Tante Heni

Tante Heni – Nama ku bayu. Baru lulus SMA. Dan tahun ini awal masuk kuliah. Aku harus meninggalkan kampung halaman di Semarang. Karena aku diterima disalah satu kampus PTS di Jogja. Awalnya, aku ingin ngekost. Dengan maksud agar bisa hidup bebas. Maklum selama ini aku belum pernah merasakan hidup mandiri. Dari lahir hingga remaja sudah terbiasa bersama orang tua.


Saat akan masuk SMA dahulu, aku ingin sekali bersekolah di Jogja. Tapi orang tua melarang ku karena alasan umur. Inilah yang menyebabkan aku menjadi lelaki yang cukup biasa. Kurang pandai dalam bergaul. Punya pacarpun tidak bertahan lama. Dalam berhubungan paling jauh hanya cium pipi dan bibir. Padahal aku termasuk lelaki yang suka menonton film bokep dan onani. Ingin sekali aku melakukan hal-hal seperti di film itu bersama pacar. Tapi tak pernah ada kesempatan.
Orang tua menawarkan untuk tinggal dengan paman yang bekerja di Jogja. Paman dengan ayah hanya berselisih usia 2 tahun saja. Usia paman sekitar 55 tahun.
Paman termasuk lelaki yang sangat beruntung. Karena dia mendapatkan istri relatif lebih muda usianya dibanding usia paman. Saat itu paman menikah dengan wanita berusia 25 tahun. Sedangkan umur paman ketika itu 45 tahun.
Paman tergolong kontraktor yang sukses. Sebelumnya, paman seorang wirausaha yang mengalami pasang surut. Dengan alasan inilah paman menunda untuk membangun bahtera rumah tangga. Hidupnya digunakan untuk mengejar mimpi-mimpi. Sebagai seorang kakak, ayah selalu membantu paman. Baik mensuport secara moril maupun materi. Paman sering meminjam uang ayah kalau lagi kekurangan modal. Jika sudah untung, paman segera mengembalikan uang yang dipinjam dari ayah. Walau terkadang ayah sering menolak untuk mengembalikan. Dan pada akhirnya paman berhasil dalam usahanya.
Dari pernikahan dengan tante Heni paman dikaruniai seorang putra. Ibram namanya. Usianya kini sekitar 7 tahun.
Usia tante kini berkisar 35 tahun. Tante Wanita Jogja asli. Kulitya kuning langsat. Rambutnya cukup panjang. Bodynya berisi. Dan pinggulnya cukup lebar. Tinggi tante sekitar 165 cm. Betis dan pahanya pun cukup besar. Dibandingkan ketika mereka menikah dahulu dengan saat ini, keadaannya sudah cukup berbeda. Dahulu tante Heni cukup langsing. Mungkin setelah melahirkan inilah fisik tante Heni berubah.

Tante Heni ibu rumah tangga biasa. Mungkin inilah yang menyebabkan tante Heni kurang peduli dengan perubahan bentuk fisik tubuhnya. Tidak seperti wanita kebanyakan wanita, terutama wanita karir. Meski paman orang mampu, Tante enggan terlibat acara istri-istri pengusaha macam arisan. Kalaupun bergaul, tante lebih senang bergaul dengan ibu-ibu tetangga.
Wajah tante masih terlihat cukup manis. Tante Heni masih cukup jelita untuk seorang ibu rumah tangga berkepala tiga. Apalagi jika sudah mengenakan daster. Belahan dada dan kuning tubuhnya yang tampak membuat birahi ku selalu bergejolak.
Sebuah kamar sudah disiapkan untuk ku rupanya. Letaknya bersebelahan dengan kamar Ibram. Tante Heni menyuruhku menemai Ibram saat tidur. Juga sekalian mengajarkan Ibram belajar.
Tidak terasa sebulan sudah aku tinggal bersama keluarga paman. Kehidupan keluarga paman cukup berjalan harmonis. Tdak ada ribut-ribut berarti. Tante Henipun aku kira sorang yang cukup sopan. Tidak pernah mengenakan busana yang begitu mencolok yang mengumbar tubuh seksinya. Padahal aku berharap melihat bentuk tubuh tante. Tapi pemandangan ini jarang terjadi.
Mungkin karena Terkadang, aku suka mencuri-curi pemandangan memperhatikan lekukan tubuh tante saat berkumpul bersama di ruang keluarga. Mulai memperhatikan belahan dada tante, sampai mencari celah-celah bisa mengintip paha tante dari rok yang tersingkap. Kalau sudah birahi dan berhasil, pasti aku lepaskan hasrat tersebut dengan onani di dalam kamar sambil membayangkan bersetubuh dengan tante.
Suatu ketika, jam pelajaran kampus kosong karena Dosen berhalangan mengajar. Aku memilih untuk pulang ke rumah. Waktu menunjukan pukul 10.00 WIB. Cuaca kota Jogja begitu panas. Pada akhirnya aku memilih untuk santai di rumah sambil menunggu jam kuliah selanjutnya.
Ketika aku masuk ke dalam rumah, tampak sejumlah ruang dalam keadaan kosong dan sepi. Mungkin karena Ibram masih sekolah sedangkan paman sedang sibuk di kantornya. Meski mereka orang mampu, mereka tidak punya pembantu ataupun sopir. Tante mengerjakan segala pekerjaan rumahnya sendiri. Sedangkan tugas antar jemput Ibram, sudah diserahkan ketetangga sebelah.
Terdengar suara orang sedang beraktifitas di kamar Ibram. Ternyata tante sedang membersihkan kamar Ibram. Namun betapa terkejutnya aku. Rupanya tante Heni hanya menggunakan BH dan celana dalam berwarna merah. Tanpa menggunakan busana lainnya. Seuntai handuk pun dilibatkan di kepala tante. Tampaknya tante baru selesai mandi.
Melihat kejadian semacam ini, akupun tidak menyianyiakan. Sebagai orang yang terobsesi dan penasaran dengan tubuh tante sejak pertama tinggal. Dengan seksama ku amati gerak-geri tante yang terlihat hanya dengan busana minim itu. Selama membereskan mainan Ibram yang berantakan terlihat jelas lekuk-lekuk tubuh tante.
Disaat tante nungging, nampak jelas lekukan bentuk pantat tante di balik CD merahnya. Alangkah indah bentuknya. Cukup padat sekali meski pinggulnya lebar. Pahanya begitu putih dan mulus. Meskipun terlihat ada lipatan lemak. Aku membayangkan cukup nikmat bila kontol yang sudah mengeras ini menjelajah di kedua paha tante dan selangkangannya.
Tampak dengan jelas payudara tante yang begitu besar. Lipatan kedua payudara itu seakan memanggil untuk menjepit
penis dalam keadaan ngaceng ini. Alangkah nikmat rasanya di jepit oleh belahan payudara tante.

Tante cuek sekali dengan kesibukannya. Tidak mengerti bila tubuhnya sedang diamati oleh lelaki yang sudah birahi dan ingin menerkam. Jantungku berdegup dengan kecang. Nafasku tersengal-sengal. Segera kubuka resleting celana jeans dan kukocokkan kontol yang sudah berdiri tegang dari tadi. Aaah…nikmat sekali. Seolah jari-jari yang mengocok kontolku ialah vagina tante yang sedang ku entot. Kini konsentrasi sudah tidak pada tubuh tante. Aku hanya bisa merem melek sambil membayangkan persetubuhan kami. Dan tiba-tiba…
“Bayu…..!!!” terdengar suara tante dengan raut muka cukup kaget.
Matanya tertuju pada penis ku yang tegak dalam genggaman jari-jari yang menyembul keluar dari resleting. Sontak air mani yang akan menyembur keluar terhenti secara tiba-tiba. Perasaan malu dan bersalah menjadi satu. Segera kumasukan penis berukuran 15 cm tersebut seraya membenahi jeans ku dan beranjak pergi ke kamarku. Sementara tante segera menutup tubuhnya dengan handuk bergegas ke kamarnya.
Di kamar, semua perasaan campur aduk. Rasa bersalah, malu, dan takut menyelimuti pikiran. Bagaimana kalau tante memberi tahu orang tua ku atau kepada paman. Atau mereka melaporkan ke pihak berwenang karena tindakan aku. Semua rasa cemas berkecamuk di dalam dada.
Tak berselang lama dari kejadian tersebut. Suara pintu kamar diketuk dari luar. Bergegas aku membuka pinte. Ternyata tante dengan daster batiknya. Nampak tidak ada raut marah di wajah tante. Yang ada hanya senyum, dengan sikap sedikit canggung.
Diajaknya aku ke ruang keluarga. Tidak ada tanda-tanda tante akan marah. Disuruhnya aku duduk bersebelahan denganya. Dan tante mulai berbicara. Diberikannya aku segala nasehat tentang kejadian tadi.
”Tante mengerti Bayu masih muda. hasrat-hasrat negatif selalu muncul pada masa-masa seusia Bayu. Cuma ada baiknya Bayu mengendalikan hasrat tersebut,” ujar tante dengan nada yang datar.
“Kejadian tadi Cuma kita yang tahu. Tante tidak akan bicara pada siapapun. Tante paham kondisi psikologis remaja seusia dik Bayu,” nasehat tante.
“Iya tante. Bayu nggak akan mengulangi lagi,” jawab aku seperti anak TK dinasehati guru.
“Tante boleh tanya?”
“Boleh tante,”
“Tapi kamu harus jawab jujur,”
“Iya tante…”
“apa yang kamu pikirkan saat onani tadi?”

Aku hanya bisa diam saja. Rasa malu membuat mulut ini sulit untuk menjawab. Sedangkan tante hanya bisa menunggu dan memandangi wajahku yang tertunduk malu. Karena desakan tante akhirnya aku jawab juga
“aku berpikir…saat itu aku menyetubuhi tante,” jawabku lirih
“Sudah lama kamu punya rasa ingin berbuat itu sama tante?” tanyanya lagi
“iya tante” jawabku jujur. Sementara tante terus memandangiku dengan senyum manisnya tanpa rasa amarah sedikitpun
“ya sudah…tante mau masak. Kejadian tadi tidak akan tante bicarakan siapa-siapa,” sambil memandangku sejanak dan memegang tangan ku sebelum akhirnya bergegas menuju kearah dapur.

Hari berikutnya, tidak ada yang berubah dari sikap tante kepada aku. Seolah kejadian yang aku alami tidak pernah terjadi. Sikapnya pun tidak ada yang berbeda seperti aku pertama kali datang untuk tinggal bersama keluarga mereka. Hanya akulah yang merasa canggung bila harus berhadap dengan tante.
Memasuki liburan semester, tak terasa waktu sudah berjalan setahun lebih. Dan nampaknya aku sudah lama melupakan kejadian tersebut dan hidup tanpa rasa canggung dan tetap normal ditengah-tengah keluarga mereka. Apalagi bila harus berhadapan dengan tante. Namun, aku masih memiliki hasrat untuk bisa bercinta dengan tante. menikmati setiap jengkal tubuhnya.
Pada saat liburan semester, setiap pagi setelah Ibram dan paman beraktifitas ke sekolah dan ke kantor mereka, hanya ada aku dan tante dirumah tersebut. Itupun aku pun sering ditinggal tante di rumah sendirian. Karena tak jarang tante pergi belanja untuk kebutuhan sehari hari. Seperti biasa, kalau belanja tante selalu menghabiskan waktu dua jam atau lebih.
Waktu liburan lebih kuhabiskan untuk bermain kerumah teman atau bermain game. Terkadang kalau sudah hasrat bergejolak, aku memutar BF di laptopku dan segera aku onani. Jika sudah mencapai orgasme aku terkulai lemas dan tidur.
Suatu pagi perasaan suntuk menyelimuti. Tante sudah pergi ke pasar 15menit yanglalu. Hasrat birahi lagi meninggi pagi ini. Seperti biasa BF lah pelariankku. Tetapi, aku ingin menyaksikannya di TV milik keluarga paman yang ada di ruang keluarga. Selain ukurannya cukup besar. Pastilah cukup mantap dibandingkan dengan menggunakan laptop.
Ku tonton adegan demi adegan. Rasa birahi sudah menyelimuti tubuh. Seperti biasa kontolku yang sudah berdiri kuusap-usap. Basah melumuri kepala penis. Tak puas, lalu aku bertelanjang bulat. Sambil berbaring di sofa. Setiap kocokan terasa nikmat. Menjalar ke syaraf syaraf otak. Sambil membayangkan tante terus kepercepat kocokanku.
Namun tiba-tiba, seperti ada pintu yang terbuka dari ruang tamu. Segera ku perhatikan. Ooh..tampaknya tante baru pulang dari belanja. Tumben, cepat sekali ia pulang. Aku berpikir cepat. Walau agak takut pikiran nakalku bermain.
Kenapa tante tidak marah padaku. Mungkin saja tante sebenarnya ingin mencoba rudalku ini yang mungkin lebih besar dari milik paman. Apalagi, paman setiap harinya selalu pulang larut. Berangkat pagi lagi. Apa mungkin kehidupan seks mereka berjalan baik.

“Aah masa bodo amat,” pikirku. Pura-pura tidak mengetahui kedatangan tante aku terus menyaksikan video itu. Dengan tubuh masih telanjang bulat sambil ngocok penis yang sudah memerah.
Dan seketika tante sudah berada di dekatku. Nampaknya tante cukup kaget. Kali ini dia menyaksikan tubuhku yang telanjang bulat dengan penis yang berdiri tegak. Sudah siap meluncur ke dalam kemaluan tante.
Aku berdiri. Menarik tangan tante dan menuntun tangannya untuk memegang kontol ini yang sudah kokoh berdiri.

”jangan bayu…tante ini istri pamanmu,” ujar tante sambil melepaskan tanganku dan melepaskan pula genggamannya terhadap penisku.
Tapi tante tidak beranjak. Ia tetap duduk disampingku sambil melihat penisku yang tegang.
“aku ingin bercinta dengan tante. Setiap hari aku selalu membayangkan tante,”
Tante yang nampak mulai gugup dan bimbang hanya diam saja. Walau aku yakin, pasti tante menginginkan kontol aku ini. Aku yakin tante sebenarnya ingin bermain seks dengan aku. Hanya saja pergolakan bantinnya saat ini sedang terjadi di dalam hati tante.
Taku bila nanti tante berubah pikiran. Maka ku tangkap tangan tante dan kuarahkan kearah penis ini “ayo tante kocokin. Udah nanggung nih,” tanpa basa basi sambil mendekap tubuh tante dan menciumi bibir tante yang tipis.
Tante tidak bisa berbuat apa-apa. Selain menerima serangan-serangan dari mulutku untuk menciumi bibir tante. Tanganku pun tak kalah sigapnya menggerayangi payudara tante yang masih bersembunyi dibalik busana dan Bh nya.

“eehmm…bayu…” hanya itu erangan yang bisa dilakukan.
Sambil penisku yang tegas menggesek-gesek paha tante. Tak lama tante melawan, akhirnya bisa kurasakan jari-jari tante mulai menguat mencengkram kontol ini. Lidahnya pun mulai membalas ciumanku. Dengan nafas yang tersengal-sengal tante mempercepat kocokannya. Dan lumatan bibir dan lidahnya semakin liar menari-nari.
“iiiih…..bayu. Ternyata nakal,” akhirnya tante berani bicara. Dengan cepat ia membuka busana yang menutup payudara.
Nampak di balik BH hitam menyembul payudara yang terlihat kuning mulus. Begitu kencang. Siap untuk dilahap.
Tanpa basa basi mulutku menciumi payudara yang belum keluar dari sarah BH nya.

”iiih bayu..sabar kenapa. Tante lepas dulu nih,”
Seolah tak pedulu aku langsung menjilati belahan payudara tante. Segera kubuka pembungkus payudara itu. Kini kedua payudara dengan puting hitam mengeras sudah dihadapan. Tak sabar segera remas-remas dan kujilati payudara yang kenyal tersebut.
“ooh..hmmmm….enak Bay, terus emut…oooh enak….aargghhh…” erang tante.
Sambil mengemut, ranganku mengelus-elus paha tante. Sesekali meluncur ke tonjolan di dua selangkan yang tak lain adalah vagina. Terasa sudah cairan mulai membasahi celana dalam milik tante. Ku masukan jari-jari ku dicelah celana dalam tante. Sementara lidahku, sibuk mengulum puting tante secara bergantian.
“eehmmm terus bay, enak…terus kocok memek tante,” pintanya. Dengan posisi terlentang di sofa tante hanya bisa pasrah.
Jari-jari kananku mulai memainkan klitoris tante, sementara mulutku asing ngempeng di buah dada tante yang kenyal.
Sesekali tangan tante memegang penis ku. Rasa geli menjalar ke sekujur tubuh saat tante memegang ujung kepala penis ku.
“aaarggghhhh….uuuhhh….aaaaahhhh…lebih kencang Bay. Enaaaakkk….ehmmmmm…”

Mendengar tante menegrang aku semakin bernafsu. Tak lama tubuh tante menggelinjang beberapa kali. Cairan hangat berwarna keruh keluar dari lubang vagina tante. tante meminta tanganku tidak berada di vaginanya
“ Geli Bay, cukup dulu….” pinta tante sambil tersenyum.
Segera iya membuka rok, CD, dan BH yang masih melekat. Yang ada adalah kini pemandangan bugil didepanku. Seperti mendapat durian runtuh. Apa yang diimpikan kini terjadi. Aku menyetubuhi tante Heni. Istri dari pamanku sendiri.
Disuruhnya ku berdiri. Tante heni lalu meraih kontolku. Dikocoknya penisku sejenak. Setelah itu, dikulumnya penisku dengan mulutnya. Rasanya tiada terkira. getaran getaran geli mengalir hingga keujung kepala. Mungkin ini yang dinamakan surga dunia. Makanya banyak orang begitu kecanduan dengan seks.

Selama 5 menit tante terus mengoralku. Dikulumnya setengah batang kemaluanku. Nampaknya tante sudah cukup mahir dalam melakukan ini 10 tahun perkawinan mereka selama ini aku bisa menkmatinya juga.
“aargghhh,. Geli tante…tante ada yang mau keluar. Aku gak tahan tante”
Tante terus menjilati ujung kepala dan seketika cairan putih kental mengalir dari ujung-ujung kepala penis. Membasahi wajah tante. dan sesekali tante menjilati cairan sperma yang membasahi kepala penis.
Aku hanya terkulai lemas dan duduk di atas sofa. Sementara tante asik memainkan penis dan mengocoknya.

Kami beristirahat 10 menit. Tante mengambilkan ku minum. Lalu menuju keruang depan untuk mengunci pintu depan. Ternyata begini kalau sudah durasuki setan. Sampai lupa untuk mengunci pintu. Bagaimana jika paman masuk. Bisa masalah rumah tangga orang. Bisa hancur hubungan keluarga kami.
Tante menyuruhku terlentang. Lalu menyoorkan kemaluannya tepat kemukaku. “jilat bay…tante pengen lagi.” Miski baunya memek begitu aneh, namun karena baru pertama kali ini melakukan bau tersebut membuat semakin bergairah.
Kujilati memek tante dengan lidahku. Rasa asin dan gurih menjadi satu ada di indera pengecapku. Tak berselang lama

“ouuh bay, tante keluar. lagi” sambil mengejang dan mengangkat vaginanya dari mulut ku.
“sini bay, cepet masukin memek tante. Tante mau orgasme lagi pake kontol kamu,”

Tanpa pikir panjang, inilah inti dari permainan ini. Surga dunia yang aku nanti-nantikan sejak dulu. aku langsung meluncurkan terpedo kedala lembah kenikmatan lubang tante. Tanpa halangan apapun kontol aku melesap kedalam memek tante. Tante hanya bisa mengerang saat aku menhentakkan pantat aku dan menekan-nekan. Setengah dari kontol ini masuk keliang vagina. Rasanya seperti ada yang menyedot. Begitu licin. Begitu nikat. Aku hanya bisa meremmelek dibuatnya
“terus bay…ouch…kontol kamu enak sekali…terus bay, aahh….aaah….tante nikmat,” erang tante.
“iya tante. Tempek tante enak banget. Seperti ada yang nyedot-nyedot,”

Dengan posisi terlentang tante semakin pasrah. Sementara aku semakin liar menggenjotnya. Sesekali menghisap puting dan juga mencumbu bibirya. Tante kembali mengerang. Tubuhnya menggelinjang. Otot-otot vagina mencengkram penis ku dengan kuatnya. Nikmat sekali rasanya. Diremasnya tubuhku dengan jari-jari tante. sementara genjotanku semakin kuat. Nampak tante kembali menggelinjang. Ia mengerang keenakan. Sementara terasa cairan tante menyebur pada kepala penisku. Aku sedkit melambatkan kocokan. Namun tak kucabut batang kemaluanku.
“kamu memang hebat bay, gak nyangka kamu bisa ngesex sehabat ini. Dibandingkan om, gak ada apa-apanya sekarang. Om sudah terlalu capai. Pulang Cuma minta ngentot sebentar sudah orgasme tidur” curhat tante
“pasti kamu sering main sam pacar kamu ya? “ tanya tante.

Persetubuhan kembali dilakukan. Kali ini aku minta tante nungging. Aku kepingin melakukan dogystyle seperti yang di film-film blue itu. Ternyata tidak semudah yang aku kira. Karena sering kali aku meleset dan kadang mengarah keanus membuat tante sering mengeluh kesakitan. Bokong tante yang mulus membuat birahi semakin memuncak.
“iiiih…gaya apa sih ini bay?” tanta tante. nampaknya selama ngentot sama suaminya. Dia tidak pernah melakukan gaya semacam ini.
“udah tante ikut aja.” suruhku

Cukup lama hingga pada akhirnya penis aku berhasil juga masuk kedalam vagina tante. terasa lain sensasi posisi ini. Ujung penisku begitu nikmat menyodok sampai ke dinding rahim. Menghentak-hentakan kepantat tante menimbulkan bunyi yang khas.
“enak sekali bay, iih rasanya geli banget…terus bay enak banget” ujar tante.
“ouuh…bay..terus bay. Tante suka. Kamu pintar bay…aarggghhh…tante pengen ngentot sama kamu terus bay”
“iya tante. bayu juga suka memek tante,”

Otak telah dipenuhi rangsangan nikmat dari dalam kemaluan. Keringat mengucur dengan derasnya dari kami berdua. Tante begitu menikmati sekali permainan kami.
“ouhh…aaah…yess….aaah…enak tante,”
“ayo terus bay cepet tate sudah mau keluar lagi nih…cepet bay,”
“sabar tante bayu juga mau keluar…kita keluar bareng…”
“ooooh iiiiih…uuuh…aaah,”
“baay tantee sudah gak tahan mau keluar… aouuh…aah…arggh….hmmm”
“iya tante. kita keluar sama-sama”

CROOOOOT…CROOOOT….CRIIIIIITTTT….CRUUUUTTTT….CRIIIIITTT….CREEEEETTT….CREEEEETTTT….
Cairan mani menyemprot dinding rahim vagina tante. berkali-kali semburan itu. Rasanya begitu nikmat. Seperti listrik yang menyengat keseluruh tubuh. Rasa geli tiada tergambarkan.
Sementara tante terus mengerang. Terkulai lemas. Kita pun berbaring berdua di sofa ruang keluarga. Tak terasa waktu sudah jam 1 siang. 3jam lebih aku dan tante mengumbar nafsu. Tante memandang kepadaku dan tersenyum. Kuciumi payudara tante.
Sementara penisku yang sudah dua kali ejakulasi mengecil. Nampaknya ia juga perlu beristirahat. Selama satu jam kami tidur. Bel rumah berbunyi. Bergegas kami berpakaian. Tante segera memakai pakaiannya dan membukakan pintu. Ternyata ibram datang dari sekolah. Aku hanya bertatap mata dengan tante. aku tersenyum dan tante membalas dengan senyum genitnya menandakan kepuasan dan memberikan kesempatan untuk melakukannya kembali.
Aku beranjak ke kamar tidur. Membayangkan kejadian yang baru saja terjadi. Rasa percaya dan tidak percaya. Meyakini bahwa ini bukan mimpi. Hingga aku kembali tertidur karena capai yang begitu sangat. – Tante Heni

Related Posts:

0 Response to "Tante Heni"

Posting Komentar