluan besar seperti punyamu..ini .oooohhhh.. Winda melenguh nikmat.
Winda mulai menggerakkan pantatnya maju mundur perlahan-lahan, sehingga penisku mulai keluar-masuk di vaginanya dengan pelan, dan Winda sendiri merasakan kelentitnya juga bergesekan dengan bulu-bulu di s*****kanganku, membuat dia semakin kegelian dan keenakan, cairan pre-cumnya mulai mengalir keluar perlahan-lahan, rangsangan yang dia terima akibat pergesekan dinding vaginanya dengan batang kemaluanku dan gesekan yang di terima oleh kelentitnya, membuat dia mendesah-desah keenakan, Cika yang dari tadi menyaksikan aksi Cicinya ini, mulai tertarik untuk ikut bergabung dengan kami, dia mendekati cicinya yang sedang bergoyang diatas tubuhku ini, dari arah belakang cicinya dia memeluk cicinya dan mulai meremas-remas payudara cicinya yang bergoyang-goyang lembut karena gerakan tubuhnya yang sedang maju mundur, remasan-remasan tangan Cika di kedua payudaranya semakin membuat Winda merintih-rintih kenikmatan.
Kedua tangan Cika meremas dan memutar kedua payudara Winda sambil kadang-kadang kedua putingnya ditarik-tarik sambil dipilin-pilin, karuan saja aksi tangan Cika ini semakin menambah Winda meradang dalam desahan kenikmatannya.
Oooooouuugghhh…Cika..oooouugghh kamu..ooouugghhh ..terusss..remas tetekku ooouuugghhhh Henddraaaaa..penismu sungguh enaaakk..besaar..panjang aaahhh aku pengen terus dientotin oleh kamu Hendraaaa..aaachhhh..ssshhhh oooohhh enak .nikmat aaachhh sshhh oooohhh. Winda merintih keenakan.
Mulut Winda tak hentinya mengeluarkan suara rintihan-rintihan keenakan, pantatnyapun tak henti-hentinya bergerak maju-mundur, kedua tangan Cikapun tak hentinya menyerang kedua payudara cicinya itu, kulihat kedua payudara Winda mulai kemerahan bekas telapak tangan Cika, membuatku semakin gemas melihat kedua payudara tersebut, aku segera mengangkat tubuhku, dan mulutku segera menyerbu salah satu dari payudara, kuhisap-hisap putingnya dan kujilati putingnya itu, Cika melepaskan tangannya di payudara yang sedang kuhisap itu, kuemut dengan kuat payudara tersebut seolah aku ingin memasukkan seluruh payudaranya kedalam mulutku, putingnya yang sedang berada dalam rongga mulutkupun kujilati, aksiku ini semakin membuat Winda merintih, sementara itu Cika beralih ke depan tubuh cicinya dan mulai menyerbu payudara yang satunya lagi, diapun mulai menghisap-hisap tetek tersebut, Winda semakin merintih-rintih kenikmatan.
Ooouughhhh..aaahhh.ssshhhh..oooohhh..terus enak ena aakkk teruuusss ooohhh..hisappp kenyot teruusss te tekkkuuu..oooohhh sshhhh aaahhh ssshhh aaahhhh..nikmmaaaaatt..aaaahhhh. Winda merintih-rintih
Mataku berpandangan dengan mata Cika, sementara Winda memejamkan matanya menikmati serangan-serangan kami di kedua payudaranya, dan menikmati penisku yang semakin lancar keluar-masuk di vaginanya, karena cairan pre-cumnya yang semakin banyak keluar dan karena semakin cepat Winda menggerakkan pantatnya maju-mundur, aku dan Cika melepaskan kuluman kami di payudara Winda, dan mulut kami berpagutan, sementara tangan kananku meremas-remas tetek yang baru saja kuemut-emut, tangan kiriku beraksi di tetek Cika kuremas-remas teteknya yang mungil itu dan kupilin-pilin putingnya serta kutarik-tarik, Cika yang sedang membalas pagutankupun melenguh, tangan kirinya sibuk dengan meremas-remas tetek cicinya yang tadi dia emut, sementara tangan kanannya merabai dadaku dan memainkan putingnya.
Hhhhmmm ssssllrrrpp hhhmm ssslllrpppp oooohhh..hh hmmm aaahhh ssshhh hhhhmmmm ssshhh aaaachhh. Cika melenguh
hhhhmmmm…hhhhmmmmm…hhhmmmm..sssslllrpppp..hhhmm..hhhmmm. akupun mendengus sambil mulutku sibuk menciumi mulut Cika
Aaahhhh ssshh aahhh ssshhh ooohh ssshhh..aaahhh..ssshhh..oooohhh. Winda merintih-rintih keenakan.
Tiba-tiba Winda memelukku dengan erat sehingga ciumanku dengan Cika terlepas, dan kurasakan mekinya Winda berdenyut dengan kuat, dan aku merasakan batang kemaluanku menjadi hangat,
Ooooooooohhhhhhh..Henndraaaaa..akuuuu tidakk..tahan lagi akuu keluaaar ooooohhhhh .ssshhhh aaahhh h.Hennddraaaa enaaaakkknyaaa dientot..penismu yang besaaar ooohhh .ssshhhhh aaahhhhh.. Winda melenguh panjang menyambut puncak kenikmatan yang berhasil ia rengkuh.
Sssrrrrrr…ssrrrrr..sssrrrrr..ssrrrrrrrr..sssrrrrrrrrr…mekinya menyemburkan lahar kenikmatannya, membasahi batang kemaluanku yang sedang berada di dalam lubang senggamanya, dan kurasakan saat dia melepaskan lahar kenikmatannya itu Winda mendorong ke belakang pantatnya kuat-kuat lalu mendiamkannya.
Tubuh Winda bergetar dengan hebatnya, kedua kakinya mengejang saat dia mencapai puncak orgasmenya itu, pelukannya sangat kuat memeluk tubuhku, mekinya berdenyut dengan sangat kuatnya seolah-olah sedang memijat-mijat batang kemaluanku, perlahan-lahan kedutan dinding vaginanya melemah, pelukannya menjadi longgar, tubuh dan kakinya sudah tidak mengejang lagi, tetes terakhir cairan kenikmatannya sudah menyembur keluar dari lubang mekinya, nafasnya sudah tidak terlalu memburu seperti tadi.
Aku segera mengangkat tubuhnya sehingga penisku terlepas dari jepitan lubang mekinya, Cika yang melihat cicinya sudah mencapai orgasme dan dia melihat bahwa aku belum juga mencapai puncak kenikmatanku, segera menyongsongku dengan tersenyum, aku segera menerkam tubuhnya dan memposisikan tubuhnya menungging, dengan kepala yang menempel diatas karpet dan pantat yang menghadap keatas, kubuka lebar kedua kakinya sehingga lubang mekinya menganga, lalu kuarahkan penisku ke lubang senggamanya, untuk kedua kalinya penisku terjepit oleh vaginanya Cika yang sempit ini, ssllleeepppppp..kepala penisku kembali terjepit oleh vaginanya.
oooouuuuggghhhhhh..pppeelllaaaaannn kaaaak Hendraaaa ingaaaatt penismu itu besar sekali..oooooggghhhhh. Cika mengerang saat kepala penisku menyelinap di vaginanya.
Tanpa memperdulikan erangan Cika, aku menekan penisku masuk kedalam lubang senggamanya, bbbbllllleeeeeeessssssss..dengan sekali hentakan seluruh penisku terbenam di dalam lubang senggamanya Cika untuk kedua kalinya.
aaaaiiiiieeeeeee..kaaaakkk..Heenndrraaaaa..aaaa aaaarrrgghhhhh kaaakk pelaaaaannn..aaaarggghhhhh.. robeeeeeeekk mekikkuuu..aaaaaaaaaaaahhhhhh, Cika mengerang kembali.
Aku mulai menggenjot meki Cika ini dengan posisi setengah berdiri, kulihat penisku begitu perkasanya sedang mengobrak-abrik meki Cika yang kecil dan sempit ini, mekinya yang sudah banjir memudahkan penisku keluar-masuk, kutarik penisku sampai sebatas lehernya dan kuhujamkan sekaligus dalam-dalam di vaginanya, dengan berpegangan pada pinggangnya akupun memompa mekinya dengan cepat, Cikapun merintih-rintih antara sakit dan enak merasakan hujaman-hujaman penisku yang sedang bergerak dengan cepat, dan dia juga merasakan betapa dinding rahimnya tersundul-sundul oleh penisku dengan kuatnya, Cika merasakan sakit dan enak berbarengan.
oooouuugghhhhh kaakkk Hendrraaa..pellaannn sakiiitt kaakkk enaaakk kak ooohhhh. kak..hendraaa pelan-pelann..aaarrrhhhgggg..kak..Hendra.ooohhh..yang dalam tekan lagi yang dalam..aaarrrgggh..pelan kak..enaaakk saakkiitt. Cika mengerang antara sakit dan enak.
Aku tidak memperdulikan karena aku ingin secepatnya menuntaskan nafsu birahiku ini, bukannya memperlambat gerakanku, tapi aku malah menambah kecepatan keluar masuk penisku di mekinya, dengan menambahi hujaman-hujaman yang dalam di relung kenikmatan Cika, saat menghujamkan penisku itu aku menekannya kuat-kuat dan dalam di vagina Cika sehingga tubuh Cika selalu terdorong oleh hujaman-hujaman penisku itu, dinding rahimnya setiap saat selalu tersundul-sundul oleh penisku.
Lama-lama Cika mulai menikmati permainan cepatku ini, diapun mulai merintih-rintih keenakan, mulutnya mengeluarkan suara desahan-desahan nikmat, aku merasakan mekinya semakin banjir saja oleh cairan precumnya yang semakin sering keluar, walaupun dalam keadaan cepat ini aku tetap saja merasakan bahwa dinding vaginanya Cika juga berdenyut-denyut dengan kuatnya, karena dinding vagina Cika menempel ketat di batang kemaluanku, akupun semakin terpacu untuk segera menuntaskan permainan ini, aku ingin segera mencapai puncak orgasmeku, penisku ingin segera menuntaskan dengan menyemprotkan air maninya kedalam rahimnya Cika ini.
Ooouugghhh..kak..Hendraa ooouugghhhh kak percepat penismu kaaakk..aku ingin keluar lagi nich.oooouugghhh semakin cepat kakak ngentot aku semakin cepat aku ingin keluar oooooohhh .ssshhh aaahhh kak aaayooo kak..c epatt kak, Cika mengerang.
aaagghhh mekimu rapet sekali..Ciii..aku juga pengen keluar ooooohhh aku juga sudah gak tahaan..lagi aku mau ngecret .jugaaaa .aaahhhh, erang aku
kaaakkk..Hennnndraaaaa akuu sudaaaahhh gakk kuaaatt lagiii ooohhh cepat kkaaaakkkkk..ceppaaatt oo ohhh aakuuu..mau keluaaaarrr.. Cika mengerang
tahan Ci tahaanan aku juga mau keluaaar sebentaarrr..lagiii aaaahhhh. kataku sambil mempercepat penisku keluar-masuk di dalam lubang senggamanya.
Ooooooooohhhhhh.Cikkkaaaaaa…sssseeekkaaaarraaaangggg…aaakuuu keluaaarr..aaaaacchhhh..Cikaaaaa i enaaaaakk sekaliiiii mekikkmuuu oooohhh..aaakuu ngecretttt oooohhh Cikaaaaaaaa terimaaaa pejuhku uuuuuu aaaaaarggghhhhhhhh, aku mengerang panjang menyambut orgasmeku ini.
iiyyaaaaccchhhh kakkk Hennddrraaaa..akuuu jugaaaa kkeluaaaarr oooohhh..kaaaakkk..Henddraaaa…aaaaa ahhhh nikmatnya dientot oleh penismu ooohhh kak Hendraaaa.. Cika mengerang menyambut puncak kenikmatannya yang berhasil ia rengkuh berbarengan dengan orgasmeku.
Crrreeeetttttt..ssssrrrrr..ccrreeeeetttt..ssssrr rrrrr..cccrreeeettttt….ssssrrrrrr..creeetttttt.. sssssrrrrrr..kemaluan kami saling menembakkan cairan lahar kenikmatan kami, aku merasakan hangatnya lahar kenikmatan Cika membasahi batang kemaluanku sementara Cika merasakan dinding rahimnya menjadi hangat terkena tembakan spermaku, aku merasakan dinding vagina Cika berdenyut sangat kuat saat menembakkan lahar kenikmatannya, sementara Cika sendiri merasakan batang kemaluanku berdenyut kuat dan semakin membesar saja saat menyemburkan spermaku itu.
Setelah kami tuntas melepaskan tetes terakhir lahar kenikmatan kami, akupun ambruk keatas karpet sambil menarik tubuh Cika, sementara penisku yang masih membengkak masih terjepit di vagina Cika, aku memejamkan mataku menikmati sisa-sisa pergumulan kami ini, aku tersenyum karena malam ini kembali aku berhasil menyetubuhi tetanggaku, malam ini giliran kakak beradik Winda dan Cika yang berhasil kunikmati tubuhnya, Winda dan Cikapun tersenyum puas karena mereka dapat menikmati kemaluan lelaki yang besar dan panjang yang dapat memberikan kepuasan kepada mereka, kepuasan yang hampir jarang mereka dari pasangan-pasangan mereka, apalagi Cika dia berhasil dua kali puas mencapai puncaknya, biasanya satu kali saja susah dia raih.
Aku membayangkan selama liburan ini pasti aku akan puas menikmati tubuh kakak beradik chinese ini, dan penisku akan puas terjepit oleh meki mereka yang sempit-sempit ini.  Tetanggaku Yang Chinese

Related Posts:

Cerita Sex Dengan Kakak Iparku

Cerita Sex Dengan Kakak Iparku – Liburan semester ke 3 ini rencananya akan kupergunakan untuk mengunjungi kakakku yang tinggal di kota J***. Sejak menikah satu tahun yang lalu, dia dibawa suaminya ke kota J***, dan sejak itu aku memang belum pernah mengunjunginya. Tentu saja kedatanganku disambut gembira oleh pasangan muda itu, terutama oleh kakakku, Mbak Hesti (bukan nama sebenarnya).


Kelihatannya ekonomi kakakku masih pas-pasan. Rumah yang dikontrak adalah rumah petak dan hanya berkamar tidur satu, ruang tamu kecil dan ruang makan merangkap dapur, serta kamar mandi kecil. Dengan kondisi rumah seperti itu, aku terpaksa tidur bersama-sama Mbak Hesti dan suaminya Mas Har.
Aku tidur di sebelah kanan, Mbak Hesti di tengah dan Mas Har di sebelah kiri. Malam itu aku berbincang-bincang dengan kakakku sampai larut malam, kulihat Mas Har sudah tertidur lebih dulu. Sampai akhirnya kami kehabisan cerita dan tertidur. Kurang lebih jam 04:00 pagi Mbak Hesti bangun dan keluar kamar untuk urusan dapur. Aku tahu ini adalah kebiasaan sewaktu remaja. Dia selalu bangun paling awal.
Sebenarnya aku juga terjaga ketika ia turun dari tempat tidur, tetapi aku tetap di tempat tidur karena malas. Dalam keremangan lampu 5 watt, kulirik Mas Har kakak iparku yang masih kelihatan tidur pulas di sebelahku tanpa terhalang oleh tubuh Mbak Hesti, walaupun jarak kami cukup jauh.Dalam tidurnya yang telentang dengan mengenakan piyama warna abu-abu, tanpa sengaja kulihat ke arah selangkangannya. Kulihat sesuatu yang mencuat tinggi dari balik celananya. Hatiku berdesir ada perasaan hangat menyelusuri tubuhku, kutahan nafasku.
Aku tidak bernai bergerak dan aku tetap pura-pura tidur walaupun kupincingkan mataku untuk menikmati pemandangan yang syuur itu.Tiba-tiba Mas Har membalikkan badan menghadap ke arahku, kupejamkan mataku. Aku pura-pura masih tertidur lelap. Tiba-tiba kurasakan tubuh Mas Har digeserkan mendekatiku, entah disengaja atau tidak, tetapi gerakannya sangat hati-hati, mungkin takut aku terbangun.
Aku tetap pura-pura masih tidur dalam posisi telentang, jantungku berdegup keras, aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Kuatur nafasku, ingin rasanya aku melompat turun dan keluar kamar. Tetapi desiran hangat yang mempercepat peredaran darahku membuatku mengurungkan niatku.Tangan Mas Har seperti tanpa sengaja menempel ke tanganku, aku tetap tidak bergerak.
Tidak berapa lama, kurasakan tangannya menindih tanganku, dan itu cukup lama sampai aku bingun harus berbuat apa. Ketika dilihatnya aku diam saja, kurasakan dia mulai mengelus lengan dengan lembut dan kurasakan kehangatan yang sangat menyenangkan.
Tangannya terus mengelus ke atas leherku, aku menahan kegelian. Melihatku diam saja, Mas Har semakin berani dan tangannya mulai turun untuk meraba-raba buah dadaku dari luar daster. Tidak lama kemudian, tali daster dan tali BH-ku diturunkan dan tangannya menerobos masuk ke dalam buah dadaku. Aku menggelinjang ketika jarinya meremas buah dadaku dengan lembut, dan mengelus-elus puting susuku.
Nafasku memburu, aku makin terangsang, bahkan Mas Har tanpa sadar telah merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Kaki kirinya telah menindih kedua lututku yang diam tak dapat berontak, karena hasratku membuatku bingung. Kurasakan batang kemaluannya yang telah mengeras di balik piyamanya menempel ketat di pinggul kiriku. Dan aku masih pura-pura tidur.
Dilepaskan tangannya dari BH-ku, tangan kirinya merayap di pahaku, lalu menyusup di bawah daster dan mengelus paha atas bagian dalam dan akhirnya berhenti di pangkal paha. Dielusnya dengan lembut bibir kemaluanku yang masih rapat terbungkus dengan celana dalam, kurasakan kehangat dan perasaan nikmat mengalir di dalam dinding kemaluanku.
Elusan di atas celana di depan memek, kadang-kadang diselipkan jari tanganya dari samping celanaku membuat dinding memekku berdenyut lembut dan enak. Aku merasakan bahwa kepunyaanku sudah basah. Tiba saatnya Mas Har memasukkan tangan kirinya ke dalam celanaku melalui pusar, ketika itu aku sadar dan aku takut kalau Mbak Hesti tiba-tiba masuk, maka kupegang tangannya dan kutahan agar Mas Har tidak meneruskan niatnya. Tetapi tangannya tidak mau keluar dari celanaku dan aku tetap menahannya.
Kubuka mataku, kutatap wajahnya. Mas Har tersenyum, tetapi aku tidak dapat membalas senyumnya. Aku ingin marah kepadanya atas kelancangannya, tetapi aku tidak dapat, karena dalam gejolak rangsangan yang membuaiku sebenarnya aku sudah kehilangan rasioku. Aku menikmatinya dan penolakanku lebih bersifat kekhawatiranku akan munculnya Mbak Hesti dari pintu kamar yang tidak terkunci. Dalam keadaan demikian kuarahkan pandanganku ke pintu kamar. Mas Har menangkap apa yang kumaksud.
Ditariknya tangannya dari celanaku, dan dia segera turun dari tempat tidur dan segera menguncipintu kamar. Aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat, seharusnya aku bangun dari tempat tidur dan segera keluar kamar, sehingga dapat terhindar dari perbuatan Mas Har yang lancang itu,tetapi tidak. Bagian dalam memekku masih berdenyut dengan lembut, aliran darahku dan birahiku masih belum turun dari kepala. Sensasi ini belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan dengan pacarku saja aku masih sebatas bergandengan tangan saja. Entah apa yang kubayangkan saat itu.
Kubalikkan tubuhku menghadap tembok membelakangi Mas Har yang kembali dari arah pintu. Direbahkannya tubuhnya rapat di belakangku sambil menarik pundakku ke arahnya, sehingga aku kembali dalam posisi telentang dan dia mencoba menciumku, tetapi aku menghindar dari ciumannya. Kugelengkan kepala ke kiri dan ke kanan, sampai akhirnya Mas Har bisa menangkap mulutku dengan mulutnya. Saat itu aku sudah tidak dapat lagi menahan kuasa nafsu birahi dari dalam tubuhku yang masih perawan ini.
Itulah pertama kalinya aku dicium oleh seorang laki-laki, aku masih bodoh ketika dia menyedot dan menjilat bibirku. Aku tidak memberikan tanggapan yang seharusnya wanita berikan ketika dicumbu seorang lelaki, aku masih kaget, nafasku tidak beraturan, tetapi nafsuku bangkit kembali. Tanpa sadar kupeluk pundaknya erat-erat ketika tangannya meremas-remas buah dadaku. Kurasakan payudaraku mulai mengeras, apalagi ketika puting susuku dipelintir ke kanan dan ke kiri berulang-ulang dengan lembut. Sensasinya sungguh diluar dugaanku.
Ketika bibirnya mulai menjalar ke leherku, tangannya pindah dari dada ke arah selangkangan, kubiarkan Mas Har membuka ujung bawah daster dan menelusup ke bawah celana dalam. Diusap-usapnya rambut kemaluanku untuk beberapa lama, dan kemudian jari tangannya mulai terasa menggesek dinding memek dan kemudian ke atas ke arah klitoris. Aaahhh.., ada rasa ngilu yang sangat nikmat. Beberapa lama jarinya mengelus dan menggeletarkan klitorisku, tanpa sadar kuikuti iramanya dengan menggoyang pingulku. Kenikmatan sudah menjalar ke seluruh kelamin, ke pinggul dan bahkan ke bagian pantatku. Aduh nikmat sekali.
Aku merintih dan mendesah pelan penuh kenikmatan. Ketika Mas Har menarik tangannya dari dalam celana, aku merasa kecewa, ternyata tidak, ia ternyata melepaskan celananya ke bawah sehingga batang kejantanannya yang telah berdiri dengan kokoh menyeruak keluar. Kepala yang membesar telah mengkilat. Dibimbingnya dengan lembut tangan kiriku ke arah batang kejantanannya dan aku tidak kuasa lagi menolaknya. Kugenggam dan kuremas-remas dengan lembut batang panjangnya. Inilah pertama kalinya aku melihat sekaligus menyentuh alat kelamin seorang laki-laki. Dadaku bergetar penuh birahi, kemudian ketika jarinya kembali memainkan klitorisku, sedang jari lainnya semakin masuk ke dalam liang senggamaku, maka kukocok batang kejantanannya semakin cepat.
Kudengar nafasnya memburu disertai desis yang pendek dari mulutnya. Dinding dalam liang kewanitaanku berdenyut semakin dalam. Kujepit jarinya dengan bibir bawahku, aku tidak tahan lagi, kenikmatan sudah menjalar hingga ujung rambut. Tiba-tiba denyutan yang kuat datang dari arah liang rahimku. Aku menahan nafas, aku menggelinjang dan kujepit jarinya dengan kuat. Aku telah mencapai puncak, liang kewanitaanku berkedut-kedut dengan kuat. Aahhh.., dan pada saat yang hampir bersamaan, Mas Har menekankan pinggulnya ke pahaku, dan batang kemaluan yang berada dalam genggamanku terasa berkedut-kedut dengan kuat, dan kurasakan air maninya memancar dan membasahi pahaku.
“Aaahhh..,” hanya desisan yang dapat kukeluarkan dari mulutku.
Beberapa detik aku tergeletak dengan lemas berdampingan dengan tubuh hangatnya Mas Har. Dengan malas aku bangun, kubuka pintu kamar dan segera aku ke kamar mandi. Aku takut bertemu Mbak Hesti yang masih sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi kami.
Saat di kamar mandi, aku sempat membayangkan sensasi kenikmatan yang berlangsung beberapa menit yang lalu. Ada perasaan senang bercampur dengan perasaan takut bergejolak di dalam diriku saat kubersihkan kemaluanku di kamar mandi. Mas Har masih telentang di tempat tidur sambil tersenyum menatap wajahku ketika aku keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke dapur membantu Mbak Hesti yang tidak mengetahui adanya sensasi indah di kamar itu.
Hari itu juga kuputuskan aku harus kembali ke kotaku, aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Bukan aku tidak menyukainya, tetapi aku tidak ingin rumah tangga kakakku menjadi berantakan gara-gara kehadiranku yang membangkitkan birahi suaminya. Mbak Hesti kaget ketika aku pamitan untuk pulang. Aku memberikan alasan bahwa ada tugas kuliah yang lupa kuselesaikan.
Meskipun apa yang kulalui saat itu tidak merusak keperawanan yang kumiliki, tetapi itu merupakan pengalaman pertamaku dalam menikmati sensasi seks yang sebenarnya.  Cerita Sex Dengan Kakak Iparku.

Related Posts:

Kisah Kupu Kesepian

Kisah Kupu Kesepian – Suara erangan dan jerit kenikmatan bersahutan dalam kamar suite di hotel bintang empat tersebut. Di atas ranjang yang besar terlihat seorang wanita muda, berkulit putih rambut sebahu sedang mengerang nikmat ketika laki-laki muda yang ada di atasnya menghentakkan pinggulnya sembari menciumi leher wanita itu.


“Ahhh, keeluuaaarrh Prim, akuuu dapeeeettss!” Wanita itu mengejang menggapai orgasme.
“Ampunnnnn, aduuhhhh, lagiihhh, lagiihhh!”

Terjangan orgasme membuat wanita itu kewalahan dan pasrah ketika laki-laki yang bernama Prima itu membalik tubuhnya dan langsung menyetubuhinya lagi dengan gaya Doggie Style.
“Ahhhh, ahhhh, mentok ahhhh, ampuunnhnnnn, gillllllaaaaahhkk!” Wanita itu mengejang lagi untuk kesekian kalinya.
Udara sejuk dalam kamar itu tidak mampu menahan keringat keluar dari tubuh kedua orang itu. Wajah laki-laki itu tampak mengejang berusaha menahan desakan dalam kontolnya yang begitu kuat. Ia berusaha memperlambat tempo supaya bisa lebih lama menikmati tubuh wanita yang sekali lagi mengerang nikmat mendapatkan orgasme entah untuk yang keberapa kalinya.
“Aduh Prim, udahan plis, lemes banget inih, kluarin beb..” Wanita itu merengek sambil mengerang ketika orgasme kembali menerjang dari bawah tubuhnya.
“Bentar lagi Cin, masih blom puas nih say.” Prima membalik tubuh wanita yang bernama Cintia lalu memasukan lagi kontolnya.

Cintia hanya mengerang pasrah merasakan batang kontol Prima yang begitu keras merasuki memeknya.
“Hahhh, hahhhh, mo kluar Cin, aaaahhh!” Prima menghentak-hentak makin keras sambil menahan pinggul Cintia.
“Yahhk, yahhk, bareng Prim, aduh gilaaahhhkkkk!”

Prima dan Cintia mengerang keras, tubuh Cintia mengejang dan bergetar ketika merasakan semburan sperma Prima ke dalam dirinya. Dengan nafas memburu keduanya tergeletak lemas di atas ranjang. Prima dan Cintia menatap satu sama lain sambil tersenyum bahagia. Di lantai kamar itu berserakan gaun pengantin serta tuxedo yang mereka kenakan tadi siang pada waktu resepsi pernikahan mereka. Prima mencium bibir Cintia, yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya. Sudah begitu lama ia menunggu untuk bisa bercinta dengan Cintia, yang sangat menjaga kehormatan dirinya. Cintia yang kehabisan tenaga, merasakan kebahagiaan karena bisa membuat suaminya begitu puas dalam bercinta, karena selama ini Cintia kadang merasa grogi menjelang malam pertama mereka ini.
Sejak kecil ia selalu diajarkan dasar agama yang kuat sehingga ketika Prima mengajaknya bercinta selama mereka berpacaran, ia selalu menolak halus. Ada rasa kuatir dalam diri Cintia, kalo ia tidak bisa memuaskan Prima pada saat malam pertama mereka, tetapi semua itu sirna sudah, dan Cintia juga kewalahan ketika mengetahui dirinya yang mudah mendapatkan orgasme pada saat berhubungan intim. Cintia merasakan lidah Prima dalam mulutnya, sementara tangan Prima sudah mulai lagi merabai memeknya yang basah.
“Huuumppphh Priiimmm, break duluuu..” Cintia menggelinjang ketika kontol Prima sudah kembali berada di depan liang memeknya. “Ooohhhkk, addduhh, keras bangeeet..”
Protes Cintia tidak digubris Prima, yang masih blom puas menyalurkan nafsunya yang sudah tertahan selama ini. Ia menindih Cintia dan memasukan kontol perlahan. Cintia hanya bisa pasrah menerima kontol suaminya itu, ia mengerang ketika kenikmatan mulai datang lagi dari bawah tubuhnya.
Bulan demi bulan setelah pernikahan mereka kehidupan Prima dan Cintia hampir sempurna. Mereka sangat menikmati hidup baru mereka, karena sudah menjadi keputusan mereka untuk menunda dalam memiliki anak agar bisa mengejar karir di dunia kerja mereka masing-masing.
Mei 2014
Prima mendapat kenaikan jabatan menjadi Direktur Keuangan di perusahaan tempat dia bekerja, menggantikan direktur yang lama, yang mengundurkan diri. Walaupun ia mendengar gosip tidak mengenakan soal pengunduran diri direktur yang lama itu, tapi rasa bahagia Cintia dan dirinya mengalihkan perhatiannya.
Agustus 2014
Prima dan Cintia menempati rumah baru mereka. Dengan menggunakan tabungan mereka sebagai uang muka, mereka membeli rumah dan membayar sisanya melalui kredit. Dengan gaji Prima sebagai direktur keuangan dan penghasilan Cintia sebagai sekretaris di perusahaan pembiayaan, mereka sangat mampu membayar cicilan rumah tersebut.
November 2014
Seorang staff bagian keuangan tertangkap tangan menggelapkan uang perusahaan. Tiga orang staff yang terlibat. Direktur utama perusahaan itu, Pramono, memerintahkan untuk melakukan audit penuh pada divisi keuangan pimpinan Prima itu.
Desember 2014
Hasil audit menunjukan Prima, secara tidak langsung terlibat dalam penggelapan dana ratusan juta tersebut. Prima menyangkal keras keterlibatannya, tetapi tanda tangan pada dokumen yang sebenarnya belum pernah dilihat sama sekali oleh Prima membuat ia tidak memiliki kekuatan untuk menyangkal lebih lama. Tim audit menelusuri lebih jauh kasus penggelapan itu, dan menimpakan semua kesalahan direktur keuangan yang lama pada Prima sebagai pejabat baru. Kerugian perusahaan mencapai hampir satu milyar. Pramono yang harus menjaga nama baik perusahaannya, memberikan pilihan pada Prima, untuk mengganti seluruh kerugian atau membawa kasus ini ke ranah hukum. Dunia Prima dan Cintia langsung jungkir balik. Rumah dan mobil mereka terpaksa dijual untuk mengganti kerugian perusahaan. Sekarang mereka tinggal di rumah kontrakan kecil di pinggir kota. Tetapi itu juga masih belum mencukupi untuk mengganti kerugian.
4 Januari 2015
Polisi menangkap Prima atas tuduhan penggelapan. Pramono memberikan waktu kepada Prima dan Cintia untuk menyelesaikan kekurangan kerugian perusahaan selama satu bulan. Jika dalam satu bulan tidak dapat diselesaikan, maka proses perkaranya akan diteruskan.
20 Januri 2015
Cintia termenung di meja kerjanya. Tugas-tugas hariannya banyak yang terbengkalai. Matanya sembab hasil menangis semalaman. Lingkaran hitam di matanya tampak jelas karena ia tidak cukup tidur memikirkan Prima yang ditahan di kantor polisi. Mei, teman sekantor Cintia, masuk ke dalam ruangan Cintia.
“Kamu kenapa Cin? Buat apa kamu minta nomer kontak ini?” Muka Mei penuh pertanyaan. “Orang ini bukan orang baik-baik loh. Bahaya. Boss aja angkat tangan kalo udah urusan sama dia.”
“Aku gak bis cerita Mei.” Tangan Cintia membalik-balik kertas putih bertuliskan nomor telepon. “Aku tau dia bukan orang baik-baik. Tenang aja Mei.”
“Hati-hati Cin!” Mei tampak cemas, sudah hampir sebulan ini sahabatnya Cintia ini tampak terbebani sesuatu. Ada gosip-gosip yang beredar, tapi Mei lebih memilih menunggu Cintia bercerita sendiri kepadanya.
“Hati-hati Cin!” Mei kembali berkata sebelum keluar ruangan Cintia. Sedangkan Cintia hanya termangu menatap kertas tadi.
Tanpa ekspresi kemudian Cintia meraih ponselnya kemudian menghubungi nomor tadi.
1 Februari 2015
920, Cintia menatap nomor kamr hotel itu. Masih ada kesempatan untuk balik Cintia melihat lagi SMS yang diterimanya tadi. Jam 6 sore. Masih ada waktu untuk membatalkan semuanya. Cintia menarik nafas panjang. Tangannya menekan bel yang ada di samping pintu tadi. Semoga tidak ada orang. Semoga salah. Semoga salah. Seorang gadis muda, mengenakan seragam SMA, membuka pintu itu. Raut mukanya tampak kelelahan, tapi ia masih bisa tersenyum hangat pada Cintia sebelum mempersilakan ia masuk. Gadis itu mengenakan jaket serta menyandang tasnya sebelum keluar kamar dan menutup pintu.
Mata Cintia dan gadis itu sempat bertemu sebelum pintu menutup. Dan Cintia melihat rasa kuatir pada tatapan gadis itu. Dalam kamar suite itu Cintia perlahan melangkah masuk menuju ruangan utama. Duduk di atas sebuah sofa besar, terlihat seorang laki-laki sedang membaca beberapa lembar kertas. Tubuhnya terlihat besar tanpa lemak berlebih. Cintia hanyak bisa menebak laki-laki itu berumur sekitar 40an dengan melihat raut mukanya. Laki-laki itu mengangkat mukanya ketika Cintia sampai di tengah ruangan. Ia menatap jam yang ada di dinding.
“On time ya. Gua suka orang on time.” katanya sambil mengamati Cintia.
“Malem Ko Han. Maaf mengganggu.” Cintia menjawab dengan tenggorokan kering.

Cintia hanya mengenal laki-laki itu dipanggil Ko Han oleh boss-nya. Ko Han sering dihubungi jika ada nasabah dari kantor Cintia yang kabur atau bermasalah. Dari Mei, Cintia mendengar jumlah anak buah Ko Han yang puluhan serta koneksinya yang seperti tidak terbatas dimana-mana membuat Ko Han bukan orang yang bisa diperlakukan secara main-main.
“Jadi? Gimana? Lo jadi?” tanya Ko Han sambil menatap Cintia.
“Iya Ko, jumlahnya segitu Ko apa bisa ya Ko?” jawab Cintia cemas.
“Jumlah segitu banyak banget. Gua juga barusan kenal lo kemaren. Boss lo gak tau ya kalo lo cari gua? Gua juga tanya ke bos suami lo, si Pramono kemaren dulu.”

Cintia agak kaget mendengar Ko Han bisa mencari informasi tentang Prima dan Pramono yang belum pernah ia ceritakan sebelumnya kepada siapapun.
“I..iya Ko. Saya usahakan kembali secepatnya.”
“Lo gak usah janji muluk-muluk lah. Lo liat aja kondisi lo sendiri. Laki lo dipenjara. Lo gaji paling berapa. Sampe kapan lo mau balikin?”

Tubuh Cintia lemas mendengar kaya-kata Ko Han. Jalan terakhir yang ia tempuh sepertinya akan berubah menjadi jalan buntu dalam sekejap.
“Tapi Ko…” Cintia terdiam melihat tatapan mata Ko Han.
“Tapi apa lagi? Lo punya jaminan apa?”

Cintia hanya bisa terdiam. Mukanya panas, ia berusaha keras menahan air mata yang mendesak keluar.
“Lo jaminin badan lo aja!”
“No! No! Pulang aja Cin… Pulang…” naluri Cintia menjerit untuk segera keluar dari tempat itu. Tapi tubuh Cintia tak bergerak.
“Gimana? Kalo deal, gua test drive lo sekarang. Kalo emang oke besok-besok gua kabarin soal permintaan lo.” Ko Han tersenyum melihat Cintia bimbang. “Gua masih banyak janji nih Cin, kalo lo mau buruan copotin tuh baju trus gua test drive.”
“Jangan! Pulang! Prima gak bakal mau kamu gini. Pulang!”
“Ini demi Prima. Demi Prima.”
“Jangan!”

Tas tangan yang dibawa Cintia jatuh ke lantai kamar. Dengan tangan gemetar Cintia membuka kancing bajunya satu per satu. Baju itu pun menyusul tas Cintia jatuh ke lantai. Tangan Cintia menarik turun rok yang ia kenakan. Melorotkan bra dan celana dalamnya. Air mata mengalir. Tatapan matanya kabur. Tubuhnya gemetar. Tangan Cintia menutupi dada dan memeknya.
“Pulang! Jangan!”
“Demi Prima! Demi Prima!”

“Gua gak punya banyak waktu, jadi lo kerjain aja yang musti lo kerjain. Gua mau liat hasilnya aja.” Ko Han melepaskan jubah tidur yang ia kenakan, membuat Cintia dapat melihat kontolnya yang setengah menegang. Hampir saja Cintia jatuh terjerembab karena berjalan limbung mendekati Ko Han yang duduk bersandar di sofa sambil menatap langit-langit menunggu layanan dari Cintia. Kontol Ko Han menegang ketika tangan Cintia menyentuhnya. Cintia memejamkan mata, membayangkan seluruh film porno yang pernah ia tonton bersama Prima. Ketika itu mereka tertawa konyol melihat adegan-adegan film biru itu sebelum akhirnya bercinta dengan liarnya. Ko Han mendengus merasakan mulut Cintia menghisap kontolnya. Sebentar saja Cintia menggunakan mulutnya kontol itu sudah menegang maksimal. Cintia menaiki tubuh Ko Han.
“Prima. I love you! I love you! Maafkan! I love you babe.”
Cintia mengerang merasakan memek dibuka oleh dorongan kontol Ko Han ketika ia menurunkan pinggulnya. Gesekannya terasa perih, tidak seperti ketika Prima memasuki tubuhnya. Tubuh Cintia gemetar ketika seluruh kontol Ko Han masuk ke dalam memeknya. Perlahan Cintia mulai bergerak naik turun berpegangan pada pundak Ko Han.
“Prima! Maafkan aku… Maaf sayang!”
Tubuh Cintia mulai bereaksi. Cairan cinta mulai melumasi memeknya. Rangsangan muncul menggantikan rasa perih. Cintia mengerang ketika merasakan buah dadanya diremas disusul oleh hisapan oleh mulut Ko Han.
“Ohhhkk, jangan, jangaaannhh, aahhhh, plisssshhh…” Cintia meronta ketika rangsangan terus datang dan berlipat ganda membuat tubuhnya total meledak dalam kenikmatan. “Ahhhh, jangaaaaannnnghhkkkk, aaaahahhhkkk!”
Tubuh Cintia menyerah kalah. Orgasme datang menghempaskan harga diri Cintia. Air mata kembali menetes ketika Cintia jatuh lemas di badan Ko Han.
“Ohhh udahhhkk kooo, udaahhhh…” Cintia merintih ketika tangan Ko Han memaksa pinggulnya kembali bergerak naik turun. “OOoh, kooo plisshhh stoppp ahhhhhhhhhhkk….”
Orgasme kedua datang. Yang ketiga menyusul. Pinggul Ko Han sekarang ikut bergerak. Membuat kontolnya masuk semakin dalam.
“AMpppunnn! Udah! Udah plis! Ampun Kooooohhhkkkkk…”
Keempat. Kelima.
“Hhhgggghhhk!”
Cairan hangat memenuhi memek Cintia. Pecah tangis Cintia. Ia meraung kalah merasakan sperma Ko Han mengalir keluar dari memeknya. Ia melepaskan diri dari Ko Han meringkuk di lantai. Menangis kalah.
“Luar biasa!” Ko Han tersenyum puas.
“Hoki banget laki lo bisa puya bini kayak lo ya.”

Cintia merangkak menjauh menggapai pakaiannya.
“Sekarang lo pulang aja. Tunggu kabar dari gua.” Ko Han bangkit meninggalkan Cintia masuk ke kamar mandi.
Seperti orang linglung Cintia berpakaian. Celana dalamnya lembab terkena cairan sperma Ko Han. Rambutnya kusut. Ia berjalan sambil melamun sepanjang lorong hotel itu.
3 Februari 2015
Cintia menggengam erat bukti setoran yang baru saja ia terima kembali dari teller bank tempat ia menyetorkan uang kerugian perusahaan milik Pramono sesuai dengan petunjuk dari Pramono ketika Cintia menghubunginya tadi pagi. Hari ini adalah hari terakhir batas waktu untuk mengembalikan semua kerugian dari kasus Prima. Di depannya sofa tempat Cintia duduk, Pramono sedang mengamati bukti transfer yang diberikan oleh Cintia. Waktu menunjukan pukul 7 malam di ruangan kerja Pramono, direktur utama sekaligus pemilik perushaan itu.
“Sayang sekali bagian keuangan gak sempet cek ya Bu, apakah udah masuk atau belum ke rekening kami.” Pramono mengembalikan bukti transfer itu.
“Tapi bener saya sudah setor kok Pak. Gak mungkin saya boongin Bapak.” Cintia menatap cemas.
“Saya sih percaya Bu Cintia gak boong. Tapi tadi bagian legal terlanjur memutuskan untuk meneruskan kasus Pak Prima ini untuk diproses. Jadi dari perusahaan kami sudah gak bisa menarik laporan pengaduannya Bu.”

Cintia tidak bisa percaya atas pendengarannya sendiri. Ia berkata panik, membela diri mengatakan kalo Pramono yang baru bersedia ditemuinya pada jam tujuh, padahal ia sudah menunggu sejak pagi tadi. Suara Cintia terdengar begitu panik hampir-hampir ia menjerit-jerit putus asa atas perkebangan yang terduga ini.
“Saya gak bisa bantu apa-apa Bu, karena perusahaan ini kan punya prosedur soal kasus ini. Maaf sekali Bu.” kata Pramono ketika Cintia terdiam kehabisan kata-kata menatapnya.
“Saya paling hanya bisa menghubungkan ibu dengan orang kepolisian dan kejaksaan yang memproses kasus ini. Mungkin masih bisa dipending atau digugurkan.”

Secercah harapan tumbuh di mata Cintia.
“Terima kasih Pak Pram, mohon info kontaknya saja Pak, supaya bisa saya hubungi secepatnya Pak. Terima kasih sebelumnya.”
“Nomor kontak dan nama ada di kartu ini Bu, silakan dikontak sendiri ya…” jawab Pramono. “Tapi gak salah sepertinya kalo saya minta tolong juga kepada Bu Cintia, sesuai dengan informasi dari Ko Han. Katanya kemaren Ibu ketemu Ko Han, dan saya disarankan Ko Han untuk bisa minta bantuan pada Ibu sepertia pa yang Ibu udah berikan pada Ko Han.”
Wajah Cintia berubah dari jijik, kemudian marah dan panik mendengar perkataan Pramono. Pramono hanya tersenyum melihat raut wajah Cintia.
“Bagaimana Ibu? Kebetulan saya ada janji makan malam sama keluarga. Ulang tahun istri saya. Kalo ibu keberatan membantu saya terpaksa belum bisa membantu ibu juga.”
Tubuh Cintia yang lunglai, sudah memberikan jawaban pada Pramono. Ia bangkit mengunci pintu ruangannya dan kemudian menarik turun semua tirai yang ada di ruangan itu. Suasana ruangan itu seketika menjadi muram bercampur kemesuman yang begitu terasa oleh Cintia. Pramono berdiri di hadapan Cintia. Cintia menegakkan tubuhnya, kemudian melepaskan ikat pinggang yang dikenakan Pramono. Celana panjang itu jatuh, disusul celana dalam Pramono.
Butuh waktu seminggu untuk bisa bertemu dengan ketiga orang yang duduk di depan Cintia. Dengan sisa uang gajiannya Cintia mengajak ketiganya bertemu di lobby sebuah hotel. Ketiganya mengenakan pakaian dinas karena saat itu masih pagi dan hari kerja. Mereka orang dari kejaksaan dan kepolisian yang mengurusi kasus Prima.
“Peraturannya memang kalo udah diproses harus diteruskan Bu, karena walaupun dicabut juga gak pengaruh ya..” Tasirin dari kejaksaan berusaha menjelas keadaan kasus Prima pada Cintia.
Mahmud rekannya serta Basiran dari kepolisian hanya mendengarkan serta menganggukan kepalanya.
“Trus gimana Pak? Saya udah bayar ganti ruginya penuh Pak. Hanya karena miss dengan jadwal Pak Pramono aja jadi kayak gini.” mohon Cintia pada Tasirin.
“Apakah gak bisa dibantuin Pak? Kalo ada biaya bisa dikondisikan kok Pak.”
“Bukan masalah biayanya Bu, tapi emang susah kalo diproses gitu. Musti kasus khusus banget kalo mau direvisi ini itu nya.” jawab Mahmud.
“Proses merubah jadi kasus khususnya itu yang berat sekali dan rumit Bu.”

“Kami kan juga punya atasan, jadi musti bisa dipertanggung jawabkan kalo ada revisi Bu.” timpal Basiran.
Cintia menatap ketiga orang itu.
“Bapak-bapak semua, sudah ketemu dengan Ko Han sebelum kesini?” tanya Cintia lirih.
Ketiga orang itu hanya tersenyum.
“Saya tau maksud Bapak.” Cintia berkata pahit. “Silakan Bapak tunggu sebentar. Saya buka kamar dulu. Nomor kamar serta kuncinya nanti saya tinggal di receptionist.”
Cintia bangkit meninggalkan ketiga orang tadi dan melangkah masuk lift menuju receptionist. Ketika ketiga orang itu masuk kamar Cintia, mereka melihat Cintia sudah mengenakan bathrobe putih. Ketiganya duduk tanpa melepaskan pandangan pada tubuh Cintia. Cintia menjatuhkan bathrobe itu ke lantai. Tarikan nafas terdengar jelas di kamar itu. Tubuh Cintia yang mulus menyita perhatian ketiga orang itu. Hampir serempak ketiganya bangkit, melepaskan pakaian dinas dengan beragam atributnya itu hingga terserak di lantai. Ketiganya mengitari Cintia.
Mata Cintia memancarkan rasa kuatir bercampur malu. Selanjutnya semua berlangsung cepat. Jamahan. Remasan. Ciuman. Jilatan. Datang silih berganti. Cintia merasakan jilatan di memeknya, tapi kemudian berubah menjadi gesekan sebuah jari. Buah dada kirinya di remas dari belakang. Puting kanannya merasakan lidah dan gigitan. Rasa lembab terasa pada memeknya. Gesekan jari itu mulai terasa nyaman. Dua buah tangan menekan pundaknya memaksa Cintia jatuh berlutut. Sebuah kontol mengacung di depan mulutnya. Mahmud mendesis nikmat ketika mulut hangat Cintia menyelimuti kepala dan batang kontolnya. Usapan lidah Cintia membuat kontolnya berdenyut.
“Terus Bu.. Ohhh, gila enak banget. Ditelen ya Bu! telen!” Tangan Mahmud meremas rambut Cintia.
Cintia membelalakan matanya. Ia menggeleng.
“Gahhhkkk, jahannnngg!” Cintia berusaha menarik kepalanya, tapi tangan Mahmud menahannya. Dua pasang tangan lain menahan tubuhnya yang meronta.
“OOOhhhh hhhggghhhkkk oooohhhhkkkkk.” Mahmud mengejang dan mendorong maju kepala Cintia.
“Huuurkkkkhhh, hhhuuuuekeekkkkk!”

Cintia meronta sekuat tenaga ketika semburan sperma memenuhi rongga mulutnya. Tubuh telanjangnya berlari menuju kamar mandi dan mengeluar isi mulut dan perutnya ke wastafel. Suara air terdengar mengalir di wastafel ketika Cintia jatuh terduduk lemas di lantai kamar mandi. Nafasnya memburu. Perutnya terasa mual.
Seseorang masuk ke kamar mandi mendekati Cintia.
“Yuk lanjut Bu…” kata Basiran berdiri dengan kontol tegang.
Tertatih Cintia berusaha bangun berlutut. Memasukan kontol itu ke dalam mulutnya. Hanya butuh beberapa menit sebelum semburan sperma memenuhi mulut Cintia lagi. Kali ini ia tidak sempat menumpahkan lagi isi perutnya ke dalam wastafel. Sperma Basiran berceceran di lantai keluar dari mulut Cintia. Isi perutnya yang kosong membuat mulut Cintia terasa pahit ketika ia muntah untuk kedua kalinya. Di belakang Basiran datang Tasirin. Cintia harus berpegangan pada kaki Tasirin untuk mengangkat tubuhnya. Ia begitu lemas sehingga Tasirin leluasa menggerakan kepalanya maju mundur dengan brutal. Pandangan Cintia berkunang-kunang. Semburan ketiga datang. Cintia jatuh kejang-kejang memuntahkan semuanya.
ia menjerit sakit ketika perutnya berkontraksi berusaha mengeluarkan muntahnya tanpa hasil. Tasirin meninggalkan Cintia terkapar di lantai. Sayup-sayup Cintia mendengar ketiga orang itu tertawa sambil mengobrol. Bau asap rokok perlahan masuk ke kamar mandi itu. Cintia berusaha bangkit, masuk ke dalam bathtub. Ia menarik tirai bathtub, membuka keras air panas. Tubuhnya mengigil walaupun shower menyirami tubuhnya dengan air panas. Cintia duduk memeluk lututnya membiarkan air terus menerus menyiram tubuhnya. Sseorang menyibak tirai bathtub itu.
“Saya tunggu dari tadi kok gak keluar Bu.” tanya Basiran. “Ya udah disini aja gak apa deh. Kayak di film.”
Basiran melangkah masuk bathtub. Ia mengangkat tubuh Cintia dan menghadapkannya ke dinding membelakanginya. Basiran menaikan satu kaki Cintia ke bibir bathtub sebelum mendorong masuk kontolnya.
“Pelan pahhhhkkkkk, ssssshhhhh pelaaaaahhhkkkk…” Cintia mengerang merasakan memeknya dimasuki batang kontol Basiran. Tangannya menahan tubuh dan dorong Basiran pada dinding sementara siraman air terus jatuh ke tubuhnya.
Basiran mulai bergerak maju mundur. hawa kamar mandi menjadi begitu panas dan beruap. Tubuh Cintia berkilat tertimpa cahaya lampu. Suara dengusan Basiran terdengar jelas di belakang Cintia. Cintia merintih. Kepalanya menggeleng ketika merasakan tubuhnya kembali berontak. Makin lama makin kuat sampai akhirnya meledak.
“Ooohhhkkkkk, hhhgghhhhkkk…” Cintia mengejang kedua kalinya ketika tangan Basiran memilin kedua putingnya.
Orgasme masih datang beberapa kali pada Cintia, sebelum akhirnya Basiran memeluk erat tubuh Cintia sambil menghentak keras. Hembusan nafas berbau rokok tercium dari belakang Cintia. Tertatih Cintia didorong keluar kamar mandi. Di luar udara dingin AC langsung mengigit. Tubuh Cintia mengigil, tapi hanya sekejap ia merasakannya, karena Mahmud dan Tasirin sudah menarik dan mendorong tubuh Cintia ke atas ranjang. Basiran tersenyum melihat dua rekannya berebut menikmati tubuh ibu rumah tangga yang masih muda itu. Ia dan rekannya baru pertama kali merasakan tubuh wanita keturunan. Karena selama ini setiap gratifikasi seks selalu dengan wanita pribumi.
Oleh karena itu ia dan rekannya bertekad akan memanfaatkan setiap jengkal tubuh Cintia maksimal dan habis-habisan. Cintia menjerit-jerit ketika orgasme datang lagi ketika Mahmud menggarap tubuhnya dari belakang. Tapi jeritan itu langsung berubah menjadi gumaman ketika kontol Tasirin kembali masuk mulut Cintia. Beberapa menit kemudian Mahmud mencapai puncaknya. Tubuh Cintia gemetar tak bergerak di atas ranjang. Tasirin membalik tubuh Cintia, membuka kakinya dan memasukan kontolnya. Mulut Cintia terbuka tapi tenaganya sudah habis untuk mengeluarkan erangan. Ia menggeliat ketika Tasirin mulai menyetubuhinya. Tangannya menggapai-gapai. Matanya melihat Mahmud dan Basiran duduk menikmati pertunjukan di atas ranjang itu. Semburan hangat terasa kembali. Cintia memejamkan matanya. Tenaganya benar-benar habis.
“Prima… maaf..”.
Cintia membuka matanya. Tubuhnya terasa sakit ketika ia berusaha melihat jam. Pukul 9 malam. Keadaan kamar itu remang-remang. Hanya dirinya yang terbaring di ranjang. Suara air mengalir terdengar dari kamar mandi. Cintia menarik selimut menutupi tubuhnya ketika seseorang keluar dari kamar mandi. Basiran dalam keadaan telanjang bulat melangkah mendekat. Ia tersenyum.
“Malam ini cuman kita berdua Bu. Anggap aja hoenymoon kedua Bu Cintia yah.”
Ia naik ke atas ranjang, menarik selimut dari tubuh Cintia dan kembali menindih tubuhnya. Cintia melayani Basiran semalaman. Cintia teringat pada malam pertamanya bersama Prima. Prima hanya butuh waktu istirahat sebentar sebelum menyetubuhinya lagi. Demikian juga Basiran. Sayup-sayup Cintia mendengar adzan subuh ketika Basiran akhirnya terpuaskan birahinya dan jatuh tertidur. Dengan sisa tenaganya Cintia masuk ke kamar mandi. Ia menuangkan seluruh sabun mandi yang ada untuk membasuh tubuhnya yang terasa begitu kotor.
Ketika Mahmud dan Tasirin datang lagi pada pukul sembilan pagi, mereka melihat Cintia sedang menaiki tubuh Basiran yang sedang berbaring sambil merokok menikmati goyang tubuh Cintia. Kedua orang itu langsung bergabung sebelum akhirnya mereka merasa cukup dan kehabisan tenaga. Mahmud memberikan sebuah amplop coklat besar pada Cintia. Cintia tidak merasakan sakit seluruh tubuhnya ketika bergegas keluar hotel dan menuju rumah tahanan dengan taksi.
14 Februari 2015
Tubuh gadis itu mengejang lagi. Sempoyongan berusaha tetap tegak di atas tubuh Ko Han yang sedang berbaring menikmati jilatan lidah Cintia pada puting susunya. Cintia melihat gadis itu. Bibirnya terlihat memucat. Dia kehabisan tenaga. Cintia medekati gadis itu. Menciumi pipinya kemudian bibirnya. Perlahan ia mendorong tubuh gadis itu turun dari tubuh Ko Han. Cintia kemudian membelakangi Ko Han sambil mengangkat pantatnya. Ko Han langsung bangun dan memasukan kontolnya ke memek Cintia. Memek gadis itu tepat di depan muka Cintia. Lidah Cintia menjilati memek yang hanya ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Gadis itu merintih. memeknya kembali basah. Cintia pun kembali merasakan orgasmenya datang. Gadis itu mengaran semakin keras. tangannya meremas sprei, tubuhnya menggeliat.
“Oohh mbakkk, ooohhh aduuh…” gadis itu merintih. “Mbahkkk mbaaahhhkkkaaa…”
Gadis itu mengejang.
“Tiar kluar lagih mbaaaaaaakkkhhhhh……..”
Cintia berdiri disamping taksi. Tangannya berusaha merapikan bajunya yang sedikit terlihat kusut ketika keluar dari hotel tadi. Pada ponsel di tangannya terlihat pesan BBM dari Ko Han tadi pagi beserta gambar dirinya bersama Ko Han pada waktu itu. Jarinya bergerak menghapus pesan dan foto tadi. Pintu gerbang dari besi itu terbuka. Sesosok laki-laki keluar. Prima berlari mendekati Cintia. Keduanya berpelukan erat. Cintia menangis bahagia merasakan tubuh Prima kembali dalam pelukannya. Ia menciumi wajah Prima. Prima mengusap rambut Cintia, sambil menatapnya dalam.
“Happy Valentine Cin…” Prima mencium kening Cintia.

“Happy 1st anniversary Prim…” Cintia mencium bibir Prima.

“Maafkan aku Prima..”  Kisah Kupu Kesepian

Related Posts: